'nBASIS

Home » ARTIKEL » ANCAMAN PENTOLAN PARKINDO

ANCAMAN PENTOLAN PARKINDO

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


Apa? Sabam Sirait marah? Kepada siapa ia marah? Ya, dikabarkan sesepuh dan pendiri PDIP ini dengan penuh amarah telah menyatakan penolakannya terhadap rencana penetapan Jusuf Kalla (JK) menjadi calon wakil presiden untuk mendampingi Jokowi. Apa ia cukup berani memarahi “pemilik” PDI-P (Mega) dan “pemilik” Nasdem (Surya Paloh) dan “pemilik” PKB (Muhaimin Iskandar)? Emang siapa dia ya?

  1. Baginya memasangkan Jokowi dengan JK dalam pilpres ini adalah awal dari sebuah kesalahan besar. Juga menjadi sangat tak termaafkan apalagi masih akan bergandeng-tangan dengan Golkar. Mengapa? Dalam rilis yang disebar oleh Sabam Sirait ditegaskan bahwa langkah itu menunjukkan bahwa PDIP serta-merta sudah melupakan sejarah penindasan Orde Baru dan Bung Karno yang meninggal dalam tahanan orde baru (Minggu (18/5). Ia mungkin lupa banyak hal, termasuk fakta bahwa Golkar tak sesederhana itu berpikir. Golkar biasa pasang “sebanyak mungkin kaki”. Jika menang, JK pastilah memperjuangkan kepentingan partainya sebagaimana tercermin dari pengalaman KIB I. Pada pemilu 2004 itu SBY-JK memenangi pilpres. Setelah itu malah JK menjadi Ketum Golkar meski ia sudah mengalahkan calon Presiden usungan partainya sendiri.
  2. Sabam Sirait secara implisit menuduh PDIP telah terjebak dalam arus komodifikasi partai. Karena itu ia sangat menolak menjadikan uang sebagai tolok ukur untuk penetapan pendamping Jokowi. “Saya mendengar JK menyiapkan Rp10 triliun untuk membiayai pilpres jika dia jadi cawapres, saya mengingatkan PDIP agar tidak tergiur dengan iming-iming uang, karena PDIP berkomitmen membangun politik tanpa money politic, dan saya mengingatkan kembali bahwa PDI Perjuangan didirikan untuk tidak diperjual belikan,” kata Sabam. Apakah dengan tanpa uang seperti itu Jokowi bisa membiayai sendiri pencapresannya? Bukankah perhelatan politik seperti ini sesuatu yang menjadi peluang empuk bagi pemastian usaha para sponsor termasuk para pengusaha hitam? Malah banyak pihak sangat meragukan Jokowi hanya sebagai boneka belaka bagi para konglomerat hitam. Proses penunjukan Jokowi sendiri oleh Megawati yang meski seorang Ketua Umum pada sebuah partai, tentu saja sangat terbuka dipertanyakan apakah karena distir dan oleh para konglomerat hitam itu. Artinya Sabam Sirait menyembunyikan alasan kebencian sesungguhnya terhadap JK. Ia mungkin kini merasa gagal karena PDIP yang semestinya menjadi wadah perjuangan anti Islam tak lagi bisa seleluasa yang dikehendakinya. Ia tentulah tahu siapa JK dengan kapasitasnya yang sudah sangat teruji. Ia bisa menjadi real president sebagaimana pengalaman KIB I.
  3. Dengan rencana penetapan JK menjadi pendamping Jokowi, bermakna Sabam Sirait akan kehilangan harapan terbaiknya dalam pilpres 2014. Baginya pasangan yang tepat bagi Jokowi hanya satu dari dua nama, yakni Mahfud MD atau Abraham Samad, dengan alasan bahwa keduanya merupakan orang bersih, jujur dan bisa dipercaya untuk mendampingi Jokowi.

Sabam Sirait adalah tokoh Parkindo (Partai Kristen Indonesia) yang ikut fusi ke dalam partai baru PDI di zaman Soeharto (bikinan Soeharto). Segera ia akan menyampaikan pengunduran diri dari PDIP sebagai reaksi atas pemasangan Jokowi-JK. Ia juga akan membawa teman-teman sesama mantan pentolan Parkindo dalam perlawanan ini.

Proyeksi. Rasanya agak mengada-ada jika sejarah penindasan orde baru dan Bung Karno yang meninggal dalam tahanan orde baru dijadikan sebagai alasan penolakan pemasangan JK sebagai pendamping Jokowi oleh Sabam Sirait. We all made by Soeharto, begitu yang saya dengar dari seseorang ketika menyanggah seseorang lain yang pernah dengan picik menyebut-nyebut Orde Baru sebagai momok dalam kehidupan bernegara, sama halnya dengan rezim Orde Baru yang memomokkan Orde Lama.

JK itu bukan orang Jawa, dan jika ia akan menjadi wapres berpasangan dengan Jawa yang mana pun, ia akan mendekonstruksi jabatan wapres itu menjadi sesuatu yang penting dan bermakna bagi Indonesia. Kita sudah mencatat banyak hal hingga teriakan “perampokan uang Negara” dalam kasus bank century yang belakangan kelihatan sudah melangkah ke babak baru, di samping ketidak-sediaannya ewuh pakewuh mengamini hal-hal yang dirasakannya sebagai lari-lari di tempat dan apalagi penyimpangan dalam tubuh pemerintahan. Ia melawan SBY dan yang disebut terakhir itu benar-benar merasa kehilangan marwah selama pemerintahan KIB I (tentu tak mesti dikaitkan dengan suasana kebathinan (galau) SBY apalagi tak mesti dikaitkan dengan 4 album lagu yang beliau hasilkan selama menjadi Presiden RI).

Membandingkan JK dengan Mahfud MD jelas tak sedap. Mahfud MD itu ya Mahfud MD, tak akan segalak JK dalam meluruskan penyimpangan yang mesti dikoreksi. Ingatlah apa yang terjadi di tubuh MK yang jika menelaah kasus-kasus yang ditimpakan kepada mantan Ketua yang terjerat banyak kasus itu kita pun menjadi sedikit terbuka bahwa mengapalah Mahfud MD bisa nyaman dengan orang seburuk itu? Bahkan banyak kasus kini terungkap menjerat mantan ketua bermasalah itu justru saat MK masih dipimpin oleh Mahfud MD. Padahal mencuatnya nama Mahfud MD dalam arena pencapresan kali ini ialah karena rakyat berharap akan hadirnya seorang galak yang mampu membungkam korupsi. Begitu kan?

Apalagi Sabam Sirait membandingkan JK dengan Abraham Samad yang kelihatannya setelah dipanggar (digembar-gemborkan) sebagai salah satu nama pendamping Jokowi sudah kelihatan sekali hilang keseimbangan. Ia malah terlihat sukar mengingat missi suci lembaga superbody pemberantasan korupsi yang dipimpinnya. Menangkap presiden saja mestinya KPK itu wajib (jika memenuhi syarat), jadi apa hebatnya jadi Wapres? Terlihatlah kelas Abraham Samad dari  kasus pencapresan ini, dan bagi saya dari kasus ini mestinya dapatlah sekaligus diketahui kadar kesetiaan pada cita-cita lembaga dan obsesi-obsesi yang mencerminkan integritas KPK. Ya, komosioner lain di KPK pasti dapat sangat wellcome atas rencana itu. Mengapa? Jika Abraham Samad pergi, akan digantilah posisinya oleh figur lain. Sedap itu kan?

Kepentingan Siapa? Siapakah di belakang pencapresan Jokowi? Pertanyaan itu malah harus diteruskan kepada pertanyaan lainnya, yakni sesiapa di belakang Jokowi yang sejak pencalonan menjadi Gubernur DKI tampak begitu misterius? Jangan-jangan terganggunya kepentingan pihak-pihak itulah (dengan memasangkan JK) yang sedang diteriakkan oleh Sabam Sirait. Pertanyaannya, mengapa Mega yang selama ini berperan sebagai The King Can Do No Wrong menjadi salah sesalah-salahnya di mata Sabam Sirait? Padahal ketika mencalonkan Jokowi dengan sepucuk surat tulisan tangan, tidak ada yang ribut sama sekali, termasuk Sabam Sirait. Bukankah partai berlabel demokrasi mestinya tahu bermusyawarah dan tak mengagungkan seseorang dalam pengambilan keputusan? Ha ha.

Apa yang terjadi gerangan? Bukankah lazimnya politisi-politisi belakangan ini dari tanah Batak lebih memililih manut-manut sambil hipokrit di depan sang premus interpares agar dengan itu hipokritas diganjar oleh figur yang diposisikan sebagai pemimpin “setengah ilahi?”. Periksa di partai ini dan di partai lain, gaya yang sama terjadi. “Petunjuk ibu”, padahal ia sendiri yang mungkin mengarang sesuatu yang diklaim sebagai pokok pikiran si ibu. Padahal semua orang tahu si ibu (sayang sekali) kerap tak memiliki pengetahuan dan pemahaman sama sekali terhadap sesuatu yang diklaim sebagai petunjuknya itu. Anda tentu masih sangat ingat sesiapa yang berlakon serupa ini di partai lain. Geli. Tetapi efektif buat memosisikan diri mereka. Ha ha.

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: