'nBASIS

Home » ARTIKEL » PERSETERUAN KIH DAN KMP

PERSETERUAN KIH DAN KMP

AKSES

  • 535,471 KALI

ARSIP


Mengapa Jokowi dan orang-orangnya harus takut dengan posisi opposisional KMP? Padahal dia (Jokowi dan orang-orangnya) hanya perlu berbuat baik saja, dan berbuat nyata sambil melanjutkan kebiasannya blusuan kian kemari. Hanya itu. Tak ada yang lain. Tak perlu takut sama sekali. Atau, apa memang ada yang ditakutkan sekaitan dengan (misalnya) track record yang kurang manis? Kalau begitu memang pantaslah cemas. Carilah jalan keluar terbaik sedini mungkin, agar tak menjadi pasal untuk impeachment.

Undang-Undang Majelis Permusyawaratan Rakyat RI, Dewan Perwakilan Rakyat RI, Dewan Perwakilan Daerah RI dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (UU MD3) yang tak berhasil dijudicial review itu telah menjadi jalan konstitusional bagi Koalisi Merah Putih (KMP) menguasai sepenuhnya pimpinan DPR-RI. Dari arena pertarungan itu, kita masih menunggu perebutan-perebutan jabatan berikutnya. Sebelumnya KMP juga mencatat kemenangan telak saat pengesahan RUU Pilkada.

Beberapa sisa jabatan yang akan dibagi itu ada yang terdapat di DPR-RI dan ada di MPR-RI. Di sini posisi Partai Demokrat tetap akan menjadi sebuah penentu. Jika akan “dihadiahi” jabatan (Ketua MPR, misalnya), dalam simulasi pembagian sisa jabatan ini, Partai Demokrat yang menyatakan diri sebagai penyeimbang itu tak akan dapat diposisikan se-front dengan KIH (koalisi Indonesia Hebat). Karena, meski secara formal sama-sama berada pada posisi menolak pilkada tak langsung, Partai Demokrat tidak mungkin disub-ordinasikan kepada kepentingan KIH, kecuali dengan hitungan lose dan win secermat-cermatnya. Jika pun melalui komunikasi yang lancar PD dengan KIH akhirnya dapat bergabung, kelihatannya tidak ada jaminan mutlak untuk sukses merebut jabatan yang menurut kehendak subjektif Partai Demokrat patut “dihadiahi” untuknya itu.

Memang adalah hal yang menghebohkan SBY menolak sebuah UU yang rancangannya adalah inisiatif pihak Eksekutif, justru pada akhir masa jabatannya. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) yang menjadi perlawanan SBY itu harus mendapat persetujuan DPR-RI, dan jika tidak, tidak boleh diajukan lagi (termasuk oleh penggantinya) kelak. Saya sendiri berpendapat bahwa terbitnya kedua Perppu penolakan UU Pilkada tak langsung itu adalah pengakomodasian yang tak pantas atas kepentingan seorang Ketua Umum Partai oleh kewenangan subjektif seorang Presiden yang tokohnya adalah sama (SBY). KIH mungkin sedikit terhibur dengan penerbitan 2 (dua) Perppu yang menjadi satu-satunya perlawanan resmi terhadap Undang-undang Pilkada itu. Tetapi melihat kondisi aktual, mungkin lebih baik ia memilih lebih waspada, atau sama sekali tidak usah lagi membuat target apa pun agar tak terlalu kecewa kelak. Jangan-jangan KMP berfikir ketat dengan pola the winner (must) takes all.

Rakyat dan Pengatasnamaan
. Disebut-sebut bahwa rakyat telah dicederai dengan perseteruan yang terjadi, khususnya karena KMP secara beruntun memenangi pertarungan yang tak memberi peluang apa pun bagi lawannya (KIH). Saya tak sependapat dengan itu. Kepentingan rakyat jauh di sudut lain. Ada yang menyebut KMP itu hanya ingin balas dendam. Ada yang menyebut KMP itu licik. Tetapi mereka lupa bahwa politik itu urusan utamanya ya kekuasaan. Politik, ya aneh kalau tak riuh.

Barangkali sangat perlu dipertimbangkan secara lebih jernih. Bahwa apa yang sudah dan akan terjadi malah sangat masuk akal. Sebaliknya menjadi sangat anehlah jika tiba-tiba satu persatu anggota KMP “manderen” (cari penghasilan) seperti (maaf seribu kali maaf) kucing kena siram air panas ke kubu KIH meskipun Jokowi sudah sejak awal terang-terangan menantang semua orang dengan ketegasannya tentang “koalisi bersih dan tanpa syarat dan tanpa bagi-bagi jabatan Menteri” itu. Jika hanya untuk tujuan “dagang sapi”, koalisi yang terbentuk ini tak akan begitu solid. Pasti ada hal yang lebih substantif dari sekadar mendapat jatah menteri: mungkin ideologi dan cara pandang terhadap negeri ini. Mengapa? Itu perlu kajian pada akar sejarah bangsa ini.

Ketika seorang jurnalis mempertanyakan kepada saya, saya menjawab: I am so happy dengan kondisi ini, dan kalaulah bisa tetaplah seperti ini. Mengapa? SBY kurang lebih telah membajak demokrasi selama 5 tahun terakhir dengan Setgabnya yang mengkoordinasikan mayoritas kekuatan partai itu, sehingga legislatif yang mestinya kritis terutama soal budgetting dan controling, akhirnya tak begitu berirama. Program legislasi? Ya, kedodoran juga saya rasa. Seruan terbaik yang kini perlu dikumandangkan nyaring malah: “Jangan kalian ulangi lagi hal itu dalam praktik pemerintahan, ya !!!”

Jika Anda memihaki posisi Jokowi-JK dalam perseteruan ini dan was-was terhadap rencana-rencana KMP, harap dirasionalkan saja, apa saja dasar kewas-wasan itu? Mengapa Jokowi dan orang-orangnya harus takut dengan posisi opposisional KMP? Padahal dia (Jokowi dan orang-orangnya) hanya perlu berbuat baik saja, dan berbuat nyata sambil melanjutkan kebiasannya blusuan kian kemari. Hanya itu. Tak ada yang lain. Tak perlu takut sama sekali. Atau, apa memang ada yang ditakutkan sekaitan dengan (misalnya) track record yang kurang manis? Kalau begitu memang pantaslah cemas. Carilah jalan keluar terbaik sedini mungkin, agar tak menjadi pasal untuk impeachment.

Tapi sungguh tak perlu begitu cemas. Karena di Negara seperti Indonesia, selamanya kekuasaan adalah alibi kuat untuk tak terjangkau oleh hukum. Tidak akan ada keberanian penegak hukum mana pun, kecuali dari peneriak-peneriak yang sekadar menambah pernak-pernik yang menandakan bahwa demokrasi masih hidup di sini. Itu malah tak ubahnya cermin belaka. Tidak berbahaya sama sekali.

Peran opposisional KMP, menurut saya, sangat perlu dikristalisasikan secara kuat, agar rakyat diuntungkan. Bagaimana rakyat diuntungkan? Jika eksekutif dan legislatif “bersekongkol” yang akan dihabisi ya pastilah rakyat. Itu tidak boleh terjadi. Tetapi mengapa KIH terkesan seperti memelas? Bukankah kita mencatat segudang “prestasi” melalui aksi-aksi walk out fraksi PDIP di DPR-RI untuk banyak urgensi nasional yang kita semua tahu? Bukankah Mega juga mengatakan bahwa 10 tahun puasa di luar orbit pemerintahan, juga sekaligus dapat mengisyaratkan bahwa tradisi dilawan dan dibantah akhirnya menjadi sangat tidak etis jika benar-benar ditakuti oleh pembangkang? Bukankah hal itu dapat diterjemahkan juga bahwa, melawan dan melawan dan melawan terus selama bukan ia atau kerabat atau orangnya yang memerintah, adalah sesuatu yang prinsip? Itulah ekspresi terpenting yang dapat dicatat selama 10 tahun terakhir dalam pro dan kontra kebijakan perpolitikan Indonesia.

Kekhawatiran. Be smart, friend, kata seseorang mengingatkan saya tentang oposisi palsu dalam politik. Ia menuduh faktor pembiayaan partai sebagai salah satu penyebab korupsi politik dengan lakon sambil menyelam minum air bagi para pentolan partai. Negeri kita tidak memiliki pengaturan yang jelas tentang sumber dana kepartaian. Karena itu, dengan kondisi korupsional kekinian yang masih sangat udik, motif powersharing tak akan pernah bergeser dari penguasaan sistem sumber secara abusive oleh tangan kekuasaan.

Dalam perhitungan kondisi kekorupsian ke depan, agaknya belum ada hal yang begitu menakutkan bagi para pejabat Negara untuk berkorupsi ria dalam jabatannya. Ibarat semut dan gula, kata teman saya itu, tak lama lagi semua elemen berlagak oposisional akan secara berangsur meninggalkan patron mereka karena mendapat peluang berpatron baru. Bagaimana pun juga sebuah partai akan habis ditelan zaman dan dilupakan orang jika tak memiliki sumberdaya. Sumberdaya itu sendiri tempatnya hanya satu: pundi Negara dan pemerintahannya.

Tetapi saya tidak tahu apakah KMP akan mengajukan sebuah RUU yang menjamin pembiayaan partai dari APBN dan APBD sehingga tidak perlu lagi berkorupsi untuk menjadi politisi dan untuk mengabadikan keberadaan partai.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh HArian Waspada, Medan, Senin, 6 Oktober 2014, hlm B5

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: