'nBASIS

Home » ARTIKEL » MENYINGKIRKAN OSBTACLE

MENYINGKIRKAN OSBTACLE

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


  • Hubungan pusat dan daerah, Tumpang-tindih kelembagaan negara, Tumpang-tindih peraturan, dan Reformasi Birokrasi
  • Prabowo Subianto: Kita harus pandai memilih sektor mana yang merupakan kunci yang akan mempengaruhi sektor-sektor lain, dan setelah itu kita harus menentukan sasaran, menentukan objectives
  • Hatta Rajasa: Empat prioritas reformasi birokrasi
  • Jokowi: Politik Anggaran, potong DAK-nya. Kementerian tidak boleh membuat aturan sendiri, harus satu pintu di Sekretariat Negara
  • JK: Kalau pemimpin tidak sanggup meyakinkan di bawahnya memang bukan pemimpin yang baik. pembangunan itu memang di daerah. Jadi lembaga-lembaga pusat memang tidak perlu terlalu banyak

Salah satu segment debat Capres 2014 seri 1 yang paling menarik buat saya ialah segmen ke 5. Segmen ini dilabeli “Bagaimana cara menyingkirkan tantangan yang menghalangi pelaksanaan program sesuai visi dan misi pemerintahan”. Kedua pasangan mendapat giliran berbicara dengan waktu yang sama. Di antara sesama terjadi berbagi waktu dan kesempatan, dengan tetap mendahulukan kesempatan Capres sebelum Cawapres.

Zaenal Arifin, moderator, mengawali dengan pengantar permasalahan demikian:

Dari semua visi dan misi yang Anda canangkan, sayangnya visi dan misi yang akan Anda tawarkan tersebut akan mengalami beberapa halangan dan hambatan dengan kondisi faktual. Misalnya, sulit Anda memastikan apa yang Anda perintahkan bisa dijalanlkan di daerah

Dengan dilakukannya pemilihan langsung Kepala Daerah yang terpilih seringkali, seringakali, merasa tidak memiliki kewajiban untuk menaati apa yang ditetapkan oleh pemerintah pusat. Karena merasa ikatan politiknya langsung ke rakyat, bukan ke pemerintah pusat.

Juga ada problem lainnya, misalnya banyaknya kelembagaan yang tumpang tindih, begitu juga begitu banyak peraturan yang tumpang tindih antara satu dengan yang lain bisa secara horizontal dan bisa secara vertikal. Belum lagi kualitas birokrasi yang masih sangat membutuhkan reformasi birokrasi.

Lalu pertanyaan operasional yang diajukan untuk hambatan atau obstacle itu ialah: “Apa saja langkah kongkrit Anda untuk keluar dari permasalahan tata pemerintahan tersebut, sehingga visi dan misi Anda terlaksana sebagaimana Anda rencanakan”.

Berikut jawaban yang diberikan oleh masing-masing kandidat dalam dua pasangan Capres itu:

Prabowo Subianto. Kami sadar sepenuhnya bahwa setiap usaha perbaikan, setiap transformasi pasti akan ada halangan dan kita sudah mengerti halangan tersebut. Tumpang tindihnya peraturan, kemudian para pemimpin politik yang mungkin berasal dari latar belakang yang berbeda dengan kepentingan yang berbeda. Tapi saya kira ada strategi tertentu untuk menghadapi kondisi ini.

Yang pertama adalah, kita harus memilih beberapa sektor yang menentukan. Kita tidak bisa memperbaiki keadaan sekaligus di semua sektor. Kita harus pandai memilih sektor mana yang merupakan kunci yang akan mempengaruhi sektor-sektor lain, dan setelah itu kita harus menentukan sasaran, menentukan objectives. Berarti ini yang sering disebut management by objectives. Tentukan sasaran, baru setelah itu kita ambil langkah-langkah menuju sasaran itu, dan sasaran itu tidak boleh banyak.

Kita harus menentukan mana? Pangan? Sektor pangan harus kita… Karena dengan pangan, dengan ketahanan pangan, dengan swasembada pangan kita bisa dapat hal-hal yang lain. Kita bisa dapat keamanan. Kita dapat ketenangan rakyat. Kita bisa dapat rasa optimisme rakyat. Kita bisa menghemat devisa, dengan devisa kita bisa investasi. Dengan investasi, roda ekonomi jalan, roda ekonomi jalan, kesejahteraan umum naik. Jadi tentukan saran mana. Kami sudah menentukan, pangan, energi, infrastutur, reformasi birokrasi, itu sasaran-saran pokok yang harus kita selesaikan duluan.

Kemudian kita juga jangan lupa. Sekarang, the power of public opinion. Opini rakyat itu sangat menentukan. Opini Rakyat. Kalau kita memiliki tujuan yang baik. Kita ingin perbaiki kehidupan rakyat. Kita punya hati yang ihlas, saya kira hambatan-hambatan itu bisa kita selesaikan dengan dialog dengan persuasi dan dengan opini dari rakyat. Public opinion, pada gilirannya para penguasa-penguasa setempat akan dipaksa oleh rakyatnya.

Karena yang kita inginkan adalah menyampaikan hal-hal dasar bagi rakyat. Air bersih, makan yang murah, sekolah yang baik, poliklinik yang baik, rumah sakit yang bisa terjangkau oleh uang rakyat, jalan yang bagus dari desa ke kabupaten, dari kabupaten ke provinsi, ke pelabuhan, kita ingin kreta api, kita ingin jalan raya. Masak rakyat tidak akan mendukung pemerintah yang ingin berbuat untuk rakyat, untuk kesejahteraan rakyat?

Saya kok percaya pada gilirannya dukungan rakyat akan mempengaruhi dan pada ujungnya para penguasa yang tadinya mungkin karena tidak mengerti atau karena kepentingan tertentu bisa diyakinkan untuk kerjasama karena kita adalah pelayan rakyat. Kita hanya bekerja untuk kepentingan rakyat Indonesia.

Hatta Rajasa. Saya ingin mendalami hal yang sangat-sangat penting bagi bangsa kita, yaitu reformasi birokrasi. Acapkali hambatan yang kita hadapi buruknya birokrasi. Apakah itu organisasinya yang tidak berwawasan atau berorientasi kepada pelayanan publik, apakah aparturnya yang tidak bersih karena sistem rekrutmen tidak baik, sistem promosi jabatan yang tidak transparan dan akuntable, dan juga lembaga-lembaga, institusi-institusi yang tidak melayani dengan baik karena tidak ada ukuran-ukuran capaian-capaian yang pasti, sehingga pelayanan publik menjadi menjadi bertele-tele, menjadi mahal, berlarut-larut dan menjadi mahal.

Oleh sebab itu maka langkah reformasi birokrasi harus kita tuntaskan dengan baik. Yang pertama, arah kebijakannya adalah organisasinya harus efektif dan efisien. Jangan gemuk yang bisa mengakibatkan birokrasi bertele-tele.

Yang kedua, yang paling penting adalah, bagaimana upaya-upaya kita untuk meletakkan asas akuntabilitas dengan berbasis kepada kinerja. Tidak ada satu pun kebijakan-kebijakan yang dijalankan yang tidak bisa diukur dengan akuntabilitasnya. Harus dapat dipertanggungjawabkan.

Yang ketiga adalah upaya pemberantasan korupsi. Harus massif. Pencegahan dan penguatan KPK, Kejaksaan dan Kepolisian harus betul-betul kita lakukan dengan baik agar apa-apa yang sudah menjadi kebijakan tidak diselewengkan begitu.

Yang keempat adalah sumberdaya manusia. Aparatur itu sendiri yang harus betul-betul kita perbaiki, baik jumlahnya yang tidak didesign sesuai dengan struktur organisasi harus kita pangkas, dan aparatur yang bisa melakukan penghematan terhadap pengelolaan keuangan Negara dan mencegah kebocoran-kebocoran keuangan Negara. Jadi kalau ini bisa kita perbaiki, salah satu prioritas utama reformasi birokrasi, maka obstacle tersebut.

Jokowi. Jadi tadi yang ditanyakan itu, daerah yang tidak mengikuti pusat (yang pertama). Yang kedua, banyaknya lembaga yang tumpang tindih, banyaknya peraturan yang tumpang tindih. Kemudian yang ketiga masalah kualitas birokrasi. Saya ingin menjawab yang pertama.

Kenapa daerah tidak mengikuti pusat? Bisa mereka mengikuti 100 % apa yang diarahkan oleh pusat. Dengan cara apa? Dengan politik anggaran. Karena 85 %, rata-rata 85 %, anggaran daerah itu berasal dari pusat. Oleh sebab itu dengan politik anggaran kita bisa mengendalikan daerah. Kalau tidak mau berikan punishment. Kalau ada prestasi berikan insentive, berikan reward kepada mereka. Gampang sekali. Hal sederhana yang sering tidak dilakukan.

Misalnya, masalah pembangunan pelayanan terpadu satu pintu. Daerah diperintah semuanya untuk membuat itu. Kalau tidak, bisa DAK-nya, Dana Alokasi Khusus-nya dipotong, atau Dana Alokasi Khusus-nya dikurangi. Itu sudah buat buat daerah sudah mengerikan. Inilah politik anggaran yang akan kita jalankan agar daerah sejalan seiring dengan pemerintah pusat.

Yang kedua, masalah lembaga yang tumpang tindih, peraturan yang tumpang tindih. Saya kira kalau peraturan ini lewatnya hanya satu pintu, di Sekneg, dikembalikan lagi ke sana, keluarannya akan jelas. Tetapi kalau semua Kementerian bisa mengeluarkan atauran-aturan yang tidak lewat pintunya jelas, di sekretariat Negara, saya kira akan terjadi seperti ini. Banyak peraturan daerah yang bertentangan dengan pusat, banyak peraturan gubernur juga yang tidak sinkron dengan peraturan. Banyak sekali. Oleh sebab itu pintunya harus diberi satu. Sehingga keluarannya akan kelihatan dan seiring sejalan dengan arah yang sudah digariskan dari pemerintah pusat.

Kemudian mengenai kualitas birokrasi. Tadi sudah kami sampaikan. Ini juga sebetulnya sesuatu yang tidak sulit-sulit amat, sesuatu yang sederhana. Tetapi kita ini sudah pesimis. Kalau saya, pak JK, sangat optimis bisa membenahi organisasi. Mengapa? SDM-nya baik-baik. SDM-nya baik. Pintar-pintar. Ada doktor, ada magister, ada magister manajemen ada saraja, banyak sekali. Kenapa tidak berjalan dengan baik? Karena sekali lagi, sistemnya tidak dibangun, Sistemnya yang baik tidak dibangun di situ. Tadi sudah saya sampaikan e-government, semuanya, dari dari e-budgetting, dari e-prorecruitment, e-purchasing, e-catalog, e-audit, cash management system, semuanya harus dibangun. Kalau itu dilakukan, pemerintah pusat ini gampang. Saya tinggal cari tab satu aja, pencet daerah ini dapat uang berapa, masuk berapa, keluar…bisa, setiap saat bisa dilakukan. Panggil saja programmer untuk melakukan itu. Gak ada 2 minggu bisa dirampungkan. Gak ada masalah. Artinya jangan pesimis, kita harus optimis karena memang bisa melakukan itu karena memang sudah kita laksanakan, sudah kita buktikan.

Yang kedua tadi kami sampaikan kualitas birokrasi, masalah pola recruitment yang memang harus kita cari yang terbaik yaitu dengan seleksi dan promosi terbuka. Kalau itu dilakukan saya kira juga hal yang sederhana. Ini hanya masalah niat, atau tidak niat. Mau atau tidak mau.

JK: Itulah tugas pemimpin. Meyakinkan di bawahnya untuk melaksanakan tugas-tugas yang sama sesuai tujuannya. Kalau pemimpin tidak sanggup meyakinkan di bawahnya memang bukan pemimpin yang baik. Jadi jangan menyalahkan daerah hanya menyalahkan bagaimana cara pemimpin itu.

Pengalaman kami, selama apa yang kita ingin tuju itu dapat diyakininya dengan baik, sesuai bertujuan bernegara, kemakmuran, kemajuan, di daerah juga dapat dilaksanakan. Kedua, toh di pusat juga ada kegotongroyongan pemerintahan. Di daerah juga ada kegotong royongan yang sama, walau pun berbeda. Partai haruslah menjadi ketaatan kedua setelah ketaatannya kepada pemerintah. Dia harus ikut policy partai, tetapi yang harus diikutinya yang tama ialah tujuan bernegara. Itu harus diyakinkan.

Yang kedua, tanggungjawab pemimpin. Kalau tanggungjawab pemimpin telah diinstruksikannya maka yang pemimpinlah yang bertanggungjawab. Bukan Bupati itu. Kalau dia selama ini melakukan salah, kalau materinya salah, jadi ada juga keyakinan, kemudian tanggungjawab, dan kemudian menjaga semua sistemnya jalan. Kalau sistemnya tak jalan seperti dikatakan tadi, ya kita, pusat mempunyai instrumen. Instrumen fiscal, instrumen kebijakan dan instrument pengawasan. Ada BPK ada BPKP. Kalau dia tidak sesuai dengan aturan pusat. Dengan mempergunakan instrument-instrumen itu sebenarnya pemerintah juga kuat.

Kalau lembaga-lembaga memang, kita mengalami begitu banyaknya lembaga-lembaga. Ini memang harus dirobah. Negeri ini sudah disterilisasi. Sudah otonomi. Berarti lembaga-lembaga pusat harus mulai berkurang dibanding dan sekaligus memperkuat lembaga daerah. Karena ini dari pembangunan itu memang di daerah. Jadi lembaga-lembaga pusat memang tidak perlu terlalu banyak. Yang memang harus distrimeline. Sehingga ada penciutan daripada lembaga-lembaga tadi seperti itu.

Analisis. Apakah Anda merasa keempat kandidat ini menjawab substantif atau hal-hal teknis belaka? Tak kurang pentingnya menganalisis apakah kedua figur dalam satu pasangan saling mendukung atau saling melengkapi atau malah memiliki pemahaman yang berbeda terhadap masalah yang diketengahkan hingga memberi jawaban yang saling bertentangan?

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: