'nBASIS

Home » ARTIKEL » KOTA MEDAN: SIDAK DAN MUTASI

KOTA MEDAN: SIDAK DAN MUTASI

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


Ingatlah KPK yang kini hanya menangkap orang-orang kecil saja seperti Anas, Nazar, Syamsul dan sekelas itu. Harus pula diingat bahwa korupsi tak hanya menyangkut belanja negara yang ada dalam APBN dan APBD. Itu kecil dibanding keseluruhan uang milik Indonesia dan potensinya.

Jefri, seorang jurnalis di Medan, memberitahu saya tadi sore: “Pak Eldin sidak ke Catpil dan menemukan seorang warga sedang transaksi (rp 50.000) dengan pegawai di sana”. Kata Jefri, kemungkinan pegawai itu akan mendapat sanksi berupa mutasi. Ia minta tanggapan saya:

(1) Itu bagus. Mudah-mudahan tak sekadar memberi kesan dan hanya kesan, tak menyintuh substansi pemberantasan kejahatan abuse of power di pemerintahan kota.

(2) Zaman saiki orang paling nyaring berteriak anti korupsi boleh jadi adalah koruptor terbesar. Saya percaya Ahok ketika berucap: “bagaimana orang bisa kaya raya hanya duduk di mejanya sebagai pejabat negara? Bagaimana bisa? Periksa pajaknya. Periksa gaji dan pendapatannya. Pasti janggal”. Ahok bukan orang luar biasa pintar. UU dan peraturan yang dibacanya sama dengan yang dibuat oleh para petinggi negara itu. Ini soal cara berpikir dan budaya, serta anggapan sebagai apa negara dalam pikiran (bisa sebagai perusahaan pribadi).
Jadi, jika ada orang yang benar-benar ingin melawan korupsi, ia akan memulai dari dirinya sendiri serta memastikan ia tak bagian dari masalah dan ia tak disandera oleh masa lalu yang hitam.

(3) BPK adalah akuntan resmi negara yang setiap tahun melakukan evaluasi dan memberi rekomendasi. Menurut saya, hal itulah dulu dibenahi oleh pak Eldin, agar nanti mendapat predikat tertinggi dari BPK dalam hal pengelolaan uang negara. Kemudian memastikan ia bukan bagian dari korupsi, misalnya pemberi upeti ke kanan, kri dan ke atas, dan juga bukan penerima upeti dari bawah. Banyak orang yang kini mendekam dalam lapas bukan karena benar-benar merugikan uang negara, tetapi secara administratif terbuktikan bahwa perannya seakan merugikan keuangan negara meski ia tak menikmatinya. Itu karena mereka memberi upeti, dan upeti itu tentu bukan diambil dengan cara menjual rumah dan mobilnya melainkan dari uang negara itu.

(4) Pemberantasan korupsi di negeri kita adalah sebuiah sandiwara besar. Ingatlah KPK yang kini hanya menangkap orang-orang kecil saja seperti Anas, Nazar, Syamsul dan sekelas itu. Harus pula diingat bahwa korupsi tak hanya menyangkut belanja negara yang ada dalam APBN dan APBD. Itu kecil dibanding keseluruhan uang milik Indonesia dan potensinya.

(5) Wikileaks telah membuka rahasia kita, bahwa saat pencetakan uang negara tukaran 100.000 tahun 2009 terjadi korupsi. Meski pun kita berteriak minta klarifikasi kepada Australia, itu tak membuktikan bhw kita tak terlibat korupsi yang dituduhkan oleh Wikileaks itu.

(6) Kita memiliki ayam sekandang. Pintunya dijaga musang. Berapa ekor satu hari konsumsi untuk musang itu? Karena ia cukup gizi maka ia pun kawin dan beranak pinak. Satu saat yang tal begitu lama musang itu pun akan meninggalkan kandang karena ayamnya sudah habis mereka cicil.

(7) Saya percaya niat baik Eldin. Teruskanlah.

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: