'nBASIS

Home » ARTIKEL » PORKIS DARI SIMATORKIS

PORKIS DARI SIMATORKIS

AKSES

  • 557,706 KALI

ARSIP


porkisJika bukan karena studi intensif, mustahil mereka bisa mempermainkan Indonesia tak ubahnya sebuah kampung kecil tak berdaulat. Dikucuri utang yang membelit belasan generasi ke depan, diberi sisa-sisa persenjataan tak terpakai untuk menambah ketergantungan, membiarkan nelayan tradisional sebagai entitas keindonesiaan dengan posisi penentangan yang keras untuk teknologi maju pengelolaan kekayaan maritim agar mereka hanya berdaulat mengeksploitasi hasil laut hanya beberapa ratus meter dari rumah reyotnya di pinggir pantai

Jop mada roha otik. Tai dongan, Pirok goar ni Bodat do dibaen halai di buku on (awalnya saya sedikit bergembira, tetapi setelah tahu bahwa Pirok yang disebut dalam buku ini adalah seeokor Orang Utan yang kesasar hingga sampai ke kota, saya pun urung bergembira secara penuh). Kalimat dalam bahasa Angkola Sipirok itu saya tulis pada akun facebook DPD IKAPSI Sipirok, Jum’at siang, pekan lalu, setelah membaca keterangan singkat tentang sebuah buku Anak Indonesia yang launching Mei lalu di London, Inggeris. BBC Indonesia memberitakan buku  yang dibuat dwi-bahasa (Inggris dan Indonesia), itu berjudul Si Pirok ke Kota (Pirok Goes to the City). Melalui Orang Utan tadi buku ini bercerita tentang Indonesia, misalnya becak, kebisingan di kota, dan lain-lain. Buku itu adalah karya Felicia Nayoan Siregar, seorang ibu yang bekerja sebagai guru bahasa Indonesia di London.

Kisah Pirok dalam buku ini, dalam versi lain pernah saya dengar dari penuturan banyak orang. Misalnya seekor anak Porkis (semut) yang terpisah dari gerombolan karena asik memelajari cara  menembus kulit salak sambil berharap bisa menikmati isinya. Ia lalai, salak dimasukkan ke sumpit, lalu dimuat ke dalam truk. Berjam-jam perjalanan hingga tiba di sebuah tempat yang belakangan ia ketahui bernama Medan. Ia rekam semua yang ia saksikan. Suara klakson, suara gaduh para pedagang, dan bahkan caci maki yang tak lazim masuk ke ruang pendengarannya. Bukan karena ia berpikir mencari solusi atas kesulitannya meski ia sungguh berada dalam kecemasan berkepanjangan, tetapi hanya kebetulan ia menjalari ruang dan bidang yang dapat ditempuhnya hingga menemukan dirinya sudah menempel di baju seorang toke salak. Ia pun terbawa kembali ke Simatorkis, sebuah perkampungan kebun salak di Padangsidimpuan. Bayangkan komunitas porkis yang begitu terharu, dan mengadakan “kenduri” atas keselamatnnya dari perjalanan “berbahaya” itu.

Versi lain malah ada yang mengembangkan kisah Porkis pergi-pulang naik haji karena kebetulan menempel di baju putih seorang anggota jamaah. Porkis malah belakangan baru tahu perjalanannya itu adalah perjalanan naik haji, setelah kembali ke komunitasnya dan menceritakan seluruh rangkaian kejadian yang dialaminya kepada tetua-tetua di kediamannya di sela-sela pepohonan salak.  Ini dapat menjadi cerita politik, misalnya ketika ia dapat langsung menatap wajah Menteri Agama dan Gubernur bersama seluruh anggota Muspida dengan corak ragam seragam yang tak dapat difahami, saat pemberangkatan kloter perdana di bandara. Juga ketika memerhatikan kopiah-kopiah putih buatan Indonesia yang dibeli untuk dibawa kembali ke tanah air sebagai oleh-oleh untuk keluarga dan handai tolan yang ditinggal pergi untuk naik haji itu. Masih akan ada cerita yang mungkin dikembangkan, misalnya tentang bahasa dunia yang begitu beragam. Perbedaan dan persamaan tatakrama manusia sejagad raya, tentang hubungan Indonesia dengan Timur Tengah yang dapat dianalisis tak hanya dari kuota haji, tentang Rabithah Alam Islamy dan lembaga lain semisal PBB, dan ISIS, Alqaeda, dan semangat tak berdasar permusuhan untuk Islam atas nama agama yang dibalut oleh banyak karya muslihat kelicikan.

Berbeda dengan Pirok Goes to the City, kisah anak Porkis dan banyak kisah menarik lainnya yang dapat lebih memerkenalkan Indonesia di mata dunia, tak diwacanakan di luar konteks budaya dan komunitasnya Tapanuli Selatan. Saya yakin dari daerah lain juga begitu. Apa boleh buat, memamah bagi eks jajahan adalah sebuah takdir belaka.

Siapa yang setekun Soetan Pangurabaan Pane yang menerbitkan banyak karya pada zamannya seperti Tolbok Haleon (Konstruk Fisik Kokoh Tapi Paceklik), tetapi tak dianggap penting untuk menjadi publikasi internasional? Kita di sini melahap banyak novel asing, dengan penuh kegairahan sembari merasa diri sudah sangat maju ketimbang yang lain. Kita juga mengenal dan membedakan semua itu dengan Susan Rogers, van der Tuuk, dan lain-lain yang berkarya di bawah panji-panji kolonialisme atau misionarisme (secara langsung atau tak langsung), atau paling tidak kita identifikasi sebagai karya yang tentu saja mereka buat bukan sebagai orang Indonesia.

 

Studi Budaya dan Satra Indonesia di Luar Negeri. Atas undangan Ketua Program Studi Antropologi/sosiologi S2 Unimed, dua pekan lalu, Prof Dr Jan van der Putten, gurubesar Sastra dan Kebudayaan Austronesia, Universitas Hamburg, Jerman, berceramah sekitar promosi Indonesia di Luar Negeri dan rekomendasi bidang-bidang kerjasama akademis. Judul yang diserahkan kepada Prof Dr Jan van der Putten sebetulnya ialah “Tersingkirnya Studi Budaya dan Karya Sastra Indonesia di Luar Negeri (Cerminan Kegagalan Pemerintah Indonesia? Bagaimana Pemerintahan Baru Sebaiknya Berbuat?).

Saya dapat memahami penghindarannya itu. Pertama, tentu ia sangat sungkan untuk mempertanyakan kepada audiensnya, “sejak kapan kita memiliki data tentang studi budaya dan sastera Indonesia yang berlangsung objektif di luar negeri, dan jika ada di luar negeri bagian mana gerangan? Kedua, kita mungkin bisa bercerita tentang YB Mangunwijaya, Rendra, Pramudya Ananta Toer, dan lain-lain yang sebagian dari karya-karya mereka mungkin menjadi bahan kajian terbatas di perguruan tinggi di luar negeri. Tetapi, tidakkah kita sadari bahwa pengaruh-pengaruh yang ditebarkan oleh Negara-negara adi daya dalam bentuk soft power sebetulnya didasarkan kepada pemahaman mereka terhadap tidak hanya sastera, tetapi juga core budaya Indonesia sebagai sebuah entitas empuk untuk ditaklukkan demi keuntungan baru termasuk relokasi industri? Jika bukan karena studi intensif, mustahil mereka bisa mempermainkan Indonesia tak ubahnya sebuah kampung kecil tak berdaulat. Dikucuri utang yang membelit belasan generasi ke depan, diberi sisa-sisa persenjataan tak terpakai untuk menambah ketergantungan, membiarkan nelayan tradisional sebagai entitas keindonesiaan dengan posisi penentangan yang keras untuk teknologi maju pengelolaan kekayaan maritim agar mereka hanya berdaulat mengeksploitasi hasil laut hanya beberapa ratus meter dari rumah reyotnya di pinggir pantai,

Mendistribusi media mainstream kepada hanya beberapa orang melalui design perundang-undangan sebagai alat terampuh mutakhir dalam menundukkan Indonesia menjadi komoditi belaka, adalah sesuatu malapetaka yang muncul dari hasil studi budaya para penggarap baru Indonesia yang sudah tahu membedakan aturan dengan pola-pola kolonialisme lama yang berkedok musyafir, dengan bantuan para komparador yang cukup puas dengan satu dua genggam sogok. Bagaimana menjelaskan karya-karya sinematografi asing yang menyerbu lewat madia mainstream itu, kreator-kreator lokal yang dengan begitu simplistis memilih penggodokan mental mendayu-dayu, anti saintifik dan kefakiran religious yang dibungkus dengan simbol-simbol ritual keagamaan yang meruntuhkan ruh sejati? Siapa yang kini mau bersaksi mengapa Mc Donald bisa menjadi raja pengisi perut inlander ini, sebagaimana halnya Pizza Hut yang tak terhindari menghantam pecal lele, itak pohul-pohul, lampet, gudeg, pisang sale, dan lain-lain? Itu semua hasil studi budaya yang agaknya tak perlulah mereka beritahu kepada kita di sini sebagai sasaran pembodohan mereka.

Prof Dr Yan van der Putten tidak ingin tak santun. Bahkan ketika dengan begitu tegas mempertanyakan mengapa ada studi Asia Tenggara dalam program studi yang dibangun di perguruan tinggi Indonesia? Bukankah itu aksi set back untuk menutup diri? Cara itu memang seperti design para insider (orang dalam) untuk pengembangan negeri. Tetapi jangan lagi kita merendahkan diri di depan modal dengan, misalnya, memperpendek rok gadis-gadis kita dengan asumsi turis akan lebih suka. Mempersilakan modal kapitalisme internasional mengeruk keuntungan kekayaan alam seperti Bali dan Danau Toba yang hanya bermodalkan given belaka, dan juga Free Port yang membawa malapetaka kedaulatan dan kesengsaraan ekonomi, dan segenap kekayaan geothermal (energi panas bumi) yang sama sekali hingga kini belum pernah disentuh.

Penutup. Prof Dr van der Putten juga menyesalkan tindakan besar-besaran penerjemahan karya asing ke Indonesia. Ia berbicara konteks budaya dan keperluan bangsa Indonesia. Outsider untuk sebuah entitas budaya, tak banyak yang berhasil menapaki kualitas melampaui pemahaman bahasa menengah meski seberapa lama ia berada di sekitar budaya yang dijpelajarinya itu. Distrosi makna sangat kerap terjadi. Lagi pula, memamah tanpa telaah tajam atas kebudayaan asing, adalah sebuah dosa sejarah yang untuk konteks Indonesia lazim disebut kompleks inlanderitas.

Dengan segenap kelebihan dan keterbatasannya, upaya Felicia Nayoan Siregar tetaplah perlu diapresiasi. Ia ingin mengatakan sesuatu tentang Indonesia, nun di perantauannya itu. Jika nanti Sipirok (yang ibukota Tapanuli Selatan itu) sebagai sebuah entitas budaya akan merasa keberatan, tentu saja ada jalan penyelesaiannya secara budaya. Tetapi dialah salah satu duta negeri ini yang berbicara melalui keahliannya tentang Indonesia yang dicintainya. Duta yang satu ini tak identik dengan apa yang disesalkan oleh Ichwan Azhari dengan menyebut inlander atas fakta orang-orang Indonesia yang ditugasi atas nama negaranya di luar negeri, tetapi sangat minim pengetahuannya tentang kebudayaan Indonesia. Ketua Program Studi Pascasarjana (S2) Antropologi/Sosiologi Unimed ini menyesali pemerintahan yang lalu, dan berharap sesuatu dari pemerintahan mendatang.

Porkis dari Simatorkis memang membawa berita tentang manusia dan masyarakat baru yang ditemukannya kepada komunitasnya. Tetapi itu tak cukup untuk lebih memerkenalkan Porkis yang hidup di sekitar pepohonan salak ke komunitas manusia, sebagaimana halnya Indonesia tak boleh puas menikmati wacana-wacana sepihak orang asing tentang dirinya. Indonesia perlu berbicara kepada dunia. Karena ia sebuah negara-bangsa yang berdaulat.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan, Senin, 22 September 2014, hlm B7.
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: