'nBASIS

Home » ARTIKEL » GAZA

GAZA

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


FOTO

“Jika saat tidurmu masih ada mimpi, maka kumohon bermimpilah sekali ini melempar kepala perdana menteri Israel. Masak dalam mimpi saja kau tak berani?” Ungkapan itu begitu keras diucapkan oleh Suroso, penjual air mineral isi ulang yang hampir setiap waktu sholat berada bersama jama’ah di masjid. Sepuluh hari terakhir ini ia sudah lebih banyak i’tikaf di masjid meski tak menghentikan kegiatan pelayanan air isi ulang ke pelanggan.

“Armada ini yang kita punya untuk membela kehormatan di Palestina. Apa boleh buat. Beritahu saya jika Anda memiliki yang lain: tank, drone, ketapel, ambalang, ultop dan lain-lain, termasuk harambir (kelapa)”. Suroso berkata begitu serius sambil menunjuk-nunjuk beca bermotor miliknya buatan tahun 1983, yang dimodifikasi menjadi pengangkut air mineral isi ulang dari rumah ke rumah selama 3 tahun terakhir ini. Warna beca bermotor itu hitam, merah dan putih, dan tanpa nomor polisi.

Ia melanjutkan, “kalaulah kau punya sebuah ketapel, kira-kira apa tak lebih baik itu kau gunakan membidik para sniper yang ditugasi membunuh orang Palestina? Berapa banyak burung yang mati setiap hari di tanganmu dengan ketapel itu?

Tetapi Suroso mendapat sanggahan Partahian Siburian: “Kau kira Hamas dan Al-fatah itu sepasukan setara Satpol PP? Tidaklah. Tidak. Jangan kau menjadi beban di sana. Kau tak tahu kondisi lapangan. Hamas dan Al-Fatah tak mengharapkanmu di sana yang ketika nanti misalnya sudah tiba di sana kau pun tak tahu harus berbuat apa. Kau jangan jadi beban. Jangan. Jual saja beca bermotormu ini. Hasil penjualannya kau infakkan ke Gaza. Jika setelah itu kau pun menjadi pengangguran karena tak tahan memundak air mineral isi ulang dari satu ke lain rumah pelanggan, itu urusan lain”.

Di sana beda, kawan, lanjut Partahian Siburian. “Kau kira anak muda di sana sok-sok galak macam preman di tempat tinggalmu yang hidupnya dari modus menakut-nakuti rakyat? Tidak kawan. Bahkan peluru Israel pun merasa rugi kalau memembus kepala orang-orang seperti preman yang luntang-lantung di sekitar tempat tinggalmu itu. Di sana tak ada orang lagak. Tidak ada. Semua orang ingin menjadi bagian dari jihad.

Kau tentu tak ingin dianggap bodoh karena berencana pergi ke Gaza dengan modal apa adanya. Mendengar letusan saja kau tak terbiasa, apalagi ditimpa bom yang merontokkan gedung-gedung. Kau harus tahu, bukan undangan buka puasa bersama yang mereka nantikan setiap sore bulan ramadhan begini. Bukan seperti di kampungmu itu bahwa saat-saat akhir ramadhan begini THR selalu dijadikan sebagai isyu pengacauan hingga antara siapa dengan siapa yang tak memiliki hubungan kerja buruh-majikan pun kerap ada teriakan tentang THR tanpa dasar. Mereka di sana itu ksatria, kawan. Tak ingin hidupnya manderen (memeras) terus seperti preman itu.

Jangan kau salah. Bukan narkoba pembunuh nomor satu di sana. Bukan pula geng motor mainan politik itu. Di sana setiap ibu yang melahirkan telah sangat berharap anaknya mampu melempar batu ke Israel. Meski sangat tak mungkin, mereka sebetulnya berharap dapat melahirkan setiap hari. Mereka, kaum ibu Palestina itu, sudah berjanji kepada diri sendiri bahwa rahim mereka hanya akan melahirkan para pejuang. Bukan anak-anak yang diperkirakan akan masuk penjara saat usia belasan tahun karena hampir pasti ditangkap polisi untuk kasus narkoba yang 100 % tak akan terhindarinya karena memang polisi merasa dirinya sudah sangat benar berstatus tak berdaya atau membiarkan terpasar-luasnya narkoba itu di masyarakat. Juga bukan anak yang setelah mendapatkan otoritas membawa sepeda motor sendiri lalu ngebut dan mati sia-sia di jalan karena menabrak sesuatu, padahal kredit sepeda motornya baru terbayar dua bulan dan uang muka pembeliannya pun diperoleh dari hasil penjualan tanah warisan. Anak-anak di Palestina tidak diwariskan hutang yang besar oleh ibu yang melahirkan atau pemerintahan yang berjuang membela kehormatan.

Bantal mereka diterjang peluru berkali-kali. Tidur mereka pun pastilah sebuah kompromi yang amat tak masuk akal dan kurang lebih menjadi usaha mengingkari naturalitas jasadiah. Itu Gaza, kawan. Itu Palestina.

Ya, di sana tak akan kau temukan bocah yang kegirangan karena puas menonton serial cartoon yang lucu- lucu. Mereka juga tak beroleh hak yang luas untuk tahu lebih banyak siapa Leonel Messi, Neymar Jr, Ozil dan Christiano Ronaldo yang menjadi buah bibir saat piala dunia sepakbola kemaren. Tahukah kau, mereka telah dikonstruk oleh kejahatan perang, dirampas tak boleh beribu, berbapa dan bersodara secara normal karena tak seorangpun di dunia ini yang dapat menjamin tak dijemput maut dalam waktu terdekat, karena Israel menginginkan nyawa ibu, bapa dan sodara-sodara mereka.

Anak-anak yang meraung saat ibu dan bapanya meregang nyawa atau anak-anak yang berteriak “jangan bawa ibuku, jangan bawa bapakku”, saat orang yang mereka cintai diseret oleh tentara Israel sambil mengacung-acungkan senapan mesin. Semua itu sangat baik jika kau teriakkan ke kuping Perdana Menteri Israel. Agar tak hanya Obama dan Ban Ki Moon yang beroleh malu, tetapi juga sahabat-sahabat pembunuh mereka yang haus darah di Israel juga bisa mengutuk dirinya sendiri. Itulah yang kita perlu rancang”, tegas Partahian Siburian.

“Kalo begitu tunggu apa lagi?”, Tanya Suroso. Tetapi Partahian Siburian hanya berucap lirih: “Pada dasarnya kita semua sangat penakut, sangat bodoh, sangat miskin dan tanpa solidaritas. Tetapi mengapa masih dalam kondisi objektif yang sama kita semua pernah merasa sangat berani dan membuktikan keberanian itu, sangat pintar dan membuktikan kepintaran itu, berkecukupan dan sangat kompak? Kau sudah tahu mereka di Palestina menangis bukan lagi karena duka pribadi belaka. Maukah kau diajak menangis untuk Palestina? Kalau kau tidak mau menangis, maka mestinya kau harus ikut melawan. Kita harus tunjukkan sesuatu untuk membela Palestina. Ayo !

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakli diterbitkan oleh Harian Waspada, Senin 21 Juli 2014, hlm B5


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: