'nBASIS

Home » ARTIKEL » RENUNGAN HARDIKNAS

RENUNGAN HARDIKNAS

AKSES

  • 538,914 KALI

ARSIP


Pendidikan Untuk Peradaban Indonesia yang Unggul. Itulah tema peringatan Hari Pendidikan Nasional tahun ini, 2014. Sambil bersyukur atas capaian yang baik-baik, marilah sedikit merenungkan berbagai hal tentang pendidikan kita. Peradaban seperti apa yang sedang akan terbentuk dengan kondisi yang sekarang ini.

(1) Seorang guru kelihatan amat tergopoh-gopoh sambil berlari ke pintu pagar sekolah untuk menyongsong seorang murid lelaki bertubuh bongsor yang diturunkan dari sebuah mobil mewah. Mobil berkaca hitam itu hanya berhenti sejenak. Siapa pun yang ada di dalamnya, tidak kelihatan dari luar. Tetapi guru yang tergopoh-gopoh itu rasanya ingin sebuah perhatian dari dalam. Ini jelas, karena murid lain yang hampir bersamaan masuk dengan si bongsor diacuhkan saja, atau dengan sikap tak se takzim kepada anak bongsor yang keluar dari mobil mewah.

Orangtua murid lainnya yang tiba hampir bersamaan dengan mobil mewah tak kelihatan merasa tersinggung. Sudah lazim. Mereka pun merasa sudah seharusnya tak usah ribut didiskriminasi seperti itu. Bukan karena mereka suka, melainkan merasa tak berdaya saja.

Memang si bongsor ini tercatat selalu membawa hadiah untuk semua guru saat Hari Guru. Juga saat menjelang lebaran. Mungkin sekolah akan merasa sangat kehilangan jika si bongsor ini nanti tamat.

(2) Absenmu sudah 23. Tidak ada solusi. Kamu harus pindah dari sekolah ini. Itu kata guru kelas bersama guru BP dan di sebelah lain Kepala sekolah senyam-senyum memperkaya wibawanya di depan murid dan orangtuanya yang terpaku merenungi nasib dengan ketak-berdayaan. Mulailah diurai: Tanggal sekian kamu masuk terlambat. Murid membantah. Saya hanya masuk setelah pak guru masuk 36 detik saja. Guru berkata galak: Itulah, 20 kali kejadian seperti itu. Murid menyerah dan berkata: saya ingin kalian rubah sekolah ini sekolah fasistik dan militeristik saja. Tak saya temukan kefahaman kalian sebagai pendidik. Kalian adalah tamatan industri sekolah guru yang memerankan diri dalam pakem robotik sesuai industri pendidikan. Merdekalah kalian. Makan uang sertifikasimu. Kalian bukan bangsa Indonesia. Kalian hanyalah buruh industri yang tersandera kepentingan naif dan ringsek.

(3) Absenku 23. Aku harus pindah, kata murid itu kepada guru BP dan Wali Kelas yang disebelahnya ada Kepala Sekolah senyam dan senyum bangga dengan aturannya yang kaku. Lalu, kata murid itu, kemanakah aku akan pergi? Apakah kalian menganggap kalian bukan pendidik? Jika kalian membuang aku dari skolah ini, tentu kalian hanya ingin tak ternoda dalam fakta noda-noda besar yang tak pernah dapat disembunyikan. Aku akan pindah, dan kalian akan membuat rekomendasi pindah. Aku tahu di sebelah kelas ada cerita, anak yang tak naik kelas di sini juga kalian beri rekomendasi pindah agar di sekolah baru naik kelas. Bangsatnya kalian semua kurasa.

(4) Di beranda depan, si bongsor kesayangan bercerita kepada ayah dan ibunya. Aku pasti luluslah. UN itu beban guru. Beban sekolah. Aku diajari supaya bisa menjawab. Masak kalah lagi kan pak? Aku harus ke ITB atau ke IPB atau ke UI atau ke UGM. Rapor aku kan sudah ditukangi dari awal. Aku kuliah ke sana ya pak. Mobilku yang lama tak usah aku bawa. Dibeli baru aja di sana kan pak? Di pinggir beranda ada tikus yang menyimak dan dalam hati tikus itu berjata: urut ni amamu!!

(5) Perguruan tinggi negeri mencari uang. Buka D1, D2, D3, dan macam-macam program lainnya seperti extention. Mereka berburu uang. Industri ijazah. Mereka tak mau tahu tak memiliki capaian apa pun dalam ilmu pengetahuan. Mereka memproduk budak-budak baru untuk kapitalis. Di sana sejumlah titel berseliweran. Prof.Dr, Ir, dan lain-lain yang para penyandangnya tak sehebat sebutan titelnya. Mereka budak aneh yang memusuhi negaranya melalui kelembagaan pendidikan yang mereka kuasasi seperti kerajaan.

(6) Koruptor di negeri ini bisa ditrace memiliki ijazah dari mana. Perguruan tinggi mereka tak perlu dibubarkan karena begitu gencar memproduk anak manusia yang jahat. Kita hanya perlu membuat baliho raksasa tentang apa visi dan misi mereka. Pendidikan tanpa akhlaqul karimah, itu sebuah keniscayaan.

(7) Indonesia hingga kini hanya memiliki warga yang masa pendidikan rata-ratanya sekitar 7-8 tahun. Berarti rata-rata setara SMP sajalah. Indonesia juga menyimpan dendam kepada orang miskin. Membiarkan mereka tak memiliki guru yang cukup dan cakap. Juga membiarkan murid belajar di dalam ruangan yang setiap saat siap runtuh.

(8) Upacara bendera harus membaca Pancasila. Menyanyikan Indonesia Raya. Ritus pengkhianatan yang sangat lengkap melukiskan tujuan berbangsa dan bernegara yang selalu diselewengkan.

(9) Berapa sekolah dan perguruan tinggi yang rutin membunuh siswa atau mahasiswanya di negeri ini? Mereka adalah pewaris ketahanan nasional yang menyalah. Kata mereka produk mereka perlu kuat. Lihatlah naifnya negeri ini memberi (kepada drakula) kepercayaan membina generasi mudanya.

(10) Ketika JIS menampakkan keasliannya, Kemendikbud merasa benar berkata kasar dan keras: Tutup. Puluhan tahun tak ada izin. Ia merasa perlu melakukan itu karena ia bukan orang yang bertanggungjawab. Bagiku, Menterinya harus bunuh diri dua atau tiga kali di depan istana negara barulah tertebus dosa dan kesalahannya.

(11) Dulu ada guru bantu. Ada lagi guru honorer. Dari segi pembinaan, tenaga kerja ini diperlakukan seperti PNS biasa. Ada dispilin, ada DP3 dan semua perangkat penilaian. Sudah mengabdi bertahun-tahun malah tak diberi kesempatan menjadi PNS. Mungkin karena tak sanggup menyogok. Padahal orang sehat akal harus menganggap komponen inilah prioritas untuk diangkat menjadi PNS.

(12) Dua puluh persen dari total APBN dan APBD adalah anggaran untuk pendidikan. Dari pusat sampai ke daerah semua diselewengkan. Ada akal-akalan yang membuat mereka bisa membelanjakan anggaran itu tanpa melihat ruh ketentuan UUD 1945 yang mengatur alokasi anggaran pendidikan.

(14) Di suatu saat di tengah istirahat. Lima guru berbincang tentang sekolah anaknya setelah mereka tamatkan. Semua ragu sekolah. Karena tanpa bimbingan belajar di luar, mereka tak yakin anak mereka lulus ke PTN. Ada juga mereka selenggarakan les tambahan di sekolah. Itu pun tak membuat mereka yakin anak didiknya termasuk anak kandungnya bisa masuk PTN. Yang mereka yakin hanyalah, ada uang tambahan dari les di sekolah itu.

(14) Pendidikan kita ini mungkin benar (a) penundaan pengangguran (b) upaya mempertahankan kelas (c) persiapan budak industrial milik para pemodal.

Selamat hari Pendidikan Nasional. Sadarlah Indonesia. Jangan cuma puas karena UN yang bagai orang yang tak memiliki sepatu, celana dan baju tetapi bersemangat menggantungkan dasi di leher.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: