'nBASIS

Home » ARTIKEL » JUSUF KALLA (JK)

JUSUF KALLA (JK)

AKSES

  • 512,201 KALI

ARSIP


Saya mencatat keistimewaan JK sebagai seorang negarawan yang untuk saat ini seolah tak memiliki tandingan di tanah air. Tak ingin kultus dan mengagungkannya secara gelap mata, catatlah juga kemungkinan berbagai hal yang pernah menjadi rekomendasi negatif terhadap dirinya. Ia bukan malaikat, tentu saja.

Tetapi saya percaya, Indonesia membutuhkan karakter seperti JK untuk memimpin dan membawa Negeri ini keluar dari keterpurukannya. Tiga masalah besar Indonesia saat ini tak mungkin dipikirkan oleh figur lain, ialah:

1. Kedaulatan politik:
2. Kedaulatan ekonomi;
3. Korupsi sistemik yang tak mungkin diharapkan reda di tangan KPK.

Tetapi “sayangnya”, sekali lagi “sayangnya”, ia seorang non-Jawa yang berdasarkan sejarah dan sistem pemilihan langsung yang kita anut tak mungkin menjadi presiden RI mengingat pemilih Jawa sebagai mayoritas dan tak toleran atas kemungkinan Presiden non-Jawa. Meskipun sebetulnya ada peluang Indonesia beroleh kesempatan terakhir memanfaatkan integritas dan kemampuan JK untuk mempercepat proses solusi Indonesia dengan menggandengnya sebagai cawapres. Ingatlah selama pemerintahan KIB I JK telah memeragakan sebuah dekonstruksi jabatan wapres yang bukan cuma ban serap. Tetapi apa boleh buat, orang seperti ARB saja yang dengan perolehan partai (Golkar) pada urutan kedua dalam pileg 2014, malah dianggap tak layak mencalonkan diri karena basis dukungan Jawa yang masih diskriminatif itu.

Melihat situasi menjelang penetapan capres oleh koalisi parpol sekarang ini, saya sangat ragu apakah semua kekuatan dan jaringan di balik Jokowi tidak justru ketakutan jika merekrut JK sebagai cawapres?

Jokowi mungkin dapat diatur dan disuruh “duduk manis” oleh kekuatan yang dicurigai berada di balik pensosokannya sebagai manusia paling misterius Indonesia abad ini (Walikota yang tak pernah dikenal luas, tiba-tiba menjadi calon Gubernur di DKI, Menang dan tak lama kemudian menjadi Capres paling populer, dan meski sangat terkesan tak faham banyak hal tentang Indonesia dan bajkan Jakarta, namun ia kerap dianggap lebih pantas karena blusukan sebagai jimat), tapi JK akan menerima resiko politik apa pun untuk mempertahankan integritas dan pembelaannya terhadap Indonesia.

JK tak akan selunak HB IX yang memilih tak mau lagi direkrut oleh Soeharto untuk menjadi Wapres. JK tidak akan sehalus Bung Hatta yang memilih berhenti wapres karena tak membayangkan akibat-akibat yang tak akan dapat dipertanggung jawabkan di hadapan rakyat Indonesia jika tetap mendampingi Soekarno yang lama-lama tak lagi konsisten dan tak lagi “Indonesia”.

JK sesungguhnya sangat dapat diandalkan dan tak akan segan mengorbankan kesenangan harmoni jika harus kehilangan integritas. Itu artinya JK tak akan dapat diam melihat kejadian seperti kasus century.

Ia sangat cocok dengan ungkapan yang dipopulerkannya “lebih cepat lebih bagus”.

 

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: