'nBASIS

Home » ARTIKEL » ARENA DAKWAH

ARENA DAKWAH

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


Ada kecenderungan-kecenderungan dakwah untuk setiap zaman, dan itu tak selalu harus disadari oleh para pelakunya. Artinya, dakwah bisa sekadar rutinitas yang tak pernah secara serius mempertimbangkan mengapa harus mengerjakan ini dan mengapa bukan yang itu; apa yang harus diperbuat di sana dan apa pula yang diperlukan di sini. Tetapi dakwah bisa menjadi proyek raksasa berskala nasional yang diperani oleh para selebritis yang secara substantif sebetulnya bolehlah disebut seperti tak beragama sama sekali, meski harus dipoles dengan simbol-simbol untuk pengakuan. Mereka mungkin hanya mencari kekayaan di sana, dengan perencanaan besar dan pelibatan instrumen komunikasi terbaru.

Betapa luas terjemahan yang harus selalu dimajukan untuk ketentuan “serulah ke jalan tuhanmu dengan bijak dan dengan kecerdasan yang baik”. Atas nama perintah ini pun telah terbukti bisa lahir sejumlah variasi besar dalam dakwah, seperti selalu terlihat dalam kenyataan dakwah di lapangan yang luas. Suatu ketika dakwah adalah bagaimana membuat orang menjadi tahu dan mau mengakui bahwa tuhannya harus berganti menjadi Allah Subhanahu wa ta’ala. Di kala lain dakwah harus berurusan dengan simbol yang ringan-ringan saja. Juga bisa muncul hanya sebagai penegasan-penegasan atas kekaburan demarkasi rasa pahit dan manis. Tetapi dakwah bisa bermakna darah yang terkucur mengiringi nyawa yang melayang, sebagaimana telah dituturkan dalam sejarah.

Negara dan tuhan. Dakwah bisa jatuh ke pembedaan ekstrim atas mainstream dan bentuk sempalan-sempalan. Ketika tumbuh menjadi pemupukan pengakuan atas kebenaran jalan dakwah untuk satu ufuk tertentu, maka ia bisa sangat tidak toleran terhadap ufuk-ufuk lain dengan segenap kebersahajaannya. Tuhan pun bisa dan memang sudah sangat kerap diinterpretasikan menjadi sosok dan konsepsi yang berbeda-beda. Pada kala tertentu tuhan itupun dibiarkan dan seolah sangat berselera pula membiarkan diri begitu tega untuk berbagai perebutan tafsir oleh orang-orang yang mempersenjatai diri dengan argumen kewenangan menafsir, dan mereka saling menyalahkan di arena itu, sebagaimana diceritakan oleh sejarah Eropa. Dominasi menjadi cerita utama dan kisah berbagi tuhanpun terjadi.

Kelembagaan agama yang dilahirkan tidak berhenti pada mekanisme dominasi an sich, sebab eliminasi bisa dianggap harus berbentuk pemusnahan lawan berfikir. Tuhanpun sering diturunkan derajatnya untuk mengatur bagaimana seseorang atau sekelompok orang disembelih atas nama tuhan yang sama atau tuhan-tuhan yang berbeda. Kampak, belati, pedang, politik dan negara dengan segenap kebengisannya pun bisa menjadi perpanjangan tangan dari perwujudan ketuhanan menurut orang-orang yang memerlukannya sesuai obsesi ketuhanannya sendiri. Ketuhanan yang salah bukan saja kerap dibangun dengan pernak-pernik kesucian terbatas dan sepihak. Begitulah sejarah bercerita, dan membayangkan sebuah masa depan yang serupa atau malah lebih kejam, sebagamana terbukti pernah diperagakan dalam apa yang dikenal dengan perang salib yang berdurasi panjang itu.

Apa perlunya negara diterjemahkan kuat ingin tidak sekadar mengajar orang melakukan revolusi mental, tetapi sekaligus dipersenjatai untuk memaksa-maksa orang agar mengakui bahwa tuhan-tuhan yang jamak harus hadir untuk menjadi penanda kemajemukan melawan mainstream pemahaman ketuhanan tertentu sebagaimana kerap terjadi dalam sejarah negara-negara? Itu tidak lain karena tuhanpun selalu penting bagi kekuasaan, perebutan kekuasaan dan legitimasinya, atau paling tidak obsesi ketuhanan selalu memerlukan kekuasaan untuk keleluasaan berbuat sebagai penindas. Penindasan itu pun, seperti terjadi dalam perang salib, sering harus diimingi kebahagiaan di akhir tetesan darah di ujung pedang.

Jualan Matadagangan tuhan. Kisah jualan matadagangan bernama tuhanpun telah diperagakan di wilayah-wilayah yang diklaim barbar oleh sekelompok orang yang merasa diri paling benar. Tuhan yang paling benar dan yang mereka jajakan pada episode-episode sejarah telah melahirkan dan sangat berkepentingan atas pengabadian pragmentasi sosial-politik dengan struktur yang menindas. Itu telah terjadi dan secara terus menerus telah dirancang untuk terus terjadi. Jika kau harus mengajukan keberatan, maka siap-siaplah lehermu menjadi sasaran pedang berikutnya setelah leher-leher yang terpisah dari kepala yang menggelinding tak dicatat oleh sejarah yang ditulis oleh kemauan sepihak penyembah tuhan yang paling perkasa. Tuhan paling perkasa akan selalu menang dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang lebih terandalkan.

Salahuddin Al-Ayyubi berusaha membuktikan tuhannya yang berbeda akan menang dan pasti menang. Ayatollah Rohullah Khomeyni berkata lain pada sejarah, sehingga paradigma dan teori berpikir dominan harus merenungi kejadian-kejadian yang ditinggalkan oleh Ayatullah Rohullah Khomeyni untuk zamannya melalui sebuah revolusi yang tak terbayangkan sebelumnya.

Tetapi semua itu belum akan selesai. Di Uighur orang harus selalu merasa penting mempertanyakan mengapa seseorang berkerudung sebagai salah satu penanda untuk ketuhanannya. Di Pattani juga orang harus berhitung panjang sebelum memutuskan cara terbaik untuk mengekspreksikan jatidiri sebagai seorang yang bertuhan non-mainstream. Rohingya yang menjerit-jerit belum memliki temuan paling baik untuk tampil sebagai manusia yang diakui di tanah kelahirannya yang tak diakui. Meski dunia menonton penyembelihan-penyembelihan sadis di sini, sebagaimana terjadi di Palestina, tak ada reaksi yang memadai untuk solusi damai. Maka pikirkanlah sesuatu untuk memilih apakah akan menjadi saksi bisu saja atau berkata sesuatu untuk perubahan. Sambil mencermati dan menyertai diplomai Moro (Filipina Selatan), tariklah selimutmu, dan singsingkan lengan bajumu, serta tegaskan bahwa kau tidak sedang mengancam sesiapa melainkan sedang menegakkan keadilan dan kebenaran dalam konsepsi ketuhanan yang benar. Munculkan keberanianmu sebagai seorang pewarta nilai-nilai universal. Perbaiki bahasamu untuk lebih difahami tidak tak ubahnya sebagai jeritan pada hembusan nafas terakhir saat penyembelihan seekor kibas yang tak berdaya.

Penutup. Dalam sebuah peta kemenangan iman yang terus-menerus diperebutkan, dunia kini terus melancarkan gairah penghargaan atas sebuah klaim. Ada yang merasa harus menonjolkan amarahnya seperti seolah melawan. Tetapi kemarahan tak pernah bercerita tentang sesuatu kemenangan apa pun. Kemenangan itu hanyalah sebuah hasil dari perjuangan berbasis kemasuk-akalan teknis berbekal wawasan dan kekuatan nalar yang mengubah keterbelakangan menjadi kemenangan. Pertanyakanlah mengapa kau terbelakang dan mengapa kekalahan yang selalu kau dapatkan.

Kini tidak perlu lagi mengumpul orang-orang marah, karena mereka hanya akan mempersulit diri sendiri dan akan menjadi beban bagi zamannya. Bayarlah hutang-hutang sejarahmu dengan benar.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh harian Waspada, Senin, 1 Desember 2014, hlm B7.


1 Comment

  1. pebriscreamo says:

    Blognya sangat menginspirasi,
    Follback blog ya🙂 | http://cahayatanpawarna.wordpress.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: