'nBASIS

Home » ARTIKEL » PRESIDEN YANG TAK MENYANDERA RAKYAT

PRESIDEN YANG TAK MENYANDERA RAKYAT

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


PILPRES

Capres mana yang paling dikhawatirkan akan membuat negeri ini makin tergadai kepada asing dan semakin mengukuhkan kesenjangan yang parah di antara segelintir warga yang diistimewakan dan rakyat banyak yang terus menerus menderita di tanah air sendiri?

Kita tentulah tidak mungkin menyepakati agar semua partai papan tengah dan papan bawah dibagi tiga saja dan masing-masing bergabung untuk mencukupi syarat pengusungan secara bersamaan tiga Capres Jokowi, Abu Rizal Bakri dan Prabowo Subianto. Jangan pula dianggap tak perlu membayangkan capres alternatif di luar ketiga orang itu.

Siapa gerangan paling berpeluang ikut pilpres dan siapa yg paling tak berpeluang? Adakah di antara ketiga figur itu yang nanti terpaksa memilih posisi Wapres ketimbang tak dapat apa-apa?

Tetapi urusan negeri ini tentulah bukan sekadar ingin menunggu dilantiknya seorang Presiden dan Wakil. Ada sejumlah kekhawatiran negeri ini, bukan saja karena bengkakan hutang yang jumlahnya fantastik yang bakan diwariskan kepada kepemimpinan 2014-2019.

Marilah kita mulai serius bertanya, capres mana yang paling dikhawatirkan akan membuat negeri ini makin tergadai kepada asing dan semakin mengukuhkan kesenjangan yang parah di antara segelintir warga yang diistimewakan dan rakyat banyak yang terus menerus menderita di tanah air sendiri? Palingkan muka dan tutup hati darinya, sebab pada dasarnya ia adalah musuh negerinya sendiri. Musuh kita.

Capres yang mana yang paling dapat diharapkan merubah keadaan menjadi lebih adil dan tanpa diskriminasi, agar rakyat Indonesia dapat menjadi tuan di negerinya sendiri? Itulah sahabat kita, harapan kita. Entah ada atau tidak di antara nama-nama yang sudah digadang-dagang saat ini.

  1. Kita ingat masih zaman ketika Soekarno, selain ada nasionalisasi aset, ada juga kebijakan ekonomi Benteng yang kurang lebih tujuannya ialah tak sekadar mengadvokasi pribumi dan memfasilitasi untuk bersaing dalam dunia usaha dengan non pribumi yang sudah terlanjur dimanjakan oleh penjajah Belanda. Rakyat diinginkan menjadi tuan di tanah yang diperjuangkannya sendiri dengan darah dan air mata. Kita tahu sebelumnya (Belanda) memberlakukan diskriminasi, bukan saja dalam pemberlakuan hukum yang berbeda untuk Belanda dan orang asing lainnya, untuk orang Timur Asing dan untuk pribumi.
  2. Ide mendorong pribumi itu tampaknya diikuti dengan sukses oleh Malaysia, sampai sekarang. Tetapi Ekonomi Benteng gagal di Indonesia. Apa sebab? Zaman Soeharto peran minoritas yang dimanjakan seperti zaman kolonial Belanda, dilanjutkan dengan senanghati. Presiden sesudahnya tak dapat diberi catatan sekecil apa pun tentang pembelaannya terhadap rakyat, apalagi menyelamatkan aset negeri ini dari penguasaan asing dan sekelompok kecil warga negara yang selalu diistimewakan. Bukankah kini negeri ini sudah jatuh dalam kekuasaan asing? Siapa yang bersedia dan mau berjanji menghabpus diskriminasi ini agar misalnya nama Paijo dan Paijem sesekali bertengger juga dalam publikasi lembaga-lembaga terpercaya sebagai orang terkaya Indonesia (di negerinya).
  3. Kapitalisme di Indonesia yang tumbuh saat itu disebut erzats capitalism, karena kekoncoan dan perlakuan-perlakuan politik yang amat khusus kepada pelaku bisnis yang diistimewakan dan dimanjakan itu. Itu diskriminasi yang amat menelantarkan nasib rakyat banyak.
  4. Bagaimana ingin membantah bahwa salah satu masalah yang paling serius di Indonesia saat ini ialah kesenjangan dan tirai kemiskinan yang makin tebal? Jika melihat ke belakang, banyak kasus yang memicu konflik keras secara horisontal dan itu pasti menjadi ancaman serius pula ke depan. Semua berlatar belakang kecemburuan sosial disebabkan kesenjangan itu.


Sekali lagi, capres yang mana yang paling dapat diharapkan merubah keadaan menjadi lebih adil, agar rakyat dapat menjadi tuan di negerinya sendiri?
Capres mana yang harus diwaspadai akan menggadai negeri ini menjadi “tak milik” kita?

Pelik memang, karena masalah ini tak lagi bisa didiskusikan dengan para pemimpin dan aktivis partai, karena kepentingan mereka yang sudah lebih kuat ingin mengubah NKRI menjadi “Negara Kepartaian Republik Indonesia”. Tetapi faktanya tak akan ada presiden yang lahir dari kepentingan rakyat.

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: