'nBASIS

Home » ARTIKEL » Indonesia: THE NEXT REAL PRESIDENT

Indonesia: THE NEXT REAL PRESIDENT

AKSES

  • 545,455 KALI

ARSIP


1958010_10201532248210036_1995246934_n

Sistem demokrasi dan manajemen kepartaian di PDIP itu pun sangat tertutup dan seakan tidak akan pernah memberi tempat yang layak kepada orang selain yang suka hipokrit. PDIP pun kelihatannya cukup berpuas diri dengan konstituen yang dengan kecerdasan apa adanya. Hanya ada filosofi lebah di sini. Kemana induk lebah, ke situ orang berkerumun dan cukup dengan instink saja.

Seorang jurnalis lokal meminta pendapat saya tentang proses pemilihan pimpinan DPR-RI Periode 2014-2019. Karena pertanyaan yang diajukan melalui sms itu tidak eksplisit menanyakan aspek khusus, maka saya jawab demikian:

Eksklusivisme dan gumunisme (cepat terperangah dan puas) PDIP sekali lagi membuktikan bhw politik itu butuh kecerdasan, fleksibilitas dan art. Tahun 1999 sidang Umum MPR-RI mengenal poros tengah yang akhirnya menempatkan Megawati hanya sebagai wapres meski partainya beroleh suara terbesar lewat pemilu. Yang paling menyakitkan kala itu MPR-RI justru memilih seorang yg tak memenuhi syarat fisik menjadi Presiden. Hal ini tdk akan pernah terjadi jika PDIP cerdas dan tdk eksklusif.

Dalam paripurna tentang RUU Pilkada, PDIP pun memerankan watak khasnya itu, yakni terkesan kurang cerdas, eksklusif dan gumun. Malah makin aneh menyaksikan Yasona Laoli (anggota DPR-RI dari dapil Sumut 2) yang beragama non-muslim dalam kesempatan memberi pandangan mengakhiri pidatonya dengan kalimat penutup yang dikenal luas khas NU, yakni Allahu muwaffiq ilaa aqwamittarq. Ia tak faham bhw memakai yang bukan baju sendiri tak ubahnya keanehan saat seorang perempuan memaksakan diri berkumis. Manuever seolah memihaki umat juga sudah kerap sangat kerap, padahal orang tahu kecenderungan perjuangan politik PDIP yang adalah hasil fusi dari IPKI, PNI, Murba, Partai Katolik, dan Parkindo (Partai Kristen Indonesia). Makin aneh lagi PDIP selalu merasa harus mengadu kepada rakyat untuk setiap fenomena politik yang memojokkannya akibat ketidak cerdasan dan eksklusivitasnya sendiri.

Kemenangan pemilu 2014 menjadi awal. PDIP merasa super sekali. Eksternal yg bersifat invisible telah merancang sesuatu yang membuat seolah mereka sangat cerdas. Ini mengulangi sukses pilkada DKI yang juga didisain oleh eksternal bersifat invisible. Karena de facto menang dlm pilpres, rasa eksklusivisme pun makin tinggi hingga tak mawas diri. Watak itu lazim pada orang-orang yang dalam waktu yang cukup lama merasa dirinya tertindas. Sistem demokrasi dan manajemen kepartaian di PDIP itu pun sangat tertutup dan seakan tidak akan pernah memberi tempat yang layak kepada orang selain yang suka hipokrit. PDIP pun kelihatannya cukup berpuas diri dengan konstituen yang dengan kecerdasan apa adanya. Hanya ada filosofi lebah di sini. Kemana induk lebah, ke situ orang berkerumun dan cukup dengan instink saja.

Pemerintahan 2014-2019. Keterancaman pemerintahan Jokowi-JK dengan demikian akan sangat tergantung kepada kecerdasan JK yang nanti akan benar-benar menjadi real president seperti Ahok yang mampu mnjadi real gubernur sementara Jokowi cukup menjadi raja citra belaka meniru figuritas SBY. Kita tahu bahwa Indonesia tak memiliki ketegasan apakah berpemerintahan parlementer atau presidentil. Karena itu JK akan benar-benar menjadi real president.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: