'nBASIS

Home » ARTIKEL » KOTA MEDAN: COPOT MENCOPOT

KOTA MEDAN: COPOT MENCOPOT

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


Saya ingin ada tersangka yang mau menjadi martir yang berusaha membuktikan bahwa uang yg dituduhkan dikorupsinya bukan untuknya saja. Karena publik tahu bahwa setiap kerugian negara tak selalu karena seseorang benar-benar memulasnya untuk dirinya sendiri. Dalam wujudnya korupsi itu kerap harus ditemukan dalam bentuk yang hanya mungkin terjadi secara berteman (kita tak gunakan istilah jama’ah yang terlalu menghina itu).

Ini sebuah pertanyaan serius dari seorang jurnalis yang diajukannya lewat inbox FB dan yang saya jawab pada jalur yang sama: “Bang banyak pejabat pemko jd tersangka, apa layak dicopot”. Ini jawaban saya:

Jika ingin bersih memang semua orang bermasalah dalam tubuh pemerintahan harus “diamputasi” saja. Tapi jangan salah, dalam model penegakan hukum saat ini belum tentu seorang tersangka bahkan terpidana lebih buruk dari orang yang tak tersangka dalam satu organisasi pemerintahan yang sama. Banyak kelucuan memang.

Perhatikanlah kelucuan yang kerap terjadi. Kerap APBD dianggap bagus dan yang menyatakan itu lembaga resmi yang membuat audit (BPK) atas nama negara, tetapi banyak orang (pengguna anggaran APBN maupun APBD) tersangka. Juga kerap terjadi sebaliknya, APBN dan APBD dianggap sangat buruk tetapi tak pernah ada tersangka di antara pengelolanya. Bagaimana bisa terjadi? Itu karena konsepsi penegakan hukum terhadap korupsi sama sekali tidak benar.

Nak kembali ke pertanyaan Anda. Jika pejabat itu dipertahankan meski sudah tersangka, maka kesan tidak konsisten terhadap penegakan hukum sukar dibantah. Memang peradilan baru dianggap selesai ketika vonis sudah inkracht (benar gak cara menulis istilah hukum ini ya) terhadap sebuah perkara. Tapi mencapai itu tidak selalu dapat dalam jangka waktu pendek misalnya sebulan atau tiga bulan. Karena itu, agar tak menjadi bagian dari beban yang secara moral memberatkan pemerintah, dan agar pak tersangka itu fokus hadapi kasusnya (ha ha ini bahasa klise yang saya catat dari orang-orang besar di jajaran politik), lbh baik diganti dengan pejabat baru yang lebih baik secara kompetensi maupun integritas (jika ada; jika tak ada mau apa?)

Saya ingin nanti ada tersangka yang mau jadi martir yang berusaha membuktikan bahwa uang yang dituduhkan dikorupsinya bukan untuknya saja. Karena publik tahu bahwa setiap kerugian negara tak selalu karena seseorang benar-benar memulasnya untuk dirinya sendiri.

Sudah luas duketahui bahwa sama seperti korupsi politik, orang terpaksa melakukannya untuk pengembalian modal karena tidak ada jabatan yang tak diraih dengan uang (korupsi). Ini jika kita tidak sekadar ingin menyalahkan tersangka tanpa ingin mengetahui anatomi korupsi yang sudah membudaya dalam tubuh sebuah pemerintahan (sebuah negara).

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: