'nBASIS

Home » ARTIKEL » MASJID DI MATA TIM SUKSES JOKOWI-JK

MASJID DI MATA TIM SUKSES JOKOWI-JK

AKSES

  • 541,646 KALI

ARSIP


inter PDIP

Banyak bentuk politik anti Islam telah berlangsung sepanjang sejarah di Indonesia. Pada zaman kolonial Belanda, dengan diarsiteki oleh Snouk Hurgronje, permusuhan terhadap Islam dilakukan dengan tak hanya mengeliminasi umat Islam, tetapi juga mendorong musuh-musuh Islam untuk lebih giat dalam berbagai aktivitas missionaris untuk tujuan pemurtadan dan lain-lain.

Apa yang dilakukan oleh Tim Sukses Jokowi-JK hanyalah perulangan sejarah belaka. Menginteli masjid dan merekam khutbah, karena yakin atas tuduhannya bahwa di mesjid itu kerap terjadi kampanye hitam terhadap Jokowi, bukan hal baru. Yang baru adalah pekerjaan itu justru dilakukan oleh sebuah partai politik, sedangkan yang dulu-dulu kelompok ataupun orang-perorang yang ditugasi hanyalah pekerja yang diperintahkan oleh “negara”.

Dalam sebuah resensi atas buku Politik Islam Hindia Belanda, (H.Aqib Suminto, Penerbit LP3ES, Tahun 1985), secara rinci dijelaskan apa peran Snouck Hurgronje dalam kedudukannya sebagai Arsitek Politik Islam Hindia Belanda. Dasar pemikiran yang dia tegaskan adalah:

  • Musuh Kolonialisme bukanlah Islam sebagai agama, melainkan Islam sebagai doktrin politik.
  • Snouck Hurgronje membedakan Islam dalam artu “ibadah” dengan Islam dalam arti “kekuatan sosial politik”. Dengan membagi masalah Islam atas tiga katagori  (1). Bidang agama murni atau ibadah; (2). Bidang sosial kemasyarakatan dan (3). Bidang politik; dimana masing-masing bidang menuntut alternatif pemecahan masalah yang berbeda. Resep inilah yang kemudian dikenal sebagai Islam Politiek, atau kebijaksanaan pemerintahan kolonial dalam menangani masalah Islam di Indonesia.
  • Politik Islam yang menurut Snouck Hurgronje yaitu (1). Terhadap dogma dan perintah hukum yang murni agama, hendaknya pemerintah bersikap netral. (2). Masalah perkawinan dan pembagian warisan dalam Islam, menuntut penghormatan. (3). Tiada satupun bentuk Pan Islam boleh diterima oleh kekuasaan Eropa.
  • Prinsip politik Islam Snouck Hurgronje  di bidang kemasyarakatan adalah menggalakan pribumi agar menyesuaikan diri dengan kebudayaan Belanda demi kelestarian penjajahannya. Ini dikenal dengan Asosiasi Kebudayaan ( Istilah Asosiasi mengandung maksud mengikat daerah jajahan dengan negeri penjajah) . Snouck Hurgronje adalah seorang yang mendambakan kesatuan antara Indonesia dan Belanda dalam satu ikatan Belanda Raya.
  • Dalam rangka menerapkan politik asosiasi Snouck Hurgronje memprakarsai pendidikan anak-anak bangsawan. Pada tahun 1890 ia memperoleh murid pertama Pangeran Aria Ahmad Djajadiningrat (Hoesein Djajadiningrat) (lahir 1877), anak Bupati Serang yang dengan susah payah berhasil ditempatkan di sekolah Belanda (ELS dan HBS) setelah diubah namanya menjadi Willem van Banten.
  • Snouck Hurgronje optimis bahwa Islam tidak akan sanggup bersaing dengan pendidikan Barat. Agama islam dinilai sebagai beku dan penghalang kemajuan, sehingga harus di imbangi dengan meningkatkan taraf kemajuan pribumi. Maka pendidikan Barat diformulasikan sebagai faktor yang akan menghancurkan kekuatan Islam di Indonesia.
  • Tentang Mukimin Haji dan Kota Makkah, Snouck Hurgronje menyimpulkan, “ di kota Makkah inilah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darahsegar ke seluruh tubuh penduduk muslimin di Indonesia”. Usulan Snouck Hurgronje kepada para pejabat kolonial, yakni dengan cara mengalirkan semangat pribumi ke arah lain. “ Setiap langkah pribumi menuju kebudayaan kita, berarti menjauhkan dari keinginan untuk naik haji” .

Kantoor voor Inlandsche zaken. Kalau Snouck Hurgronje dinilai sebagai peletak dasar politik Islam pemerintahan kolonial Hindia Belanda, maka Kantoor voor Inlandsche zaken merupakan alat untuk melaksanakan ide Snouck Hurgronje tersebut. Kantoor voor Inlandsche zaken – yang berwenang memberikan nasehat kepada pemerintahan dalam masalah pribumi- berdiri sejak tahun 1899 yang tahun di ambang fajar kedatangan Etische Politiek .

Jabatan Penasehat atau Komisaris Urusan Pribumi dipegang oleh (1). Dr.C.Snouck Hurgronje (1899-1906); (2) Dr.G.A.J. Hazeu (adalah murid dari Snouck Hurgronje) (1907-1913) dan 1917-1920; (3) Dr.D.A. Rinkes (1914-1916); (4) R.A. Kern (1921-1922 dan 1924-1926); (5) E.Gobbe (1923 dan 1927-1937); dan (6) Dr.G.F.Pijper (1937-1942).

Reaksi Umat Islam. Pada zaman Orde Baru hal yang mirip dengan cara-cara PDIP ini mengingatkan kita ke periode 1970-1980-an saat setiap masjid selalu diminta memberikan daftar khatib yang akan memberi khutbah setiap Jumat. Bahkan bahan khutbah pun diminta untuk diserahkan.

Jika melihat track record PDIP sangat dicurigai politik anti Islamnya akan semakin keras ke depan, terlebih jika nanti berhasil mendudukkan Jokowi menjadi Presiden. Satu-satunya harapan ialah, agar kiranya JK mampu memberi pemikiran yang benar agar semua musuh Islam yang kini secara taktis berada bersamanya demi pencapresan dapat mengerti Islam dengan sebaiuk-baiknya dan berhenti memusuhi. Sejumlah RUU yang mengakomodasi kepentingan umat Islam tercatat telah pernah “diterpodeo” oleh PDIP di DPR-RI meski ada yang tidak berhasil digagalkannya dan karena itu tercatat dia hadapi dengan aksi walk out.

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan menyesalkan cara-cara yang ditempuh oleh PDIP.  Menurutnya, pengawasan yang dilakukan oleh kader PDIP terhadap khatib di masjid sangat melukai perasaan umat Islam. Sejak kapan mereka menjadi polisi agama. Jika polisi agama wajar jika adanya pengawasan terhadap masjid. Sama seperti zaman penjajahan, bicara politik langsung dilaporkan ke polisi.  Mengapa pengawasan hanya dilakukan di masjid, sedangkan gereja, pura, vihara dan lainnya tidak? Tidak adil jika umat Islam mendapat perlakuan seperti itu. Lagi pula, khatib yang memberi khutbah di masjid tahu mengenai batasan untuk tidak berkampanye.

Sebagaimana diketahui, belakangan ini banyak bentuk resistensi kalangan umat Islam terhadap Jokowi adalah disebabkan masalah keagamaan. Hal-hal yang baik seperti yang dilakukan oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Dien Syamsuddin sebetulnya sangat membantu, yakni memberi kesempatan kepada Jokowi menjadi imam sholat zuhur saat bertandang ke kantor PP Muhammadiyah di kawasan Menteng Raya. Tetapi belakangan berita itu diplintir oleh dengan menyebut bahwa Dien Syamsuddin memujikan Jokowi karena dalam memimpin sholat bacaannya fasih dan ayatnya panjang-panjang. Karena otak perkampanyean di kubu Jokowi benar-benar tak tahu Islam, mereka tidak faham apa perbedaan dalam sholat zuhur dan sholat shubuh, maghrib dan isya dengan sholat zhur dan ashar.

Tentulah apa yang dicoba dinetralkan oleh Dien Syamsuddin menjadi buyar. Malah ia bereaksi keras atas plintiran berita tentang dirinya yang diposisikan memuji Jokowi sebagai seorang muslim yang taat paling tidak dari bacaan sholat yang bagus. Berita plintiran itu tentu sangat merugikan Jokowi.

Hal mendasar yang ingin ditangkal oleh PDIP dengan pengintelan terhadap mesjid ini ialah kampanye hitam. Sekiranya khatib sekaliber AA Gym misalnya berbicara dalam mimbar Jum’at bahwa dengan memenangkan Jokowi pastilah memastikan Jakarta akan dipimpin oleh Ahok (kafir), apakah hal itu kategori kampanye hitam? Di pihak PDIP tentu hal itu sangat tidak menguntungkan, karena sikap seperti itu merupakan bagian dari ajaran Islam, maka sebetulnya tak ada yang dapat didamaikan antara umat Islam dengan PDIP. Kalau begitu umat Islam harus menggugat PDIP secara hukum.

Harapan umat Kristen kepada Jokowi. Seorang yang saya kenal selama ini sebagai jurnalis dalam status di laman facebooknya menulis demikian:

Demam Jokowi di Amerika sama seperti di Indonesia. Saat saya gereja di Maryland sekitar 1 jam perjalanan kereta api dari Stasiun KA Foggy Bottom Washington DC saya bertemu ratusan warga Indonesia karena gereja di Maryland jam 2 siang memakai bahasa Indonesia (gerejanya pinjam dari gereja Amerika/shift kedua). Saya bertemu pejabat kedutaan bagian perhubungan bernama Rahmat Putranto. Saya kaget luar biasa usai gereja jemaat berkumpul dan berbincang dengan saya> mereka umumnya mendukung Jokowi. Namun sebagian kecil WNI yang berdarah Manado mendukung Prabowo karena ibu Prabowo yang berdarah Manado (barangkali). Mereka berharap Jokowi menang. Pada bagian lain saya bertemu seorang mahasiswa di Virginia Tech berkebangsaan Arab, dia tahu persis siapa Jokowi. It’s amazing. Bagaimana mungkin orang di luar negeri tahu dan memahami apa yang sdg dibangun Jokowi. Sekali lagi it’s amazing. Saya bukan kampanye utk Jokowi karena Pilpres 2009 lalu saya pendukung Prabowo. Saya Sekretaris Pasopati (Prabowo Subianto Pilihan Hati) Sumatera Utara>

Jurnalis itu dengan bangga melukiskan kegairahan umat Kristen bahkan di Amerika terhadap harapan kemenangan Jokowi menjadi Presiden RI. Betul bahwa ia juga menyisipkan keterangan tentang netralitasnya dengan menyebut diri sebagai pendukung Megawati-Prabowo pada pilpres 2009 lalu tanpa perlu menjelaskan ketertarikannya kepada pasangan itu karena Megawati atau Prabowo atau kedua-duanya.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

2 Comments

  1. […] MASJID DI MATA TIM SUKSES JOKOWI-JK […]

  2. Sutan says:

    kenapa emangnya Jakarta nantinya dipimpin Ahok? ada masalah SUMUT yang mayoritas Muslim beberapa kali gubernrnya Kristen

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: