'nBASIS

Home » ARTIKEL » GATOT PUJO NUGROHO DAN PARTAINYA

GATOT PUJO NUGROHO DAN PARTAINYA

AKSES

  • 512,606 KALI

ARSIP


Sore ini saya baru menjawab pertanyaan seorang jurnalis lokal (Medan). Pertanyaannya demikian:

Bang minta komentar tentang ketidak cocokan pks dengan gatot sehingga menuding gatot pencuri tersellubung
 
Bagaimana jika pertanyaan yang sama ditujukan kepada Anda? Apa jawaban Anda? Bisa saja kita berbeda pendapat tentang ini. Tetapi inilah jawaban saya kepada jurnalis itu.

Sebelum ini saya hanya mendengar kabar burung tentang kader PKS Gatot Pujo Nugroho (GPN), yang kini menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara, yang kurang harmonis dengan partainya, termasuk jajaran legislatif di DPRD Sumatera Utara (Fraksi PKS). Tetapi jika kini PKS sudah sampai menuduh beliau sebagai pencuri terselubung, saya baru mendengar.
 
Sesungguhnya bukan kalangan tertentu saja seperti saya yang cukup heran atas fenomena disharmoni ini. Di tengah masyarakat selama ini difahami bahwa di Indonesia, partai paling solid ialah PKS. Mereka juga punya aturan yang cukup ketat bahwa ketika seseorang kader menjadi pejabat eksekutif di daerah termasuk menteri, jabatannya di partai dihentikan.
 
Menurut saya, konflik GPN dengan partainya skalanya masih bersifat lokal, dalam pengertian bahwa ini hanya antara beliau dengan elit dan legislatornya di Sumatera Utara. Pada tingkat Nasional, GPN masih dianggap sebagai salah seorang di antara kader berprestasi, berhubung jabatan yang dipangkunya saat ini termasuk langka bagi kader PKS. Setahu saya, selain GPN, Ahmad Heryawan adalah kader PKS lainnya yang memimpin sebuah Provinsi (Jawa Barat), dan kini sudah memasuki periode kedua.
 
Apa akar dari masalah ini? Menurut saya demikian:
 
(1) Wawasan pemerintahan dan politik yang berbeda. Partai PKS adalah partai yang didukung oleh para santri, dan relatif sangat minim pengalaman dalam pemerintahan dan birokrasi. Saya yakin, saat menjadi pemimpin partai di tingkat lokal (Sumut), GPN juga sama dengan profil kader lainnya di PKS yang minim pengalaman. Ketika menjadi pejabat eksekutif tertinggi, semua nilai-nilai ideal yang ditanamkan pada lingkungan partai bertemu dan tarik-menarik kepentingan praktis dan pragmatis dalam realitas politik dan pemerintahan. Kompromi-kompromi seperti ini terkadang membuat seorang kader menjadi asing di mata kader lainnya.
 
(2) Kader yang mengalami proses alineasi (keterasingan) seperti ini tidak selalu dapat menerima sikap-sikap sinis dan mencibir dari kader yang tetap setia menjaga nilai-nilai tertinggi kepartaian. Ia malah kerap merasa ditinggalkan, dan dengan itu ia menderita kesepian. Lingkup kerja yang lebih majemuk mengharuskannya tidak dapat memperturutkan semua ketentuan-ketentuan imperative dari partainya dan dapat saja ia kini menilai bahwa teman-temannya yang sinis itu hanyalah orang-orang yang berwawasan sempit;
 
(3) Jika ini terus-menerus dibiarkan, si kader akan mencari substitusi (pengganti) barisan pendukung yang dibangun atas dasar kepentingan. Tetapi ia harus sadar, bersama siapa pun dia membina hubungan berdasarkan kepentingan, itu tak sebanding dengan kualitas hubungannya yang semestinya tetap dirawat dengan kader separtai.
 
(4) Teman baru yang dirajut berdasarkan kepentingan tidak akan membelanya saat kepentingan tidak terjada secara awet. Saat menghadapi masalah kelak, ia sama sekali akan ditinggal dan benar-benar akan menanggung sendirian duka dan semua akibat kesalahan dalam penataan hubungan. Partainya sendiri akan segera mengamputasinya dari jaringan dan dianggap sudah pantas dikubur oleh sejarah.

 

 
Shohibul Anshor Siregar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: