'nBASIS

Home » ARTIKEL » ISLAM DI INDONESIA

ISLAM DI INDONESIA

AKSES

  • 557,706 KALI

ARSIP


“Awamisasi” Islam menjadi sangat penting dengan makna bhw dekonstruksi tradisi kependetaan model Kristen dan Katholik direduksi sebesar-besarnya, sembari mengembangkan jalan baru menuju Islam yang tdk konvensional.

Ancaman terbesar untuk Islam di Indonesia muncul dari internal umat Islam sendiri meski tak boleh dilupakan kekalahan demi kekalahannya dalam bersaing dengan agama missionaristik lainnya.

Ketika komunitas muslim meniru tradisi kependetaan dalam Kristen dan Katholik, stagnasi Islam secara kualitatif dan kuantitatif tidak bisa ditepis. Bayangkanlah jika hanya (mungkin tak sampai) belasan persen orang saja yang pemahamannya cukup baik terhadap agama yang berajaran berbahasa Arab ini.

“Awamisasi” Islam menjadi sangat penting dengan makna bahwa dekonstruksi tradisi kependetaan model Kristen dan Katholik direduksi sebesar-besarnya, sembari mengembangkan jalan baru menuju Islam yang tidak konvensional. “Awamisasi” ini bermakna kuat untuk pencerdasan dan pencerahan, sehingga jangankan washilah, ketidak-tahuan atas ajaran agamanya sendiri pun mestinya tidak boleh. Awamisasi ini juga bermakna pendongkrakan pemahaman sehingga (misalnya) tak begitu mudah kalimat-kalimat “rahmatan lil alamien” diterjemahkan malah sebagai pencacian terhadap Islam yang terus-menerus disudutkan.  Belakangan ada maksud jahat di balik pengemukaan kalimat ini, yakni sekadar menegaskan bahwa Islam di Indonesia itu tidak toleran dan barbar. Juga harus depensif, tak boleh melawan jika dihinakan.

Memang ada kesulitan dengan fakta bahwa Islam berkitab suci berbahasa Arab. Karena itu pendidikan keluarga muslim tidak cukup hanya dalam keluarga itu sendiri melainkan institusi-institusinya wajib diperbaiki. Dalam tradisi pengajaran Islam selama ini, lazim ada kitab suci (Al-qur’an) berterjemah (Indonesia dan bahasa lain). Tetapi untuk Indonesia Al-qur’an berterjemah bahasa lokal masih belum pernah terpikirkan. Selain itu, jika dibandingkan dengan pengikut agama lain (Katholik dan Kristen mnisalnya) buku kitab suci lazim dimiliki oleh setiap orang. Islam di Indonesia mengabaikan ini. Tidak ada data yang akurat tentang apakah setiap rumah tangga memiliki Al-qur’an.

Ada tradisi bagus yakni wirid. Tetapi tidak berkembang memfasilitasi kemajuan. Mereka lazim hanya membaca sebuah surah (Yaasin) dengan dipimpin oleh seorang “ahli”. Selesai. Mungkin soliditas dapat muncul, tetapi tidak untuk yang lain.

Posisi ekonomi umat Islam begitu lemah, dan usta-ustaz yang sudah kadung dianggap motor tidak memiliki kompetensi apa pun dalam bidang itu. Mereka hanya tahu “membagi ticket ke surga” dgn cara mereka sendiri.

Akhirnya imamah sangat penting.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: