'nBASIS

Home » ARTIKEL » ANCAMAN SOEKARNOISME

ANCAMAN SOEKARNOISME

AKSES

  • 535,235 KALI

ARSIP


versi Pancasila
Dalam naskah Visi, Misi dan Program Aksi Jokowi-JK yang disampaikan ke KPU saat pendaftaran Capres berulangkali disebut istilah Pancasila 1 Juni 1945. Apa maksudnya? Ada yang tahu?  Penyebutan berulangkali Pancasila 1 Juni 1945 itu tentu mengundang pertanyaan besar.

Semula saya berpraduga bahwa orang-orang PDIP dan koalisi di balik perumusan visi ini hanyalah sekadar ingin mengkultuskan Soekarno sebagai bapak bangsa yang antara lain pernah memperkenalkan istilah Pancasila atas saran seseorang, dalam kesempatannya berpidato pada tanggal 1 Juni 1945 yang didahului oleh tokoh-tokoh lain. Tetapi setelah membaca keseluruhan (41 halaman) naskah visi, misi dan agendra prioritas Jokowi-JK, saya menjadi sadar bahwa masalahnya bukan sekadar kerinduan kultus atas individu.

Kontroversi. Sebagaimana diketahui, rumusan Pancasila ada beberapa versi. Masalanya ialah, bahwa di antara berbagai versi itu rumusan Soekarno bukanlah yang paling identik dengan apa yang diterima oleh bangsa Indonesia hingga kini dan yang tertera dalam dokumen-dokumen resmi kenegaraan. Juga bukan Pancasila versi Soekarno yang selalu dibacakan dalam berbagai upacara kenegaraan.

Berikut keempat rumusan itu Pancasila itu:

Pertama, rumusan yang disampaikan oleh Mohammad Yamin pada tanggal 29 Mei 1945:
(1) Ketuhanan Yang Maha Esa
(2) Persatuan Indonesia
(3) Rasa Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab
(4) Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan, dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
(5) Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Kedua, rumusan yang disampaikan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 1 Juni 1945:
(1) Nasionalisme (Kebangsaan Indonesia)
(2) Internasionalisme (Perikemanusiaan)
(3) Mufakat atau Demokrasi
(4) Kesejahteraan Sosial
(5) Ketuhanan yang Berkebudayaan.

Tetapi kemudian kelima sila ini dapat diperas menjadi Trisila, yaitu:
(1) Sosio nasionalisme
(2) Sosio demokrasi
(3) Ketuhanan

Tak cukup sampai di situ, Soekarno juga menyebut bahwa ketiga sila itu dapat diperas menjadi Ekasila, yaitu Gotong Royong.

Ketiga, rumusan yang diajukan oleh Panitia 9 yang diajukan pada tanggal 22 Juni 1945:
(1) Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
(2) Kemanusiaan yang adil dan beradab.
(3) Persatuan Indonesia.
(4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
(5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Keempat, rumusan yang termaktub di dalam Pembukaan UUD 1945 yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945:
(1) Ketuhanan Yang Maha Esa
(2) Kemanusiaan yang adil dan beradab
(3) Persatuan Indonesia
(4) kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
(5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Visi Jokowi-JK. Visi Jokowi-JK adalah “terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandasrkan Gotong royong”. Istilah gotong royong dalam visi ini memiliki konotasi lain, tak sekadar gotong royong yang difahami umum oleh bangsa Indonesia. Menurut visi itu,gotong royong merupakan intisari dari Pancasila 1 Juni 1945.

Memang itu sangat identik dengan Pancasila versi Soekarno setelah diperas-peras (dari lima menjadi tiga dan akhirnya menjadi satu), yakni gotong royong.
Naskah visi, misi dan agenda prioritas ini terdiri dari 41 halaman, dan menurut tim sukses Jokowi-JK masih ada 30-an lembar tambahan penjelasan tentang ini. Hal yang pertama dapat diduga ialah bahwa naskah ini mungkin malah tak pernah dibaca, apalagi didiskusikan oleh Jokowi-JK sebelum diserahkan sebagai salah satu syarat pendaftaran capres di KPU.


Status Pencapresan. Masalah lain yang lebih serius tentulah:

Pertama, kegoncangan politik nasional ketika nanti pemerintahan Jokowi-JK akan menjalankan tugasnya. Mereka akan tampil sebagai penguasa baru yang menertibkan cara pandang untuk menyeragamkan pemahaman bangsa Indonesia tentang Pancasila sesuai versi mereka. Akan ada semacam polisi ideologi, melebihi otoritas-otoritas yang pernah ada dalam sejarah pemerintahan Indonesia. Jika Mega pernah berucap tentang “derita berpuasa selama 10 tahun”, itu baru sebuah ancaman kecil. Belum apa-apa dibanding dampak kegelisahan sosial politik nasional yang akan muncul sebagai konsekuensi standarisasi ideologi gotong royong ini.
 
Kedua, sah tidaknya pasangan Jokowi-JK. Dalam persyaratan sebagai capres (dan juga berlaku untuk cagub, cabub dan calwali, kesetiaan kepada Pancasila adalah nomor satu. Pancasila Gotong Royong versi Jokowi-JK bukanlah Pancasila yang benar, yakni:
(1) Ketuhanan Yang Maha Esa
(2) Kemanusiaan yang adil dan beradab
(3) Persatuan Indonesia
(4) Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
(5) Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).
Pencapresan ini dapat batal demi hukum.
 
Saya tidak mengenal ketokohan dan cara berpikir Jokowi. Tetapi saya menjadi sangat heran jika naskah visi, misi dan agenda prioritas ini benar-benar dibaca dan disetujui oleh JK.
visi Jokowi-JK
visi Jokowi-JK

Shohibul Anshor Siregar
Advertisements

2 Comments

  1. […] bebarapa jejak yang mudah ditelusuri, di antaranya visi dan misi pasangan Jokowi-JK dengan kata kunci Trisakti, Pancasila 1 Juni 1945 dan Gotong […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: