'nBASIS

Home » ARTIKEL » SURAT TERBUKA BUAT LUHUT B PANJAITAN

SURAT TERBUKA BUAT LUHUT B PANJAITAN

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


Rosiana Borupaung, kompasioner pendatang baru, sejak tanggal 17 Juli 2014 pukul 16.27 menayangkan artikel perdananya dengan judul di atas. Hingga posting ini dibuat pembaca Surat Terbuka Rosiana Borupaung ini sudah 10.025, dengan 55 pemberi komentar. Ayo kita baca dulu secara tuntas sebelum memberi komentar.

YTH Bapak Jenderal (Purn) Luhut B Panjaitan, selaku Tokoh Batak

Awalnya berat bagi saya untuk menulis surat terbuka ini, beragam respons akan muncul tidak terkecuali bernada negatif,  apalagi Bang Luhut (saya sapa “Bang” karena kebiasaan saya menyapa beliau) saat ini sedang begitu fokus dalam mendukung Calon Presiden Joko Widodo.

Surat ini saya tulis berawal dari sebuah pertemuan tokoh-tokoh Batak (Tempat pertemuan sangaja tidak saya sebut). Dalam pertemuan tersebut Bang Luhut banyak menyampaikan mengenai konstelasi politik saat ini. Terutama peran Warga Kristen Batak dalam Pilpres.

Dengan bersemangatnya Bang Luhut menyampaikan kedekatannya dengan Joko Widodo, bahkan kedekatan itu dimulai sejak Jokowi masih di Solo. Saking dekatnya, Bang Luhut punya kerjasama bisnis dengan anak Jokowi.

“Saya dan Jokowi kawan lama, sejak dari Solo, kami berbisnis Furniture, bersama anaknya Rakabuming Dengan perusahaan RAKABU” Jelas Bang Luhut dengan suara yang begitu lantang.

Selain itu, dalam kesempatan tersebut bang Luhut juga menyatakan bahwa Jokowi adalah masa yang tepat bagi orang Kristen Batak untuk berkuasa kembali.  “Jika Jokowi menang akan ada dua sampai tiga menteri orang Kristen Batak,” kata Bang Luhut memberi garansi betapa pentingnya kemanangan Jokowi di pilpres ini.

Sejauh itu saya merasa masih biasa-biasa saja, namun hal mengganjal pun muncul saat bang Luhut menyampaikan strategi pemenangan Jokowi yakni dengan menggerakkan Isu minoritas.

“Kita harus membangun ketakutan di kalangan etnis tionghoa, menyebarkan informasi jika Prabowo didukung oleh Islam garis keras, sehingga minoritas bisa bersatu, Kristen Batak, di Jawa, di Timur Indonesia, Tionghoa,” jelas Bang Luhut saat itu.

Bahkan bang Luhut menegaskan rencana tersebut sudah mendapat persetujuan dari Ephorus HKBP. “Semua pendeta-pendeta kita akan bergerak ke arah itu, Aktivis Kristen di PDIP Juga sudah kita gerakkan, ada Maruarar Sirait, Adian Napitupulu dan Masinton Pasaribu,” terang Bang Luhut.

Selain itu, Bang Luhut juga menyebut ada nama Sekjen PGI, Gomar. Tokoh-tokoh Batak seperti TB Silalahi. Ruhut Sitompol sudah bersepakat untuk itu. Dan tak kalah penting Bang Luhut dari kalangan Kharismatik sudah ada James Riady dan dari Tokoh Katolik ada Mantan Direktur  CSIS Harry Tjan Silalahi. Mantan Direktur CSIS

Selain menyebut nama-nama tokoh di atas, Bang Luhut juga menyebut bahwa Jokowi telah memenuhi janjinya saat Gubernur DKI, dimana terbukti menempatkan banyak Kadis dari orang Batak di DKI.

“Hampir 10 Tahun kita tidak berkuasa, hanya dengan cara ini kita orang Batak atau Batak bisa berkuasa kembali, menjadi Dirjen, Menteri dan penguasa di BUMN, bahkan jika Jokowi Presiden orang Batak yang akan menjadi salah seorang juru bicara”, kata Bang Luhut lagi.

Bahkan Bang Luhut saat itu menyayangkan sikap Sudi Silalahi yang hanya mementingkan diri sendiri selama berkuasa bersama SBY. Sehingga tidak ada lagi orang Batak yang berkuasa.

Bang Luhut yang saya Hormati

Abang ketika itu menyatakan bahwa kita harus menggerakkan semangat minoritas, sentimen agama harus dinaikkan kepada orang Timur, orang Kristen Tapanuli (Batak), orang Kristen Jawa dan Tionghoa. Sehingga semuanya punya satu pilihan yakni Joko Widodo

Omongan abang tersebut mungkin bagi sebagian orang Batak sangat menarik, tapi bagi saya selaku orang Kristen Batak sangatlah tidak pantas. Karena abang berupaya mendorong isu yang sesungguhnya belum tentu baik dengan orang Kristen sendiri.

Abang meminta kami mengembangkan isu bahwa Prabowo akan memberlakukan Syariat Islam jika terpilih, sehingga memunculkan rasa takut pada minoritas, abang sendiri tentu tahu, bahwa Prabowo memiliki Ibu, Adik dan kakak yang seorang kristiani. Sementara Jokowi? Tentu sangat tidak mungkin Prabowo melakukan hal seperti itu.

Saya sangat sedih abang memanfaatkan isu agama seperti itu untuk kepentingan politik. Abang mungkin lupa, bagaimana abang menyingkirkan Rektor Univesersitas Nomensen Medan. Amudi Pasaribu yang alasannya hingga sekarang tidak jelas selain rasa tidak suka abang. Selain untuk kepentingan diri abang dan klien abang.

Amudi Pasaribu kini menjadi korban ambisi pribadi bang. Menjadi korban kepentingan pribadi abang di Universitas Nomensen.

Saya melihat abang sangat keterlaluan memanfaatkan isu agama, sementara abang sendiri juga bertarung untuk diri abang Pribadi, untuk kepentingan abang yang abang buat seolah-olah untuk kepentingan orang Kristen.

Bang Luhut yang saya Hormati

Isu minoritas yang abang kemas dengan cara kurang tepat ini sangatlah tidak pantas, abang mengemas ini demi kepentingan kekuasaan semata. Agama abang jadikan dalil sebagai jalan untuk memecah belah dan menaikkan Jokowi sebagai Presiden idaman abang.

Sebagai seorang Batak Kristen saya sungguh menyesalkan tindakan dan pilihan abang ini. Karena untuk Jokowi abang membenarkan seluruh cara yang sesungguhnya tidak pantas.

Semoga Surat terbuka ini abang baca. Dan orang-orang memahami seperti apa kepentingan kekuasaan abang saat ini.

Komentar pembaca. Komenter-komentar yang muncul terhadap tulisan ini secara kasar dapat dibagi dua. Pertama, pihak yang menyangkan. Kedua, pihak yang merasa tercengang mengetahui siapa sebenarnya Lubut B Panjaitan itu. Pihak pertama pada umumnya tak memberi sanggahan kecuali memojokkan penulis. Misalnya selama ini tak pernah “nongol” di Kompasiana, sekali buat akun langsung membuat posting menghebohkan. Juga disesalkan dengan dugaan akun palsu. Padahal boleh jadi penulis adalah kompasianer lama yang tidak menggunakan akun lama untuk menampung tulisan ini. Dari tutur bahasanya, ia adalah seorang penulis terlatih. Saya menduga, jika pihak apalagi pribadi Luhut B Panjaitan mencoba membantah isi posting ini, maka si penulis akan berterus terang menyebutkan tempat pertemuan, hari, tanggal dan jamnya sekalian. Bahkan mungkin memiliki rekaman yang dapat diunggah untuk konsumsi publik. Tetapi ia seorang yang masih memiliki penghargaan terhadap Luhut B Panjaitan, hingga memilih cara itu. Jadi, menurut saya, tuduhan miring itu semua dapat dipertanggungjawabkannya.

Herannya, seorang yang bagi saya selama ini menganggap Luhut B Panjaitan itu sebagai tokoh nasional malah berkawan dengan anak muda berusia 24 tahun dalam sebuah bisnis furniture. Seorang mantan jenderal bintang empat, berusia 66 tahun, mantan kedubes dan menteri, berbisnis dengan anak seorang walikota yang usianya baru 24 tahun. Apa kata dunia? Jika Luhut B Panjaitan menikah sekitar tahun 1971, setelah menamatkan pendidikan militernya, maka dengan salah seorang putera atau puterinya Paulina, David, Paulus atau Kerri Pandjaitan sajalah cocoknya anak walikota Solo itu berbisnis. Itu baru wajar.

Rosiana Borupaung menurut pengakuannya dalam artikel itu adalah seorang penganut Kristen Batak. Penyesalannya yang sangat dalam terhadap Luhut B Panjaitan menyebabkannya menulis artikel itu dengan antara lain menyergah:

“Saya melihat abang sangat keterlaluan memanfaatkan isu agama, sementara abang sendiri juga bertarung untuk diri abang Pribadi, untuk kepentingan abang yang abang buat seolah-olah untuk kepentingan orang Kristen”.

Dia pun berharap Luhut B Panjaitan membaca artikelnya.

 

 

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: