'nBASIS

Home » ARTIKEL » GURU

GURU

AKSES

  • 568,980 KALI

ARSIP


guru

Pagi ini, dari jauh, anak sulung saya mengucapkan selamat hari guru kepada ayahnya. Ini menjadi sebuah momentum untuk memberi ucapan terimakasih kepada para guru yang mengantarkan saya menjadi guru:

Ayah saya seorang guru. Sejak awal saya dipersiapkannya menjadi seorang guru. guru agama pada tingkat dasar. Setelah menamatkan madrasah Ibtidaiyah di kampung (Sibulan-bulan), saya disekolahkan pada sebuah sekolah calon guru yang belum lama dibuka (PGA). Tetapi setelah tamat, saya tak mengikuti teman-teman lain yang melanjutkan pendidikannya pada jenis pendidikan guru pada tingkat perguruan tinggi. Namun setelah menyelesaikan pendidikan tinggi saya pun melamar menjadi guru, dan oleh pemerintah ditempatkan di Fakultas dan jurusan tempat saya belajar: Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UMSU.

Pagi ini, dari jauh, anak sulung saya mengucapkan selamat hari guru kepada ayahnya. Ini menjadi sebuah momentum untuk memberi ucapan terimakasih kepada para guru yang mengantarkan saya menjadi guru:

1. Ayah saya, Abdullah Siregar, yang tak hanya mendidik di rumah. Sebelum usia sekolah, ayah saya memberi saya keleluasaan untuk berada di sekitar sekolah tempatnya mengajar saat-saat jam mengajarnya. Setiap pagi dibawa ke masjid. Setiap pengajian malam hari dibawa, meski pulangnya sudah tertidur dan harus digendong. Sejak duduk di kelas 3, saya ingat selama beberapa jam setiap pagi diberi tugas mengerjakan hitungan-hitungan yang saat itu dikenal dengan seperen (sekarang matematika).

Sejak duduk di kelas 5 saya ingat ayah saya sering meminta saya untuk membantu adik-adik kelas yang gurunya tidak hadir (waktu itu guru di sekolah kami sering tidak hadir karena faktor alam). Tugas saya waktu itu hanya menuntun bacaan sholat mulai dari takbir hingga salam. Itu saya lakukan berkali-kali. Ketika masih ada waktu, saya pun meminta seseorang maju ke depan kelas dan mengucapkan bacaan sholat. Saya kira inilah awal saya menjadi guru.

2. Abdul Madjid Panggabean, seorang Kepala Sekolah (PGA) yang amat visioner, keras dan bergairah perjuangan. Saya merasakan ia telah membentuk kami menjadi generasi yang tidak boleh menyerah dan cermat melihat keadaan, berpendirian dan tak boleh pragmatis. Ahli didaktik dan paedagogik yang unggul. Saya ingat ia menceritakan telah menggunakan otoritasnya memberi nilai dalam rapor saya meski saya tidak ikut ujian karena sakit. Katanya, ujian itu bukan tidak penting. Tetapi sebagai guru yang baik, saya tahu semua siswa saya bukan melalui ujian formal. Katanya lagi, “Bismar Ritonga dan Batarindo itu adalah sainganmu di kelas, tetapi dalam lembaran jawabannya banyak memberi jawaban yang salah dan saya tahu itu hanya disebabkan situasi ujian yang oleh guru-guru lain dibuat menjadi begitu tegang. Mereka menguasai jawaban yang benar”.

3. Abdul Manaf Panggabean, seorang yang berperasaan sangat halus dan yang pandangan-pandangannya banyak yang baru dapat saya fahami justru setelah saya menjadi mahasiswa.

4. Ahmad Muda Panggabean yang sangat militan dan memiliki keluasan pandangan. Ia ingin beberapa dari kami mendatanginya secara berkala untuk diajarkan pandangan-pandangan politik yang belakangan saya sadari menjadi basis untuk lebih mudah memahami ideologi-ideologi dunia dan perbenturannya, termasuk negara, pengelolaannya dan kekuasaan yang selalu membawa bencana.

5.Saya lupa seseorang yang memulai torehan pelajaran sejarah dan kebudayaan. Ia sangat detil mengetahui banyak peristiwa besar dalam sejarah, tempat bersejarah, waktu kejadian dan hal-hal yang menjadi penyebab besar perubahan dunia, termasuk peristiwa hijrah.

6. Chairuddin Aritonang, seorang guru muda yang sangat bersemangat, telah memperkenalkan saya terhadap filsafat hidup Batak melalui pelajaran yang diasuhnya. Beliau memperkenalkan si sia-sia dan umpasa Batak. Seseorang bermarga Nasution yang mengajarkan bagaimana membaca ayat-ayat Al-Quran dengan benar. Dame boru Tobing yang meski bukan guru kesenian telah memperkenalkan beberapa lagu yang beliau gunakan sebagai bahan untuk memudahkan pengajaran bahasa Inggeris. Azir Panggabean yang mengajar tortor Batak dan filosofi di balik gerakan-gerakannya. Syayahdin Batubara, guru muda dalam bidang olahraga, telah memberi semua yang dia tahu sebagai atlit pencak silat, boxing dan atletik secara teori maupun praktik. Alwi, seorang guru kiraah yang luar biasa.

7. Namlis Lubis, seorang yang mengajarkan ilmu bahasa (Arab) yang didekati dari aspek sastera. Mahyuddin Lubis, seorang Kepala Sekolah yang sangat disiplin dan sekaligus humanis.

8. M.Nur Rizali dengan keluar-biasaan mengajar dan berdedikasi tinggi. Ia mengajarkan filasfat Pancasila, sejarah pembentukan Indonesia dan Filsafat Ilmu. Ia akan tetap saya kenang tak hanya sebagai guru, tetapi juga senior yang membuat saya dalam posisi kolega.T.A.Lathief Rousydiy yang memberi dasar-dasar pemahaman tentang ketajdidan dalam Islam.

9. HM Joesoef Souy’b yang memperkenalkan filsafat dan sejarah serta peta politik internasional. Seseorang yang saya lupa namanya, mengajarkan begitu bersemangat dan tak pernah membawa catatan apa pun ke kelas tetapi sangat menguasai bidang yang diajarkannya tentang demografi. Azmi S Kar, seorang dokter, yang mengajarkan kualitas SDM dan nasib sebuah bangsa. Suwardi Rasul yang untuk pertamakalinya mengajarkan teori Malthus. Jamel Damanik yang mengajar metode pekerjaan sosial.

10. Tengku Sjarifah, yang memberi dasar-dasar pemahaman tentang Sosiologi dan Ilmu-Ilmu Sosial. Mansyur Syam, yang memperkenalkan ilmu hukum dan ulasan-ulasan detil tentang beberapa literatur hukum. Beliau pula yang pertamakali meminta saya menjadi asisten dosen untuk mata kuliah Masalah Sosial. Sjah Charan yang memperkenalkan pengantar dalam ilmu kesejahteraan sosial termasuk sejarah awal modernisasi Eropa. Agus Salim Siregar yang memperkenalkan ekonomi pembangunan, terutama tahap-tahap pembangunan dengan mengulas teori WW Rostow. Dahlan, seorang yang hampir tak pernah tanpa senyum tulus memberi pandangan-pandangan yang kuat tentang politik kenegaraan serta keterkaitan kebijakan-kebijakan nasional dengan faktor luar negeri. M Jusuf Pohan yang sejak awal memberi penugasan-penugasan yang sangat membantu untuk kemudian saya sadari telah menorehkan strategi mengajar dengan penciptaan skema, model dan resume-resume ringkas pemikiran besar untuk kebutuhan sebuah presentasi.

11. Di UGM saya memiliki guru yang berjasa seperti Nasikun yang luar biasa dan Sunyoto Usman yang sangat taktis. Keduanya yang memperkenalkan peta teori sosiologi klasik dan moderen serta aplikasinya. Lukman Lukman yang tidak rela kuliahnya tentang teori-teori pembangunan tidak direspon dengan baik. Ichlasul Amal yang sangat santai dan fokus mengajarkan metode penelitian sosial dengan menunjuk rujukan pada buku Earl Baby. Sjafri Sairin yang memperkenalkan metode penelitian kualitatif dan etnografi. Sudjito yang mengajarkan metode penelitian kuantitatif. Rahardjo yang memperkenalkan studi pedesaan. Bambang Irawan dengan pendekatannya yang khas untuk mengajarkan Filsafat. Di Unair saya rasa saya mendapat sebuah keajaiban tak terduga sebelumnya menjelang usia sepuh begini. Alangkah beruntung menjadi bagian dari kuliah-kuliah Hotman Siahaan, Mustain, Ramlan Surbakti, Dyson, Siti Aminah dan Bagong.

12. Ali Mukmin Siahaan yang meninggalkan profesi sebagai guru, tetapi menugaskan saya menjadi guru di sebuah madrasah yang ditinggalkannya. Ibrahim Sakty Batubara seorang guru yang organisatoris dan berbakat kepemimpinan yang kuat dalam politik. Bismar Rambe, Batarindo Ritonga, Alopsen Gultom, Ibrahim Gultom, Ahmad Zubeir Gultom, adalah teman-teman sekelas pada masa awal di Peanornor.

13. Dekan FISIP USU Prof M Adham Nasution bertindak sebagai ketua tim penguji saat ujian negara. Setelah ujian usai, beliau meminta saya membantu mengajar mata kuliah Sosiologi Pembangunan di Fakultas yang dipimpinnya: FISIP USU. Waktu itu di FISIP USU ada mahasiswa khusus tugas belajar dari berbagai daerah. Mereka pegawai semua. Tak lama kemudian, ibu Nurwida Nuru juga memberi kepercayaan kepada saya untuk membantunya mengajar mata kuliah Penelitian Sosial. Mahasiswanya sama, pegawai yang tugas belajar itu.

Menjadi guru adalah sebuah proses interaksi tak hanya kepada para guru. Tetapi juga kepada para kolega, junior dan bahkan orang-orang yang duduk sebagai peserta didik. Bagi seorang pembelajar, semua itu (guru, kolega dan murid) difahami sebagai faktor-faktor penting dalam pembentukan dirinya menjadi guru.

Kalau begitu banyak orang yang namanya terlupa, atau orang yang nama-namanya tidak mungkin disebut semua, tetapi jasa mereka tak pernah dinafikan sama sekali. Terimakasih kepada mereka semua yang ikut membentuk saya menjadi guru. Saya mencintai pekerjaan ini.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: