'nBASIS

Home » ARTIKEL » INDONESIA (TAK) BERFIKIR?

INDONESIA (TAK) BERFIKIR?

AKSES

  • 545,402 KALI

ARSIP


Dilematika Indonesia. Agar dianggap menguasai dan hebat, seorang tukang cukur memaksakan diri menjelaskan pisang. Maka dia kemukakanlah hal-hal yang diketahuinya tentang pisang itu sekedar kulit-kulitnya saja, termasuk di depan tukang goreng pisang. Tentu ia berfikir tetap sebagai tukang cukur. Tapi tak banyak orang yang tahu bahwa ia sedang menipu dirinya, sedangkan tukang goreng pisang sangat memaafkan kepandiran itu.

Jika debat capres 2014 tidak sekadar meniru persis lomba cerdas cermat antar siswa sekolah, maka dialog-dialognya tak akan menyerupai contoh di bawah ini.

A: Rata-rata pendidikan orang Indonesia hanya sekitar 7-8 tahun. Ini masalah besar dalam kaitan sumberdaya insani. Saudara tolong beri saya penjelasan tentang itu

B: Pendidikan itu penting. Karena dengan pendidikan kita bisa maju. Kalau kita maju, maka kita senang. Kalau kita senang kita pun bisa membantu negara lain agar senang. Jika semua orang di dunia ini senang maka kita bersyukur.

A: Sejak Amandemen UUD 1945 sebetulnya kita sudah mengalokasikan dana sebesar 20 % dari total APBN dan APBD. Tetapi kelihatannya investasi itu belum tepat arah dan diperlukan kajian agar benar-benar dapat efektif menjawab masalah. Ini pasti terkait dengan politik pendidikan dan tradisi persekolahan yang sangat perlu direvitalisasi. Tak hanya soal kurikulum pendidikan, tetapi juga hal lain.

B: Sebagaimana sudah saya jelaskan tadi, pendidikan itu vital bagi bangsa. Jika semua sudah pintar tentu sebuah negara akan kuat daya saing. Maka karena itu kita harus mengembangkan pendidikan ini.

Karena debat ini bagian dari perkampanyean, maka kebenaran tidak akan selalu dianggap penting. Bukan hanya soal pilihan kata dan tuturnya, kompleksitas gagasan dan rasionalitasnya pun sangat mungkin menjadi pokok perhatian terpenting untuk tak hanya mengusung kebenaran ide, melainkan keterterimaan ide berdasarkan persepsi pemilih. Mayoritasisme sebagai kebenaran akan menjadi dilema jangka panjang. Ini memang sudah menjadi resiko. Indonesia pun masih tetap ada dalam dilema besar itu.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: