'nBASIS

Home » ARTIKEL » KEADILAN DAN ISIS

KEADILAN DAN ISIS

AKSES

  • 557,706 KALI

ARSIP


Saya tak pernah berharap sama sekali Menteri Agama dan orang-orang seperti Ahmad Syafi’i Ma’arif berteriak lantang sembari memperolok-olok Barat dan segenap agendanya. Bukan. Wibawa dan kehormatan mereka sebagai apa pun tidak memadai untuk itu terlebih dengan noktah (cap) sebagai orang-orang dari Negara terbelakang dan eks jajahan. Tetapi bukankah mereka ini berkewajiban menerangkan secara cerdas mengapa umat Islam dunia sangat berhak atas hak-hak normatif seperti martabat dan kemajuan? Mereka sudah harus berhenti menjadi pemalu, peragu dan apalagi penakut.

“Islam adalah agama kutukan”. Itukah yang sedang didesign secara luas saat ini? Di mana-mana kesan deferior dan reaktif serta parochial Islam mengemuka. Tidak ada kewibawaan politik dan budaya. Terbelakang dalam ekonomi, begitu juga dalam peradaban, ilmu pengetahuan dan teknologi. Kesan itukah yang sedang dibangun oleh kekuatan ekonomi dan politik dunia?

Di mana-mana umat Islam disudutkan, bahkan di tempat-tempat yang selama ini oleh peta ditandai sebagai “rumahnya” (Islam) sendiri. Di Australia, Amerika dan Eropa, misalnya, karena selama ini dianggap sebagai wilayah baru peta Islam yang sedang tumbuh, dan karena itu pula terdapat keasingan pandangan terhadap Islam dan umat Islam, seakan lazimlah terdapat perlakuan-perlakuan yang tak seirama dengan faham universal HAM.

Perkelahian yang memilukan belum pernah berhenti di Timur Tengah, dan di sana seakan tidak ada makna ukhuwah, baik yang dapat dimaknai dalam rumpun ras maupun aqidah. Sangat memilukan menyaksikan detik-detik kejatuhan para pemimpin mereka beberapa waktu lalu, seolah negeri-negeri itu hanya ibarat kedai yang sahamnya bisa atau dapat diperjual-belikan untuk memindah-tangankan pengelolaan dan perubahan radikal menu pelayanan. Palestina memiliki siklus tetap untuk diperlakukan buruk secara eskalatif dari waktu ke waktu, dan umat Islam tak boleh selain berteriak terbatas di masjid masing-masing. Anehnya PBB tak menganggap darah dan kematian massal sebagai dasar yang kuat bagi agenda kajian untuk melahirkan sikap terhadap Palestina.

Indonesia. Bagaimana dengan Indonesia? Inilah sebuah rumah besar umat Islam dunia yang sudah lama sekali dikenal luas dalam peta politik, ekonomi dan budaya. Tetapi ia tak pernah dewasa. “Dipukuli” di rumahnya sendiri pun sudah sangat lazim. Memang, Bali itu kerap lebih dikenal ketimbang Indonesia dalam peta turisme internasional. Tetapi tidaklah karena itu orang Bali menjadi boleh menganggap dirinya lebih tahu tentang bagaimana umat Islam yang hidup di situ menjalani hidupnya sehari-hari dan memang hukum mana pun tak memperbolehkan mereka mendikte sesama warga meski berbeda agama. Mereka wajib tahu dan mengerti bagaimana muslim menjalankan syariatnya, dan memastikan bahwa hal itu tidak akan pernah menjadi ancaman buat mereka dengan kehendak sebali apa pun itu. Masih banyak contoh untuk kasus serupa ini di Indonesia.

Indonesia sebagai Negara berpenduduk mayoritas beragama Islam jelas sekali tak diperhitungkan kecuali dalam hal kepentingan subjektif kekuatan dunia. Bayangkanlah Rohingya yang dibantai terus-menerus dan para pelariannya sudah terbirit-birit sampai ke sini. Para jagal di sana tak pernah berhitung akan sebuah tindakan balasan oleh orang muslim di Indonesia. Mereka sudah menghitung bahwa Indonesia itu tak ada apa-apanya karena bodoh dan miskin serta fragmentasi politik dan ekonominya yang buruk. Badan-badan dunia tidak akan memberi respon baik untuk perlakuan seburuk apa pun. Mereka tahu itu, sebagaimana orang Cina dan Filipina tahu tak aka nada reaksi dunia ketika mereka melakukan penistaan-penistaan terhadap umat Islam di negerinya.

Para pemimpin (Islam) di negeri ini (Indonesia) sudah sangat terbiasa dengan faham kedamaian terbatas dan tak pernah mengalami progress. Kedamaian dikonsepsikan sangat sempit dalam bingkai “tuhan” baru nasionalisme yang tumbuh seiring reorganisasi Negara-negara eks jajahan di dunia khususnya pasca perang dunia kedua. Terkadang idiom-idiom mereka diciptakan oleh orang-orang lain yang mengkondisikan kebodohan mereka sebagai justifikasi. Misalnya ketika tokoh-tokoh intelektual di sini secara lantang berkata senu “tiada tuhan selain tuhan”, “Islam tak pernah mengkonsepsikan Negara”, “Islam hadir di Indonesia bukanlah Arabisasi”, dan ungkapan-ungkapan pedas lainnya yang melukiskan perasaan MC sekaligus ketegaan melakukan pengkhianatan atas agama sendiri. Kegairahan mempelajari Islam sejak lama telah dibingkai sebatas nasionalisme sempit dengan segenap instrumen-instrumen pengekangan. Ambil sebuah contoh tentang ritus besar tahunan bernama hajj. Hajj itu sejatinya adalah kongres umat Islam internasional yang tak memantangkan diplomasi politik dan perdangangan serta kemajuan iptek dan teknologi di antara orang paling banyak berkumpul dalam sejarah dunia sepanjang masa. Tetapi untuk Indonesia hajj adalah urusan embarkasi (keberangkatan) dan debarkasi (kepulangan) belaka, dan di sela-selanya akan ada tepung tawar dan pesta-pesta makan. Titik sampai di situ.

Umat Islam di Indonesia, dalam kaitannya dengan gerakan-gerakan radikal yang bersifat lokal maupun mendunia, selalu tak pernah memberi inspirasi penting untuk solusi. Ini akibat fragmentasi yang sudah terbentuk, dan itu terkait dengan bagaimana Belanda mendesign devide et impera semasa mereka menguasai negeri ini tempohari.

ISIS. Edward Snowden sudah angkat bicara dari pelariannya tentang keterlibatan 3 negara (Amerika, Inggris, dan Israel) dalam pembentukan ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Ia yang sekarang ini sedang dalam buronan Amerika karena membocorkan banyak informasi intel yang tidak seharusnya disebarkan kepada media menegaskan bahwa ISIS diciptakan sebagai strategi mengumpulkan semua teroris ekstrimis dari seluruh dunia pada 1 tempat. Kanalisasi ini lazim disebut the hornet nest dengan maksud untuk mempermudah memberantas terorisme di dunia.

Menurut Snowden ISIS adalah organisasi yang belum lama berdiri dan tiba-tiba saja menjadi organisasi besar dengan jumlah kekayaan di atas 500 juta dollar Amerika (di atas Hezbollah dan Hamas) dan dinyatakan bahwa dana tersebut diperolehnya dari kucuran dana pemerintah Amerika dan Israel. Beberapa tujuan lain dengan dibentuknya ISIS antara lain disebutkan ialah untuk menguasai wilayah di sepanjang Sungai Efrat dan Tigris di samping daerah yang memiliki ladang minyak besar di Irak dan Suriah. Setelah dikuasai oleh ISIS, Amerika akan turun ke wilayah tersebut atas dasar kepentingan bersama untuk memerangi ISIS. Hal-hal teknis untuk tujuan itu seperti menurunkan Rezim Bashar al-Assad di Syria, memerangi Hezbollah dari dalam dengan dasar keyakinan (Sunni vs Syiah), membuat gejolak kehidupan bermasyarakat di daerah Asia Tenggara terutama Indonesia dan Malaysia, dianggap menjadi turunan belaka yang sangat urgen dipelihara. Institusi-institusi perpanjangan tangan mereka, berapa pun biaya untuk itu, dibangun dan difasilitasi software maupun hardwarenya. Tentu saja tidak akan ada konfirmasi Amerika dan Inggris, bahkan mereka sudah sangat terlatih mengantisipasi untuk menegasikan keterlibatan mereka.

Simplistis. Menteri Agama secara luas telah diberitakan mengutuk ISIS yang menurut berbagai informasi sudah berkembang di Indonesia. Tetapi ia hanya mau aman saja dengan menyebut ISIS bertentangan dengan ideologi Pancasila. Pernyataan seperti ini sangat awam, dan tukang beca yang tak berpendidikan sekali pun akan mampu menyatakan hal serupa, apalagi setelah digambarkan bahwa ISIS itu adalah gerakan transnasional terror yang memusuhi perdamaian dan kemanusiaan serta menganggap pembunuhan sebagai hal lazim untuk mencapai tujuannya yang jahat.

Menteri Agama RI ternyata tidak berkepentingan menjelaskan asbabunnuzul dalam kerangka sosiologis, historis dan politis mengapa selalu ada radikalisasi yang berujung pada kekerasan. Radikalisasi bukanlah sesuatu yang patut disematkan sepihak kepada agama Islam dan umatnya. Ia merupakan gejala pasti yang berlaku universal ketika keadilan dianggap barang dagangan komersil belaka dan dengan takaran-takaran cacat konsepsi. Penindasan halus maupun kasar yang melahirkan ketidak-adilan akan menimbulkan radikalisasi (cepat atau lambat) dengan segenap turunannya. Di mata Belanda, misalnya, semua pahlawan pergerakan yang menentang kekuasaan Belanda adalah ekstrimis dan teroris. Memang tak sehari Indonesia ingin merdeka dan langsung tercapai. Tiga ratus lima puluh tahun masa jajahan itu lebih dari cukup untuk menjelaskan bahwa tak mudah menyuarakan keadilan. Itu yang mesti diketahui.

Mungkin, sekiranya orang-orang seperti Ahmad Syafi’I Ma’arif diberi kewenangan atas nama Negara, terkesan ia akan melakukan pemberangusan semberono atas bibit-bibit radikalisasi. Itu terkesan dari ungkapan-ungkapannya setiap kali dimintai pendapat oleh media yang begitu lantang menyalahkan tanpa memberi eksplanasi yang memadai. Ahmad Syafi’i Ma’arif sudah sangat perlu disadarkan bahwa mencaci-maki umatnya sendiri tidak menolong apapun kecuali secara pasti mengesahkan fakta-fakta keburukan tindakan yang diperlukan secara legimiated oleh Negara dan gabungan negara-negara serta lembaga-lembaga yang menjadi perpanjangan tangannya. Padahal mestinya orang sekaliber Ahmad Syafi’i Ma’arif harus secara kuat dan konsisten terus berusaha untuk menjadi mentor presiden dalam bidang agama, peran yang mestinya juga menjadi tugas utama bagi sesiapa pun yang ditunjuk menjadi Menteri Agama di Indonesia. Alasannya sederhana, tak hanya di masa silam, dan sampai kapan pun presiden di Indonesia kan sudah seolah-olah “haruslah” kompromi yang dimenangkan oleh kalangan sekuler atau bahkan mungkin anti agama secara substantif meski menyukai ornamen-ornamen luaran yang meneguhkan kesan bahwa di sini masih ada agama. Selagi politik Islam atau Islam Politik hanya menyajikan fakta keberhasilan yang membuatnya jutsru lebih cenderung sebagai penumpang di sini, selama itu pula ia tak akan didengar ketika membicarakan aspirasinya tentang kepemimpinan nasional.

Saya tak pernah berharap sama sekali Menteri Agama (Menteri Agama-Agama) dan orang-orang seperti Ahmad Syafi’i Ma’arif berteriak lantang sembari memperolok-olok Barat dan segenap agendanya. Bukan. Wibawa dan kehormatan mereka sebagai apa pun tidak memadai untuk itu terlebih dengan noktah (cap) sebagai orang-orang dari Negara terbelakang dan eks jajahan. Tetapi bukankah mereka ini berkewajiban menerangkan secara cerdas mengapa umat Islam dunia sangat berhak atas hak-hak normatif seperti martabat dan kemajuan? Mereka, termasuk tokoh dari organisasi-organisasi Islam, sudah harus berhenti menjadi pemalu, peragu dan apalagi penakut.

Penutup. Fenomena ISIS dan sejenis ( dari masa lalu maupun yang akan muncul pada masa depan) mestinya hanyalah sebuah respon atas situasi dan berdasarkan kajian-kajian gerakan sosial baru (New Social Movement) adalah merupakan fungsi dari ketidak-adilan yang nyata. Gerakan sosial tak lebih sebagai politik perlawanan yang terjadi ketika rakyat biasa yang bergabung dengan kelompok masyarakat yang lebih berpengaruh menggalang kekuatan untuk melawan para elit, pemegang otoritas dan pihak-pihak yang dianggap sebagai lawan dan yang dinyatakan sebagai pihak paling bertanggungjawab atas terjadinya ketidak-adilan.

Saya sepakat dengan Rajendra Singh ketika ia menyebut bahwa Gerakan Sosial (Baru) selalu menaruh konsepsi ideologis mereka pada asumsi bahwa masyarakat sipil tengah meluruh, ruang sosialnya mengalami penciutan dan aspek masyarakat sipil tengah digerogoti oleh kemampuan kontrol para penguasa yang boleh jadi Negara atau kekuatan yang lebih besar dari itu. Karenanya, isyu utama adalah membangkitkan kesadaran “pertahanan diri” komunitas dan masyarakat guna melawan meningkatnya ekspansi yang sangat mengkhawatirkan. Kalau begitu, marilah kita buat Indonesia dan dunia menjadi adil. Mau gak?

 

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada Medan, Senin, 4 Agustus 2014, hlm B7

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: