'nBASIS

Home » ARTIKEL » POTRET

POTRET

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


Setelah tiba dari blusukan radius 300 meter sekitar rumah, saya pun menuliskan cerita yang saya rekam dari orang-orang yang saya temui. Siang ini hari tak begitu panas, tetapi cerah.  Tulisan ini saya maksudkan hanya sekadar tema penanda untuk uraian lengkap yang nanti akan saya buat setelah waktu lebih dapat diajak berkompromi.

Orang kaya. Kau sudah pernah bertemu orang kaya? Tadi pagi saya bertemu dgn seseorang yang menceritakan seorang kaya. Di rumahnya ada 3 orang anak yatim yang ia sendiri tak tahu anak siapa. Diperlakukannya spt anak kandungnya. Kini orang kaya itu sedang mengusahakan pinjaman karena tunggakan uang sekolah sudah 5 bulan.

Raja. Di kampung kelahiran saya, Harean, Tarutung, semua (sude) orang raja. Karena ia taat adat, berbudi dan santun serta memelihara keseimbangan hak dan kewajiban. Jadi tak usah ada yang paraja-rajahon.

Slave. Orang Keling dipanggilnya tuan. Orang Cina dipanggilnya toke. Jadi apa dianggapnya dirinya?

Bayar. Kau jangan pernah merasa seperti pulang ke rumah. Biar pun rumah makan Bunda, kita hrs bayar juga. Bunda mereka lain dgn bunda kita. Ha ha

Golput yang baik. Seorang angkat bicara sambil mengankat gelasnya berisi separoh kopi hitam. “Kalian pilihlah yang terbaik. Menurutku yang terbaik itu belum tentu yang kalian pikirkan itu”.

Hal yang paling membuat saya heran ia melanjutkan demikian: “Sebetulnya demokrasi itu memerlukan orang yang tak seperti kalian. Nalar demokrasi sangat perlu, agar tak terus-menerus menjadi korban. Itu yg saya dengar. Ketika saya tanya pilihannya, ia menjawab: “saya masih golput”.

Dermawan. Bukan. Bukan. Itu bukan dermawan. Itu hanya korban eksploitasi.

Pembangunan. Menurut mereka sudah berhasil. Orang miskin sudah dipindahkan agar kota menjadi Indah dan bersih. Ketika saya tanya kemana orang miskin itu, mereka menjawab: “ya itu nasib merekalah”. Ketika saya tanya lagi, ketika kau nanti digusur dari sini, dari petak rumah warisan leluhurmu ini, perlukah sejarah mencatat namamu sebagai orang yang dikorbankan oleh pembangunan?

Indonesia: Anak Kost. Lalu demokrasi pun digelar. Seluruh isi rumah divoting. Akhirnya menang anak kost. Keluarlah pemilik rumah dari rumahnya karena demokrasi itu. Ketimbang keluar dari rumahnya sendiri, pemilik rumahpun memilih menjadi budak bagi anak kost itu.

Memang, rupanya, demokrasi itu tak boleh menyintuh ekonomi. Demokrasi harus menjamin pemangsa tetap berkuasa. Siapkan diri menjadi santapan bagi predator.

Pemberantasan korupsi. Tiap hari kau laporkan kau sudah menangkap koruptor. Jadi kau merasa berhasil memberantas korupsi?

Sandera. Politik anggaran. Hangat diskusinya. Potong saja DAK, agar kepala daerah ketakutan, kata Jokowi. JK bilang jika tak mampu meyakinkan rakyat beratti bukan pemimpin. Memang ada instrumen fiscal maupun instrumen pengawasan lainnya. Daerah itu tempatnya pembangunan.
Bah

Tuli. Hampir saja ia tertabrak sepeda meski lonceng telah dibunyikan. Tetapi yang tuli sungguhan yang pengendara onthel itu. Krn kupingnya gak peduli orang tuli tak mendengar aba-abanya.

Perda. Pertanyaan mereka serius. Mengapa perda syariah harus dibatalkan? Saya jawab: mungkin itu hanya perjuangan sebuah kelompok atau partai saja. Itupun jika mereka menang pilpres. Jika tetap khawatir ya jangan pilih capres usungan mereka. Ajak sebanyak mungkin orang memilih capres lawannya.

Sejarah. Mrk bertanya, mengapa Soetan Sjahrir dipenjarakan, Mohd Natsir dan HAMKA? Saya jawab, harusnya kalian tanya kepada penguasa waktu itu.

Abusive. Tukang togel bermusyawarah. Hasilnya, biarlah beliau itu memasang nomor togel tanpa bayar dan jika ia menang tak usah pikirkan. Ia penguasa

Orangtua. Memang bukanlah seorang al-amin. Tetapi ia tak karena uban di kepala menjadi otang tua. Bahasa dan wawsannya. Langkah yang penuh perhitungan dan tanggungjawab. Tak pernah menghindar dari kewajiban

Guru. Kau lihat ia seperti apa? Dia seorang guru. Dia guru sejati. Tanpa bicara menjadi tauladan. Bertindak mencerahkan, tak akan mendongak merancang keuntungan

Orang lemah. Makin saya sadari ia orang lemah, karena hanya mampu menggantang pengharapan dengan membuang kebersahajaan dan orisinalitas. Ia hidup di balik wajah ganda, dan menikmatinya spt pernah dinyanyikan oleh Achmad Albar.

Orang kaya. Kau sudah pernah bertemu orang kaya? Tadi pagi saya bertemu dgn seseorang yang menceritakan seorang kaya. Di rumahnya ada 3 orang anak yatim yang ia sendiri tak tahu anak siapa. Diperlakukannya spt anak kandungnya. Kini orang kaya itu sedang mengusahakan pinjaman karena tunggakan uang sekolah sudah 5 bulan. Dua puluh buah risol tercecer dari sepeda motor yang melintas di jalan. Saya mencoba menghitung kerugian pelaku ekonomi kecil yang berjuang itu.

Wajah. Saya lihat lebih sejuk dan tanpa beban wajah legislator yang duduk di baleg (badan legislasi) ketimbang wajah legislator yang duduk di banggar (badan anggaran).  Mengapa ya?

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: