'nBASIS

Home » ARTIKEL » BEBAS NARKOBA 2015?

BEBAS NARKOBA 2015?

AKSES

  • 535,471 KALI

ARSIP


10392311_10203048046424044_7327861955055382633_nApakah ASEAN secara bersama atau secara sendiri-sendiri memiliki gambaran jalur yang sudah tepat dalam upaya mencapai target yang ditentukan, dan apa sajakah yang bisa dilakukan untuk mempercepat kemajuan yang ingin dicapai itu.

Dr. Surin Pitsuwan dalam laporan tak resmi berjudul “Drug-Free ASEAN 2015: Status and Recommendations” yang diterbitkan pada tahun 2008 antara lain menyebutkan bahwa tren baru pada peningkatan pembuatan obat terlarang, pola perdagangan baru dan penyalah-gunaan narkoba dipastikan telah menjadi faktor yang semakin mendorong negara-negara ASEAN untuk mengintensifkan upaya kolaborasi mereka untuk merealisasikan Bebas Narkoba ASEAN 2015.

Tetapi sekarang kita sudah berada pada akhir tahun 2014, yang berarti kita dapat tinggal menghitung hari untuk bisa menyimpulkan secara lebih pasti apakah target akan tercapai, dan sudah sangat masuk akal untuk menegaskan faktor-faktor apa saja yang menyebabkan kegagalan usaha bersama itu. Telaahan untuk situasi dan kesiapan mencapai bebas narkoba ASEAN 2015 sudah saatnya mempertanyakan apakah komitmen akan dapat dicapai, apakah ASEAN secara bersama atau secara sendiri-sendiri memiliki gambaran jalur yang sudah tepat dalam upaya mencapai target yang ditentukan, dan apa sajakah yang bisa dilakukan untuk mempercepat kemajuan yang ingin dicapai itu.

Sejumlah Deklarasi. Pada tanggal 31 Juli 1998, para menteri luar negeri ASEAN telah menandatangani sebuah Deklarasi Bersama berisi tekad Bebas Narkoba ASEAN pada tahun 2020. Deklarasi itu tak hanya menegaskan komitmen memberantas produksi gelap narkoba dan pengolahannya, tetapi juga perdagangan dan penyalah-gunaannya. Dua tahun kemudian, yakni pada bulan Juli 2000, pertemuan ASEAN Ministerial ke-33 secara lebih progresif menegaskan kembali sikap pemerintah negara-negara ASEAN tentang keprihatinan mereka pada ancaman dari manufaktur, perdagangan dan penyalahgunaan obat-obatan terlarang terhadap keamanan dan stabilitas kawasan. Mereka pun sepakat untuk memajukan target perwujudkan ASEAN Bebas Narkoba dari tahun 2020 menjadi tahun 2015.

Pada tanggal 29 Oktober 2007, para Senior Officials on Drug Matters (ASOD) bertemu di Jakarta, antara lain untuk meninjau laporan perkembangan berbagai negara ASEAN. Dari laporan-laporan itu kemudian secara selektif dipilih rekomendasi untuk disahkan oleh rapat ASEAN Ministerial Meeting on Transnational Crime (AMMTC) yang diselenggarakan pada bulan berikutnya, yakni pada tanggal 6 November 2007  di Brunei Darussalam. AMMTC  ke-6 ini secara eksplisit menugaskan para pejabat senior ASOD untuk menentukan target dan jadwal khusus untuk rencana kerja mereka.

Selain kesepakatan Juli tahun 1998, Juli 2000, Oktober 2007 dan Nopember 2007, sebuah deklarasi dilahirkan lagi dengan nama ASEAN Leaders’ Declaration on Drug-Free ASEAN 2015, yang ditandatangani di Phnom Penh, Kamboja, pada 3 April 2012. Dekralasi ini berisi tekad para Kepala Negara/Pemerintahan Brunei Darussalam, Kerajaan Kamboja, Republik Indonesia, Republik Demokratik Rakyat Laos, Malaysia, Republik Uni Myanmar, Republik Filipina, Republik Singapura, kerajaan Thailand, dan Republik Sosialis Vietnamam, untuk membebaskan wilayah ini (ASEAN) dari narkoba. Untuk itu disepakati tekad meningkatkan upaya-upaya bersama untuk mewujudkan visi dan tujuan Komunitas ASEAN bebas narkoba pada tahun 2015 sebagai agenda prioritas tinggi ASEAN dengan konsekuensi penugasan menteri terkait untuk mempercepat pelaksanaan Rencana Kerja ASEAN tentang Pemberantasan Produksi Obat Ilegal, Perdagangan, dan Penggunaan 2009-2015 dan Roadmap untuk Masyarakat ASEAN (2009-2015) pada obat bebas ASEAN pada tahun 2015.

Butir kedua deklarasi ini menugaskan menteri terkait negara ASEAN melalui Dewan Koordinasi ASEAN (ACC) untuk membuat laporan tahunan kepada para pemimpin ASEAN tentang kemajuan pelaksanaan Cetak Biru Komunitas Politik-Keamanan ASEAN di bidang obat-bebas ASEAN. Juga ditegaskan dalam deklarasi ini kepentingan memperdalam kerja sama dan koordinasi tindakan melalui berbagi informasi dan praktik terbaik dalam rangka meningkatkan penegakan hukum yang lebih efektif untuk pengendalian narkoba di wilayah ASEAN. Pada butir terakhir disebutkan mutlak perlunya meningkatkan kerjasama dan koordinasi secara komprehensif dengan Mitra Dialog ASEAN dan pihak eksternal untuk membasmi produksi obat terlarang, pengolahan, perdagangan dan penggunaan di kawasan ASEAN pada tahun 2015.

Pembentukan Badan Khusus.Rezim global yang dibentuk untuk pengawasan obat ditentukan oleh konvensi PBB yang berdampak legislasi nasional dan oleh United Nations General Assembly Special Session (UNGASS). Pada tahun 1998 badan ini mengeluarkan panduan operasional untuk kebijakan dan kegiatan dengan penekanan bahwa, pertama, memerangi masalah narkoba di dunia adalah tanggung jawab bersama dan harus diatasi dalam pengaturan multilateral, yang membutuhkan pendekatan terpadu dan seimbang, dan harus dilaksanakan sepenuhnya sesuai dengan tujuan dan prinsip Piagam PBB dan hukum internasional.

Meskipun demikian tetap dengan penghormatan penuh terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Negara, prinsip non-intervensi dalam urusan internal negara dan hak asasi manusia dan kebebasan dasar. Kedua, seruan kepada semua Negara untuk mengambil tindakan lebih lanjut untuk mempromosikan kerjasama yang efektif di tingkat internasional dan regional dalam upaya memerangi narkoba sehingga berkontribusi terhadap iklim yang kondusif atas dasar prinsip-prinsip yang sama hak dan saling menghormati. Ketiga, semua Negara meratifikasi atau menyetujui dan melaksanakan segala ketentuan Single Convention on Narcotic Drugs of 1961 sebagaimana telah diubah dengan Protokol 1972, Konvensi Psikotropika 1971 dan Konvensi PBB melawan peredaran Gelap Narkotika dan psikotropika 1988.

Untuk tingkat regional kerangka pengawasan dirancang sejalan dengan kerangka rezim global sebagaimana terkandung dalam Rencana Aksi yang merupakan framework berbasis aktivitas dengan fitur yang bertumpu pada Empat Pilar Aksi. Pertama, mempromosikan kesadaran masyarakat dan respon sosial secara proaktif melakukan advokasi tentang bahaya narkoba. Kedua, mengurangi konsumsi gelap narkoba dengan membangun konsensus dan berbagi praktik terbaik dalam pengurangan permintaan. Ketiga, memperkuat aturan hukum oleh jaringan yang disempurnakan tindakan pengendalian dan kerjasama penegakan hukum ditingkatkan, termasuk legislative review. Keempat, menghilangkan atau secara signifikan mengurangi produksi tanaman narkotika ilegal dengan meningkatkan program pembangunan alternatif.

Dalam konteks inilah kemudian lembaga-lembaga pengendalian obat pada level nasional terbentuk, seperti Narcotics Control Bureau (NCB) di Brunei Darussalam, National Authority for Combating Drugs (NACD) di Cambodia, National Narcotics Board (BNN) di Indonesia, National Commission for Drug Control and Supervision (NCDC) di Lao PDR, National Anti-Drugs Agency (NADA) di Malaysia, Central Committee for Drug Abuse Control (CCDAC) di Myanmar, Dangerous Drugs Board (DDB) di Filipina, Central Narcotics Bureau (CNB) di Singapora, Office of the Narcotics Control Board (ONCB) di Thailand, dan Standing Office on Drug Control (SODC) di Vietnam.

Badan-badan itu diposisikan bertanggung jawab atas pelaksanaan kebijakan nasional atau rencana pengendalian narkoba pada tingkat nasional sebuah negara. Menurut rancangannya, badan-badan ini biasanya duduk di bawah Departemen Kehakiman, Departemen Keamanan Publik atau di beberapa tempat langsung di bawah Presiden. Kemanfaatan lembaga-lembaga itu tak bisa dilihat dari apologi atau opini yang dikembangkan secara sepihak. Cara terbaik untuk menilainya hanyalah seberapa efektif ia menahan laju produksi terlarang, peredaran dan konsumsi di tengah masyarakat.

Penutup.Hingga kini pengakuan harus diberikan secara jujur bahwa masalah narkoba untuk level internasional maupun nasional tetap menjadi salah satu masalah keamanan utama bagi semua negara anggota ASEAN yang sudah terlanjur berjanji untuk dirinya sendiri akan membebaskan diri dari narkoba pada tahun 2015. ASEAN secara bersama atau secara sendiri-sendiri tak menunjukkan gambaran tentang jalur tepat dalam upayanya mencapai target bebas narkoba 2015. Tidak ada hal yang bisa ditunjukkan sebagai upaya yang dapat disebutla sebagai cara yang baik untuk mempercepat kemajuan yang ingin dicapai itu.

Masing-masing negara, khususnya Indonesia, kini berhadapan dengan fakta ancaman hilangnya mayoritas kaum muda dari peran kehidupan mereka karena telah menjadi budak narkoba. Generasi di atasnya, sayang sekali, telah pula menandai perubahan status sosial ekonomi mereka dengan  kegairahan penyalah-gunaan narkoba dengan tingkat keleluasaan yang sangat tinggi. Wilayah mana lagi (desa dan kota) yang kini tak mengedarkan narkoba sebagai asupan wajib dan rahasia di negeri miskin terbelakang ini? Para penegak hukum di negara ini pun memang sudah saatnya diragukan, terutama karena banyak yang sudah menjadi “pagar makan tanaman” sembari merusak sistem dengan sangat destruktif, sambil berteriak bahwa di instansi ini dan instansi itu perlu dilakukan test urin.

Mungkin orang akan menuduh gila jika saat ini disarankan sebuah moratorium narkoba dalam arti bahwa untuk sementara, menunggu siatusi normal, jangan berlakukan lagi aturan pidana untuk para pemakai, karena kini tiada satu kekuatan bangsa pun yang mampu mengurangi dosis untuk dikonsumsi oleh setiap pecandu, termasuk mereka yang dipindahkan ke lembaga pemasyarakatan dan rumah-rumah rehabilitasi. Bukankah negara akan lumpuh jika semua pecandu narkoba dimasukkan ke lembaga pemasyarakatan? Atau ada yang menganggap lebih baik pecandu tertentu (orang kaya) dijadikan saja sebagai sapi perahan oleh oknmum penegak hukum yang jahat? Sekali lagi, untuk sementara ayo kita berhenti bicara pidana terhadap pemakai narkoba sebelum negara dapat dipulihkan.

 

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh harian WASPADA, Medan, Senin, 8 Agustus 2014, hlm B7

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: