'nBASIS

Home » ARTIKEL » KEADILAN DAN ISIS (2)

KEADILAN DAN ISIS (2)

AKSES

  • 512,201 KALI

ARSIP


AMPAU

Siapa lagi yang belum angkat bicara tentang ISIS (Islamic State of Irak and Suriah)? Ayolah. Bicarakanlah semua. Buatlah menjadi tuntas. Jangan hanya dari kulit luarnya saja. Jelaskan akar-akarnya. Jangan hanya sekadar menuduh ISIS itu brutal, sadis, bertentangan dengan Pancasila dan perlu dikutuk dan ditakuti. Coba digunakan cara berfikir Sidney Jones ketika ia mengkritik pihak kepolisian yang menurutnya tak mampu menjelaskan sebuah konteks peristiwa perlakuan terhadap teroris yang diunggah dalam sebuah video di media.

Setelah menyaksikan sebuah video yang mengungkap “kekejaman” Densus 88, penasihat senior International Crisis Group (ICG) untuk Indonesia, Sidney Jones, 7 Maret 2013 yang lalu, berkata: “Dari video itu sama sekali tidak dijelaskan oleh yang menyebarkan video itu atau oleh bagian humasy kepolisian sendiri. Dan saya kira penting sekali orang mengerti bahwa video itu terjadi pada hari yang paling berdarah dan yang paling kejam dalam sejarah Densus 88 pada tanggal 22 Januari 2007, waktu ada perang, betul-betul perang, dan yang disebut korban dalam video itu adalah kelompok yang bersenjata yang selama 8 jam berperang dengan polisi. Jadi, menurut saya penting. Kenapa para penyebar video itu tidak menjelaskan konteksnya? Bahwa ada kampanye yang sistematis dan terorganisir supaya Densus dibubarkan yang diselenggarakan oleh suatu kelompok ormas Islam garis keras dengan tujuan macam-macam. Tapi ini bukan sesuatu yang spontan yang muncul dari masyarakat karena mereka marah kepada Densus 88, tetapi sebagai akibat kampanye yang sistematis”.

Siapa pun, kelompok mana pun, yang sedang diadili atau bahkan dicerca habis-habisan, adalah berhak dan tidak pernah kehilangan hak untuk sebuah penjelasan secukupnya yang menggiring publik kepada pemahaman yang baik. Sydney Jones adalah orang penting dalam tugas memerangi kelompok Islam (radikal) dan dalam posisi yang sangat kuat sekali pun, nyatanya tetap memerlukan pembelaan. Ia ingin sekelumit opini lewat video yang ditayangkan tidak dilepas begitu saja tanpa konteks, tentu konteks yang subjektif menurut dia.

Setia Pancasila. Mengkonfrontasikan dengan Pancasila sudah menjadi kelaziman (pemerintah) dalam rangka memerangi arus pemikiran, gerakan atau kelompok tertentu sembari menekankan aspek-aspek vulgar seperti kesadisan (perang) dan tindakan-tindakan tidak-manusiawi lainnya. Ini juga perlu konteks, bahwa jika sebuah perang terjadi, di mana saja, akan selalu ada kemungkinan kejadian yang tak selalu dikehendaki. Perang kemerdekaan bangsa mana pun, pastilah bukan diplomasi yang dipenuhi kata-kata manis dalam iklim diplomasi yang diwarnai oleh suasana pesta dengan anggur dan makan-makanan lezat.

Setia Pancasila begitu penting bagi bangsa Indonesia. Kita sudah saksikan kerusakan demi kerusakan pada masa lalu dan pada masa kini, akibat tak setia Pancasila. Mereka korupsi, menghancurkan masa depan bangsa dan Negara dengan pembiaran dekandensi moral seperti peredaran narkoba yang seolah tanpa halangan sebagaimana kita rasakan sekarang. Pemegang tanggung-jawab dalam bidang ini jangan hanya tahu menuduh setiap orang yang bersalah dengan cap anti Pancasila.

Saya tidak tahu bagaimana pendapat para pejabat yang begitu mudah memberi cap anti Pancasila ini terhadap visi dan misi Capres Jokowi-JK yang menegaskan bahwa Pancasila mereka adalah Pancasila 1 juni 1945. Pancasila 1 Juni 1945 memang harus dicatat dalam sejarah sebagai salah satu “masukan” dari salah seorang pendiri bangsa. Tetapi kini Pancasila versi itu tidak dikenal (lagi) di Indonesia, bukan Pancasila yang kita ucapkan pada setiap upacara; bukan Pancasila yang termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 dan bukan Pancasila yang terpampang di kantor-kantor pemerintahan.

Karena itu, apa yang dilaporkan oleh Maryono, Ketua Komite Intelijen Daerah (Kominda), yang menyatakan bahwa tokoh utama Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Bekasi telah mengaku bahwa dirinya tidak mengakui Pancasila sebagai ideologi walaupun ia tinggal di Indonesia, tidak menjadi aneh. Bolehlah Maryono mengatakan bahwa jika tidak mengakui Pancasila tidak usah tinggal di Indonesia. Ucapkan juga kalimat yang sama kepada Jokowi-JK. Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Pancasila 1 Juni 1945 versi Soekarno adalah (1) Nasionalisme (Kebangsaan Indonesia), (2) Internasionalisme (Perikemanusiaan), (3) Mufakat atau Demokrasi, (4) Kesejahteraan Sosial, dan (5) Ketuhanan yang Berkebudayaan. Kemudian, mengacu kepada Soekarno, kelima sila itu pun dapat diperas menjadi Trisila, yaitu (1) Sosio nasionalisme, (2) Sosio demokrasi dan (3) Ketuhanan. Jangan lupa, Pancasila 1 Juni 1945 yang dapat diperas menjadi trisila itu pun masih dapat diperas lagi menjadi eka sila, yakni Gotong Royong.

ISU Pesanan? Kedutaan Besar Amerika Serikat di Beirut diberitakan telah menolak klaim sejumlah kabar di media sosial setempat sembari menyangkal klaim bahwa Amerika Serikat (AS) adalah sang pembuat dan membenarkan berdirinya ISIS yang dihebohkan itu. Konon sebuah konfirmasi dari Hillary Clinton yang ditemukan dalam memoarnya berjudul Hard Choice telah memicu kesimpang-siuran itu. Tetapi Barack Obama telah mengungkapakan kemaren bahwa serangan udara negaranya sejauh ini sukses menghancurkan persenjataan ISIS dan peralatan bergeraknya di Irak. Desakannya ialah, rakyat Irak harus bersatu untuk membentuk sebuah pemerintahan nasional dan itu dimaksudkan agar mampu menghadapi masalah-masalah yang mereka hadapi sendiri. Pokoknya kini dunia sudah harus menganggap bahwa Amerika sudah memiliki “tiket” sangat legal untuk meneruskan intervensinya. Indonesia juga tidak boleh bersungut-sungut tentang itu, karena atas nama Pancasila dan program anti terorisme serta wawasan kebangsaan, eksistensi ISIS itu “haram”, dan Amerika itu tentu saja sangat bisa menjadi rekan dalam upaya menciptakan keamanan dan stabilitas, tak hanya untuk kasus Timur Tengah kecuali Palestina tentunya bukan?

Kondisi ini sudah cukup memadai untuk menghindari Indonesia menyibukkan pemikirannya terhadap penistaan di Palestina. Juga mungkin biusa mengalihkan perhatian dari kebobrokan pilpres yang kini sedang diadili oleh Mahkamah Konstitusi.

Tetapi mungkin Indonesia perlu tahu sikap seorang menteri dalam pemerintahan Inggris, seorang wanita Muslim pertama yang duduk di kabinet di negeri itu, yang memilih mengundurkan diri karena kebijakan pemerintahnya tentang Gaza. “Dengan sangat menyesal saya pagi ini harus menulis kepada Perdana Menteri & mengajukan pengunduran saya. Saya tidak bisa lagi mendukung kebijakan Pemerintah di Gaza”. Begitu katanya. Keteguhan sikap dan kecerdasan pemikiran wanita ini perlu menjadi pelajaran di mana pun, termasuk di Indonesia.

Penutup. Bang Rhoma ketika diwawancarai oleh sebuah televise swasta akhir pekan lalu menegaskan pendapatnya bahwa teror tidak ditolerir agama mana pun. Apalagi Islam. Akarnya harus diperbaiki. Negara harus mampu berdiplomasi. Negara adi daya itu memiliki double standard. Perlawanan kepada double standard yang tidak adil itu memang bisa beragam. Teroris itu melakukan sesuai kapasitas mereka menghadapi yang mereka anggap musuh yang sangat besar dan bukan imbang mereka. Kita sebagai negara punya kewajiban sebagaimana disebut oleh Pembukaan UUD 1945. Jihad itu bisa berbagai bentuk: jiwa, harta dan pikiran.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada Medan, 11 Agustus 2014, hlm B5


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: