'nBASIS

Home » ARTIKEL » KOALISI ITU TAK RUMIT

KOALISI ITU TAK RUMIT

AKSES

  • 538,550 KALI

ARSIP


Jika kami tak dapat wapres bagaimana jika ketiga Menko itu untuk kami saja? (Rakus benar ya? Tetapi itu sesuai watak kehausan partai atas kekuasaan). Ada sejumlah menteri, dan kita pun bisa mengidentifikasi mana kementerian penghasil terbesar untuk partai


Jangan terkecoh, dan jangan percaya bahwa koalisi itu rumit. Tidak. Sungguh. Tak rumit. Urusannya cuma “seni” atau tepatnya kiat berbagi di antara agen-agen atas nama partai. Rumusnya kira-kira begini:

  • Peserta koalisi (wibawa dan bandrolnya terkait dengan posisi partai berdasarkan hasil pileg 9 April 2014) yang mendapat wapres tak boleh banyak berharap kecuali sekadar prestise. Kan tak begitu penting Wapres itu di Indonesia selain untuk seremoni tak penting dan pemenuhan persyaratan konstitusi? Dengan memiliki Wapres di kabinet, sebuah partai diperkirakan akan sulit melakukan perampokan uang Negara. Ia sekadar ban serap saja dalam sebuah mobil. Jika Anda dapat membayangkan mobil Anda, dalam setahun pernah berapa kali gerangan menggunakan ban serap itu?
  • Karena faktanya anggaran partai hanya mungkin diperoleh melalui perselingkuhan dan perampokan uang negara (dan ini kurang lebih sudah terbuktikan selama KIB I dan KIB II), maka inti koalisi pun harusnya ke masalah bagi-bagi Kementerian dan lembaga strategis lainnya. Memang inilah arena sesungguhnya.

Catatan penting lainnya yang memperumit proses koalisi ini ialah trauma sejarah. Peserta koalisi yang mendapat wapres hanya bisa memiliki harapan pemakzulkan Presiden agar naik menjadi Presiden. Di antara sesama penggantang kekuasaan tak dipantangkan berbicara dan “berkelahi” saling mengkhianati demi kekuasaan dan uang.

Ayolah kita hitung bakal capres yang kelihatannya memiliki sisi lemah paling besar untuk dimakzulkan dalam pemerintahan ke depan nanti. Kecemasan pastilah terbersit paling besar dari kubu itu.

Satu lagi, bahwa selain Wapres, bagaimana dengan Menko yang tiga itu (Menko Ekonomi, Menko Politik dan Menko Kesra)? Menko itu kan semacam “presiden setengah” dalam fakta (1) iklim feodalisme pemerintahan (2) kemungkinan ketidak-cakapan Presiden dan (3) peluang Presiden untuk seakan tak perlu bertanggungjawab dan tak mesti tahu substansi masalah maslahat rakyat.

Jika kami tak dapat wapres bagaimana jika ketiga Menko itu untuk kami saja? (Rakus benar ya? Tetapi itu sesuai watak kehausan partai atas kekuasaan). Ada sejumlah menteri, dan kita pun bisa mengidentifikasi mana kementerian penghasil terbesar untuk partai.

Itulah koalisi. Terserah apa kata mereka.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: