'nBASIS

Home » ARTIKEL » ORANG MISKIN DAN AYAM JANTAN SAKIT

ORANG MISKIN DAN AYAM JANTAN SAKIT

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


Bagi mereka (orang miskin) kenduri menjadi sebuah peluang besar (untuk perbaikan gizi). Tetapi kenduri tak selalu ada setiap hari bukan? Mudah-mudahan Negara yang akan dipimpin oleh salah satu dari dua pasangan calon Presiden yang sedang berkampanye saat ini dapat memaklumi pentingnya makan dan asupan gizi bagi rakyat dibanding drone, tank leopard dan omong kosong-omong kosong lainnya

Menjelang tidur tadi malam, ibu Titin memberitahu suaminya bahwa ayam jantan pemberian adik iparnya sudah kelihatan loyo sejak petang kemarin. Tak berkokok lagi tadi pagi. Daripada nanti mati lebih baguslah kita sembelih saja, begitu usul ibu Titin.

Tetapi suami ibu Titin tidak setuju. Jawabnya begini:

Kita memang orang miskin yang berharap suatu saat nanti ayam jantan itu bisa kita jual untuk menambah penghasilan. Atau kita sembelih nanti saat syawal tiba, agar kita juga dapat ikut berhari raya. Tetapi ayam itu sedang sakit, bu. Kalaulah kita sembelih saat sakit begini, apakah itu tidak berarti bahwa kita juga sedang sakit atau nanti bakalan sakit? Siapa tahu penyakit ayam itu pindah ke tubuh kita. Kita akan terpaksa berobat dan mengeluarkan biaya yang tak terbayangkan dari mana akan diperoleh.

Lebih baiklah kita usahakan memberi obat seadanya kepada ayam jantan itu, misalnya temulawak yang ibu racik itu. Atau sisa obat demam yang diberi mantri puskesmas kepada Tono dua pekan lalu. Kalau saya bu, lebih berharap ayam itu sehat kembali dan saatnya nanti kita jual. Bukan saya tak ingin makan daging ayam. Saya sangat ingin. Tetapi bayangkanlah, bu, bahwa kalau kita jual ke pasar mungkin uangnya bisa membeli pakaian seragam sekolah Tono yang sudah begitu kusam. Saya merasakan Tono itu sudah lama mc di antara teman-teman sekolahnya karena seragamnya yang sudah kusam itu dan kita seolah membiarkan saja.

Jenis dan Perlakuan. Kini banyak jenis ayam. Di rumah-rumah orang kaya, berbagai jenis dipelihara begitu baik. Jika terlihat terganggu kesehatannya, segera dibawa ke dokter hewan. Makanannya pun khusus, dan mungkin untuk kebutuhan beberapa ekor saja harganya dapat setara dengan biaya kebutuhan konsumsi keluarga miskin seperti keluarga ibu Titin. Ayam hanyalah salah satu jenis di antara satwa piaraan yang lazim di rumah-rumah orang kaya. Mereka tampaknya sangat perlu itu, mungkin agar selalu dapat terhibur atau untuk regulasi pengisian waktu senggang (leisure time) di rumah, dan lazimnya berkedudukan sebagai hobby.

Akan sangat normal dan beralasan untuk mengatakan bahwa ibu Titin dan keluarga (tentu) tak boleh cemburu dan tak boleh merasa diabaikan karena ayam dan segenap piaraan lebih dipentingkan ketimbang nasib mereka (oleh orang-orang kaya). Mereka (para keluarga kaya itu) bisa berpola hidup seperti itu adalah karena kerja keras mereka sehingga memiliki banyak uang. Mereka membayar pajak, mereka kerap bepergian ke luar negeri untuk liburan, naik haji dan umrah bolak-balik, mereka menyekolahkan anaknya ke sekolah terbaik. Tak ada yang boleh cemburu tentang itu. Nasib (buruk) tak boleh menjustifikasi kecemburuan, dan pemerintah dapat marah semarah-marahnya kepada orang yang berpikir seperti itu.

Tetapi siapa yang dapat mengatakan bahwa kemiskinan adalah dosa? Jika kemiskinan itu sebuah dosa, dosa jenis apa pula? Orang-orang miskin saat ini, kata Dahlan Iskan suatu ketika, dapat sangat tersiksa karena sambil bermiskin ria mereka juga menyaksikan bagaimana orang-orang kaya menikmati kekayaannya. Semua mall dan tempat-tempat mewah accessfull kepada semua orang, meski pengunjung akan dibedakan oleh motif dan aktivitas di sana. Ada yang mereguk hingga puncak satisfied (kepuasan), tetapi pasti lebih banyak yang menonton sambil menghayalkan sesuatu. Di sini, orang miskin tertentu pun dapat memberi peran menggerakkan semua roda kesenangan untuk elit itu, ketika mereka menjadi Satpam, tukang sapu, atau bahkan menjadi gadis penunggu yang siap memberi pelayanan prima sesuai ketentuan kerja industrial yang disahkan.

Menghayal. Ibu Titin sangat khawatir tentang suaminya hingga larut malam ini belum pulang. Katanya ikut deklarasi dukungan capres. Ibu Tono takut jika suaminya memihak salah satu berarti otomatis memusuhi yang satu lagi. “Jangan-jangan suami saya sudah di rumah sakit karena terluka akibat bentrok antar pendukung capres”, begitu pikiran buruk pada diri bu Titin. Ia sadar bahwa berbeda pendapat saja negeri ini belum pandai, dan untuk kekuasaan orang-orang sekarang tidak segan melakukan apa saja.

Menjelang tengah malam akhirnya suami ibu Titin tiba, dan langsung menanyakan apakah masih ada nasi untuknya. Ia pun bercerita kepada isterinya yang cemas itu, tentang deklarasi yang ia ikuti, dan bertutur tentang isi deklarasi yang mereka selenggarakan.

Kami telah memperbandingkan visi, misi dan agenda prioritas kedua pasangan calon presiden RI Tahun 2014-2019. Kami juga mengikuti rangkaian debat Capres yang diselenggarakan oleh KPU. Dengan tekun juga kami mengikuti dan mendiskusikan pemberitaan media tentang kedua pasangan Capres.

Kami menyadari bahwa di luar pentingnya kampanye pemenangan dan pencitraan bagi masing-masing pasangan Capres, terdapat 4 urusan pokok dalam bernegara dan berbangsa, yang harus terus-menerus diperkuat dan disempurnakan seadil-adilnya dan sejujur-jujurnya, yakni:

Pertama, bagaimana menjaga ideologi Negara, keutuhan negara dan memupuk perasaan senasib dan sepenanggungan di antara seluruh anak bangsa.

Kedua, bagaimana mendayagunakan sebaik-baiknya seluruh jajaran aparatur Negara untuk setia kepada pengabdiannya, baik di ranah eksekutif, legislatif maupun judikatif agar tidak merongrong kewibawaan Negara dan tidak melakukan KKN.

Ketiga, bagaimana nilai dan kerangka keadilan dan kejujuran serta martabat diadopsi secara sungguh-sungguh dalam mewujudkan proses legitimasi politik dan perolehan otoritas. Keempat, bagaimana sumberdaya alam dikelola dan didistribusi untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

“Saya hanya ingat itu saja, bu. Masih banyak yang lain. Saya pun tak faham sepenuhnya bahasa yang diungkapkan di situ. Ada seorang bersuara lantang membacakannya di podium dengan sound system yang mendentum. Kami semua berdiri saat ia membacakan. Lagu Indonesia Raya mendahului, setelah pembagian kaos oblong. Tapi saya tak mendapat, keburu habis katanya, bu”. Begitu penjelasan penutup suami ibu Titin.

Apa reaksi ibu Titin?

Kelihatannya seperti hayalan ya pak. Mudah-mudahan bapak berpahala atas keterlibatan itu. Tapi, janji ya pak, jangan ikut-ikut lagi yang seperti itu. Itu bukan urusan kita. Jika Negara saja tak peduli urusan-urusan seperti yang ditegaskan oleh naskah deklarasi itu, konon pula kita yang miskin?

Suami bu Titin tertunduk, seperti menyesal dan kapok.

Penutup. Seandainya besok atau lusa kesehatan ayam jantan piaraan keluarga ibu Titin pulih kembali, maka harapan Tono mendapat seragam sekolah yang baru insyaa Allah terwujud setelah menjual ayam itu ke pasar. Tetapi jika kesehatan ayam itu terus-menerus memburuk, dapatkah Anda bayangkan pertarungan batin ibu Titin akan menyembelih sebelum mati atau membiarkan ayam itu mati dan menguburkannya? Mungkin banyak orang di Indonesia kini yang tak dapat membayangkan bahwa kemiskinan yang dialami oleh keluarga ibu Titin begitu massal, dan untuk makan daging ayam kurang lebih seperti kelangkaan.

Bagi mereka kenduri menjadi sebuah peluang besar. Tetapi kenduri tak selalu ada setiap hari bukan? Mudah-mudahan Negara yang akan dipimpin oleh salah satu dari dua pasangan calon Presiden yang sedang berkampanye saat ini dapat memaklumi pentingnya makan dan asupan gizi bagi rakyat dibanding drone, tank leopard dan omong kosong-omong kosong lainnya.

orang miskin dan ayam jantan

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA, Medan, Senin 30 Juni 2014, hlm C6 dengan judul “Orang Miskin dan Ayam Jantan


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: