'nBASIS

Home » ARTIKEL » Coba Tawarkan Ringtone HP Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif Memakai Lagu Jinggle Bells dan Nada Sambungnya Lagu Malam Kudus

Coba Tawarkan Ringtone HP Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif Memakai Lagu Jinggle Bells dan Nada Sambungnya Lagu Malam Kudus

AKSES

  • 556,237 KALI

ARSIP


Kepada media Buya Ahmad Syafi’i Ma’arif (BASM) menegaskan tak ada yang salah bila seorang muslim mengucapkan selamat natal. Itu seperti ucapan selamat pagi saja. Bagaimana itu?

Sordak: Dari banyak kasus yang kutelaah, terutama kasus yang terkait dengan posisi umat Islam di mata internasional, ia seorang penakut dan karena penakut, akhirnya memilih jalan kurang cerdas. yang sangat berbahaya bagi umatnya yang minoritas di dunia internasional, meski mayoritas di negeri sendiri. Padahal nilai universal HAM itu menjunjung tinggi perbedaan. Justru hal itu yang mestinya dipromosikan oleh BASM di dunia internasional. Itu kalau beliau memiliki kapasitas dan jika beliau ini memang dihitung dalam percaturan internasional.

Gellok: Apa maksud kau, lae? Tersinggung aku. BASM ini kan orang yang amat pluralis? Mengapa dicaci?

Sordak: Pluralis ompung kaulah. Pluralis danga-danga mungkin iya. BASM dan tokoh “tercerahkan” lainnya mungkin sudah jauh lebih maju. Tetapi, ketika mayoritas umat (Islam) memahami natal sebagai apa yang dimaksudkan sendiri oleh pemeluk agama yang merayakan natal, yakni kelahiran seorang tuhan, BASM dan orang “tercerahkan” lainnya mungkin dapat dengan enteng menjawab “lho itu kan tuhan untuk dirinya? Itukan tuhan untuk mereka? Bukan untuk saya dan bukan untuk kita yang mayoritas ini?

Gellok: Lho kan benar? Biarkanlah ia bebas memilih tuhannya. Mengapa sewot kau lae?

Sordak: Ya. Maunya prinsip “ia bebas memilih tuhannya” jangan pula berkonsekuensi seperti bebas memaksakan tuhan pilihannya kepada yang lain.

Gellok: Tak faham aku maksud kau, lae. Jangan dibikin ribut ini. Ini soal-soal kemasyarakatan dan hubungan antar umat beragama. Jangan jadi kacau, lae.

Sordak: Misalnya, atribut sinterklas bagi karyawan dan karyawati sebuah perusahaan yang melayani banyak orang mungkin juga tak akan mengganggu bagi seorang BASM meski itu disematkan kepada orang beragama non muslim. Ketika mereka menolak, ada sanksi. BASM juga akan ikut “menghukum” mereka bahkan jika (mana tahu) sanksinya di-PHK. Karena buya kita ini mungkin bisa berkilah: “ah, ini kan cuma seremoni saja, bukan tindakan yang melukiskan pernyataan teologis seseorang. Jadi tauhid seorang muslim tak akan pernah terganggu jika ia mengucapkan selamat natal dan mengenakan atribut sinterklas khas natal”.

Gellok: Ya, itulah maksudku. Kan damai?

Sordak: Damai ompungmulah. Do’a di sekolah yang dengan kecenderungan mainstream Islam saja sudah dianggap harus dirombak karena tidak mewakili semua agama yang ada. Mengapa harus dirombak? Konon kabarnya pernyataan doa ini akan sekaligus mengganggu bagi teologi seseorang yang bukan muslim. Mestinya dalam masalah seperti ini Buya kita ini juga berkata lantang “demi kerukunan mengapa kalian tak mau mengikuti do’a Islam di sekolah? Apa maksud kalian?”

Gellok: Ah, itu lainlah lae.

Sordak: Ketika kepentinganmu kau nilai terganggu, kau akan bilang lain. Esensi keduanya kan sama. Orang beragama lain disuruh mengakui sesosok ketuhanan yang berbeda menurut konsepsi agamanya. Itulah intinya.

Gellok: Bedalah, laeku.

Sordak: BASM kiranya dapat membayangkan bahwa jika sebuah perusahaan yang mempekerjakan banyak orang seperti di mall, untuk kebanyakan kota besar di Indonesia, pastilah terdiri dari mayoritas Islam. Pengunjung dan konsumen di mall itu? Ya pastilah mayoritas Islam.

Gellok: Salahlah kau lae. Bagi saya, mungkin juga elok diberi tantangan natal kepada BASM ini. Untuk kerukunan yang akan dianggap hebat bagi dunia internasional, Muhammadiyah ayo coba memulai atribut sinterklas di semua sekolah dan universitas Muhammadiyah se-Indonesia, Rumah sakit Muhammadiyah dan para pelajar dan mahasiswa serta pemudanya turun ke jalan mengenakan atribut sinterklas menjaga ketertiban lalu lintas, dan seterusnya.Jangan-jangan perlu ditawarkan ringtone hp BASM lagu Jinggle Bells dan nada sambungnya lagu Malam Kudus. Itu sangat pluralis.

Sordak: Saya tak tahu apakah model usulan lae itu cocok untuk pemikiran seorang BASM yang lazim dijuluki oleh kalangan tertentu sebagai guru bangsa. Itu urusan kaulah, lae.  Tetapi begini. BASM mungkin sudah memiliki jawaban “cerdas” lainnya jika ditanya mengapa larangan jilbab berlaku di beberapa tempat. Mungkin beliau akan berkata “demi kerukunan, tanggalkanlah jilbabmu karena untuk saat ini dan di tempat ini orang tak nyaman dibuatnya”. Lae Gellok, tolong fikirkan dari sudut lain, bukan dari sudutmu saja. Jika pun misalnya lae bilang ringtone hp beliau memakai lagu Jinggle Bells, dan nada sambungnya lagu Malam Kudus, itu bukan urusan saya meski saya rasa tak begitulah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: