'nBASIS

Home » ARTIKEL » SURAT TERBUKA MAGNIS-SUSENO

SURAT TERBUKA MAGNIS-SUSENO

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


magnis
Surat itu tentulah lebih ditujukan kepada warga yang lebih terdidik dan jika mereka berusaha mencernanya (catat bahwa sebagian orang masih menunggu last minutes untuk penentuan pilihan politik) bukankah justru akan lebih memilih Prabowo-Hatta?  Sebagai dampak surat terbuka itu dapat muncul kesadaran rasional tentang siapa berkata apa dan dengan motif apa. Kesungguhan orang berkata sesuatu kini menjadi acap tak mudah diharapkan untuk dicerna begitu saja oleh sasaran (halayak).

Franz Magnis-Suseno SJ adalah seorang rohaniwan Katholik. Dalam biodatanya yang dimuat pada goodreads, penulis beberapa buku ini (di antaranya “Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme” dan “Dalam Bayang-Bayang Lenin”), antara lain disebutkan bahwa ia lahir tahun 1936 di Eckersdorf, Jerman. Sejak 1961 ia sudah berada (tinggal) di Indonesia. Ia adalah guru besar filsafat pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara (STFD) di Jakarta.

Banyak orang tidak tahu tentang STFD tempat Franz Magnis-Suseno SJ bekerja. Tetapi dalam situsnya http://www.driyarkara.ac.id ada keterangan ringkas demikian: “Pakar filsafat Indonesia yang mempelopori perkembangan filsafat di kalangan perguruan tinggi di Indonesia adalah Prof. Dr. N. Drijarkara, S.J. Ia pernah mengusulkan kepada pimpinannya dalam Serikat Yesus (tarekat rohaniwan) bahwa perlu didirikan di Jakarta sebuah lembaga tempat pelajaran dan penelitian filsafat akademik…”

Mungkin bagian ini pun penting, ada dalam situs yang sama: “Pada tanggal 2 Februari 1969 STFD didirikan di bawah naungan Yayasan Pendidikan Driyarkara, yang diprakarsai oleh tiga lembaga, yaitu terekat Serikat Yesus, tarekat Franziskan, dan Keuskupan Agung Jakarta. Prof. Dr. N. Drijarkara,S.J. sendiri meninggal pada 11 Februari 1967 sebelum sempat melihat kuliah perdana STFD dalam keadaan serba sederhana di sebuah ruang tamu Susteran Ursulin di Jl. Gereja Theresia no.2, Jakarta. Semangat ini antara lain dituangkan dalam Visi STFD yang salah-satunya berbunyi “Tempat pembinaan kader-kader Gereja yang terbuka dan terlibat secara Katolik”.

Islam Garis Keras? Pastor yang bernama lengkap Maria Franz Anton Valerian Benedictus Ferdinand von Magnis inilah yang tanggal 25 bulan lalu menulis sepucuk surat terbuka yang kemudian telah disebar-luaskan oleh media. Republika.co.id memberi judul pemberitaannya tentang surat terbuka itu dengan kalimat “Tolak Prabowo, Romo Magnis Tuding Amien Rais Pembuat Jelas Dukungan Islam Garis Keras ke Prabowo”. Berikut sebagian isi surat itu:

Saya mau menjelaskan dengan terus terang mengapa saya tidak mungkin memberi suara saya kepada Bapak Prabowo Subiyanto. Masalah saya bukan dalam program Prabowo. Saya tidak meragukan bahwa Pak Prabowo, sama seperti Pak Joko Widodo, mau menyelamatkan bangsa Indonesia. Saya tidak meragukan bahwa ia mau mendasarkan diri pada Pancasila. Saya tidak menuduh Beliau antipluralis. Saya tidak meragukan iktikat baik Prabowo sendiri.Yang bikin saya khawatir adalah lingkungannya. Kok Prabowo sekarang sepertinya menjadi tumpuan pihak Islam garis keras. Seakan-akan apa yang sampai sekarang tidak berhasil mereka peroleh mereka harapkan bisa berhasil diperoleh andaikata saja Prabowo menjadi presiden?

Adalah Amien Rais yang membuat jelas yang dirasakan oleh garis keras itu: Ia secara eksplisit menempatkan kontes Prabowo – Jokowi dalam konteks perang Badar, yang tak lain adalah perang suci Nabi Muhammad melawan kafir dari Makkah yang menyerang ke Madinah mau menghancurkan umat Islam yang masih kecil! Itulah bukan slip of the tongue Amien Rais, memang itulah bagaimana mereka melihat pemilihan presiden mendatang.

Mereka melihat Prabowo sebagai panglima dalam perang melawan kafir. Entah Prabowo sendiri menghendakinya atau tidak. Dilaporkan ada masjid-masjid di mana dikhotbahkan bahwa coblos Jokowi adalah haram. Bukan hanya PKS dan PPP yang merangkul Prabowo, FPI saja merangkul. Mengapa? Saya bertanya: Kalau Prabowo nanti menjadi presiden karena dukungan pihak-pihak garis keras itu: Bukankah akan tiba pay-back-time, bukankah akan tiba saatnya di mana ia harus bayar kembali hutang itu? Bukankah rangkulan itu berarti bahwa Prabowo sudah tersandera oleh kelompok-kelompok garis keras itu?

Banyak tanggapan dari tokoh umat Islam menyayangkan surat terbuka Franz Magnis-Suseno SJ, termasuk karena melihat potensinya menimbulkan saling-curiga antar umat. Ketika surat itu ditayangkan pada republika.co.id tanggal 2 Juli lalu, seorang pembaca bernama Hasan Pane telah memberi komentar cukup panjang, demikian:

Om Magnis Suseno tidak memilih Prabowo, ya tidak apa-apa, itu hak pribadi kok, tapi kalau menyangkut alasannya, nanti dulu Om, karena kalau membaca dari alasannya ini, saya merasa Om lagi kampanye nih.

Om menyerang Islam dengan kata-kata kalau Prabowo didukung Islam garis keras yang menakutkan, Om telah lupa bagaimana sejarah berdirinya NKRI, dan bagaimana kontribusi umat Islam di dalam mencapai kemerdekaan Indonesia, Om juga hanya melihat dengan sebelah mata saja, yang sebelahnya On tutup mata. Tolong Om lihat Program yang sistimatis di bawah ini, dan bukan cuma kebetulan (1) ada visi dan misi revolusi mental (2) ada rencana untuk mencabut Tap MPR tentang Larangan Ajaran Komunis (3) ada rencana untuk menghilangkan kolom agama di KTP (4) ada perintah untuk mengawasi/nginteli hotbah sholat Jum’at (5) ada usaha mendiskreditkan Babinsa (6) ada rencana untuk menghapuskan Perda Syari’ah.

Om matanya ditutup untuk melihat bahwa program di atas kalau sampai berjalan, yang paling dirugikan adalah mayoritas Umat Islam Om, karena kalau Om belum pikun-pikun amat sih mestinya tahu bagaimana fitnah yang dilakukan, keganasan, kesadisan dan permusuhan ajaran komunis di Indonesia pada tahun 65 an, dan lewat program-program di atas, apakah Om setuju dengan hidupnya kembali ajaran komunis Om? Lebih ngeri dan menakutkan kan Om? Tolong direnungkan Om. Jadi kembali, kalau Om tidak mau milih Prabowo-Hatta, ya itu hak pribadinya Om, tapi Om nggak usah mencari pembenaran karena Om merasa terancam dengan kemajuan umat Islam di Indonesia dengan menyerang umat Islam seperti itu, hanya karena di dalam pikiran Om para pemimpin umat Islam itu seperti yang ada dalam pikirannya Wimar Witular, dan dari surat Om, saya juga merasa kalau Om itu tahu Islam hanya kulitnya saja seperti yang selama ini Om pelajari tentang Islam, tapi OM sok tahu, seolah-olah paling tahu tentang Islam. Salam buat Om, semoga bisa lebih bijak lagi”.

Pemberi komentar lainnya bernama Syera Syailendra. Dalam pandangannya:

Islam Garis Keras adalah orang Islam yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan berpegang teguh kepada Alqur’an dan Hadist. Islam Garis Lemah adalah orang Islam yang mencla mencle, istilahnya Islam Moderat. Ngakunya Islam tapi gak berani berdiri dan lantang menyuarakan keislamannya. Orang-orang seperti ini biasanya orang munafik, pengecut, cari aman, cinta dunia dan takut mati dan gak yakin dengan janji-janji Allah SWT.

Dampak Serius. Saya yakin surat terbuka Franz Magnis-Suseno SJ memang sangat penting bagi dirinya dan bagi perhitungannya untuk memenangkan Jokowi-JK dalam pilpres 9 Juli 2014 mendatang. Saya juga tidak percaya jika ia dapat memproyeksi secara akurat akibat negatif surat terbuka itu terhadap calon pemilih Jokowi yang justru akan sangat berpotensi berbalik arah. Benar bahwa bagi pendukung fanatik Jokowi-JK hal ini akan memperkuat pendirian. Tak diragukan lagi.

Surat itu tentulah lebih ditujukan kepada warga yang lebih terdidik dan jika mereka berusaha mencernanya (catat bahwa sebagian orang masih menunggu last minutes untuk penentuan pilihan politik) bukankah justru akan lebih memilih Prabowo-Hatta?

Sebagai dampak surat terbuka itu dapat muncul kesadaran rasional tentang siapa berkata apa dan dengan motif apa. Kesungguhan orang berkata sesuatu kini menjadi acap tak mudah diharapkan untuk dicerna begitu saja oleh sasaran (halayak).

Lagi pula seburuk tuduhan Franz Magnis-Suseno SJ terhadap Prabowo-Hatta dan para pendukungnya, bukankah sesungguhnya secara subjektif dan dengan kerangka berfikir yang sama, dapat juga dikembalikan oleh para pendukung Prabowo-Hatta (yang dalam pekan-pekan terakhir mengalami lonjakan berarti) kepada Franz Magnis-Suseno SJ dan semua orang yang berada di kubu Jokowi-JK? Benar, surat terbuka Franz Magnis-Suseno SJ sangat memicu saling curiga antar umat beragama di Indonesia. Siapa gerangan yang akan bersedia menasehati Pastor Franz Magnis-Suseno SJ?

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA, Medan, Senin, 7 Juli 2014, hlm B4


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: