'nBASIS

Home » ARTIKEL » Komunitas Agama Mana Yang Sangat Butuh Ucapan Selamat dari Komunitas Agama lain Saat Mereka Merayakan Hari Besar Keagamaannya?

Komunitas Agama Mana Yang Sangat Butuh Ucapan Selamat dari Komunitas Agama lain Saat Mereka Merayakan Hari Besar Keagamaannya?

AKSES

  • 557,706 KALI

ARSIP


Gellok berusaha meyakinkan Sordak: “Entah apalah musabab kekacauan dalam komunitas agama kalian yang muslim ini. Padahal kalian ucapkan selamat atau tidak, ketuhanan Jesus Kristus tak bertambah dan tak berkurang di hati kami. Begitu pun jika kalian (termasuk Dien dan buya ASM memasang lagu Jinggle Bells pada hp-nya dan dengan nada sambung lagu Malam Kudus, ketuhanan Jesus Kristus tak berkurang dan tak bertambah”.

Di mata pengamat politik dan ilmuan sosial, Muhammadiyah itu selalu dianggap lebih fundamentalis ketimbang yang lain. Kalau selama ini ia kerap berbeda dengan mayoritas, seperti mengawali ramadhan sebelum yang lain, begitu juga merayakan Idulfitri, pada umumnya orang sudah cukup faham. Sangkin lazimnya sikap mufarakah (penyendirian) ini, akhirnya orang awam kerap lebih mengenal Muhammadiyah sebagai kelompok yang pajolo-jolohon (selalu duluan) berpuasa dan hari raya. Perbedaan tak mungkin dihalau selama ijtihad masih berfungsi. Muhammadiyah pun tak begitu hirau caci-maki di sekitar itu. Dalam kasus sidang isbat (penentuan awal ramadhan) beberapa tahun terakhir misalnya, meskipun Thomas Djamaluddin sudah cenderung mencerca dengan argumen keilmuan astronominya, Muhammadiyah tetap saja teguh berpendirian. Lagi pula, belum tentu kadar kepakaran Thomas Djamaluddin tak ditertawai di lingkungan Muhammadiyah yang selalu memilih metode hisab (perhitungan bulan) itu.

Juga, ketika kelembagaan Kementerian Agama seakan memilih bersubordinasi kepada Thomas Djamaluddin, Muhammadiyah seakan berkata: Biarlah Kementerian memilih tak bersahabat dengan Muhammadiyah. Bahkan dari dahulu hingga sekarang tak apa-apa merasa benar sendiri meneruskan dominasi organisasi tertentu di situ dengan menguasasi jabatan-jabatan yang ada di dalamnya. Mulai dari Menteri, Rektor dan Kepala Madrasah sampai Kepala Urusan Agama Kecamatan, atau Kadhi Nikah hingga petugas legalisasi copy ijazah. Hanya saja, kalau boleh, janganlah berusaha terang-terangan memobilisasi opini kebencian. Bagi Muhammadiyah masih jauh lebih maslahat mempertahankan keyakinan ketarjihan (kemurnian ajaran Islam) ketimbang angan-angan kekiblatan sosial-kultural (dan semisalnya) di balik proyek penyatuan waktu (awal ramadhan dan 1 Syawal) yang dikumandangkan beberapa tahun terakhir.

Dien Syamsuddin. Lalu apakah gerangan yang terjadi ketika Ketua Umum organisasi yang fundamentalis itu, Dien Syamsuddin (Dien), semakin pluralis dengan pendapatnya tentang ucapan selamat natal? Ketika media memberitakan keterangannya (umat Islam boleh mengucapkan “Selamat Natal” asalkan dilakukan sebatas saling menghormati, dan dengan tetap berkeyakinan tak pengaruhi aqidah), orang Muhammadiyah banyak yang resah (di pusat maupun di daerah). Jika selama ini mantan Ketua Muhammadiyah Ahmad Syafi’i Ma’arif (ASM) dianggap sudah berdiri di sudut lain dan dengan perspektif keislaman lain pula sudah lebih dahulu dikenal dengan anjuran yang sama (ucapan selamat natal), kini malah Ketua Umum aktif Muhammadiyah yang berkata.

Memang dibedakan tingkah ringan mengucapkan selamat natal dengan ibadah natal yang tetap terlarang dalam pandangan Dien. Ironisnya, ucapan selamat itu, bagi Dien, dilakukan sesuai keperluan. Bila tak perlu jangan dilakukan. Islam tak sempit dan tidak picik. Bahkan menurutnya dalam konteks kultural ucapan selamat natal itu malah dikategorikan sebagai bagian dari sifat Islam yang rahmatan lil alamin (maslahat bagi alam semesta). Ia pun membandingkan bahwa ketika Idul fitri selalu menerima ucapkan selamat, bahkan dari Vatikan. Karena itu ketika hari besar seperti natal, Dien merasa harus membalas. Satu lagi kata kunci Dien dalam keterangannya: “kebetulan ini bukan masalah ibadah‎”. Upacara Natal bersama dalam Islam hukumnya haram, agar tak terjerumus subhat,” jelas Dien.

Di mata warganya, ini tentu membuat Dien difahami bergerak dalam transisi yang mencemaskan. Metamorfosis yang bagi pihak lain, termasuk Vatikan, mungkin akan sangat menggembirakan dan boleh jadi kelak akan berwujud kerjasama macam-macam berkonsekuensi pendanaan yang langsung bersumber dari para tauke pengendali dunia. Kelihatanlah Dien seolah menyesali umatnya yang bodoh dan picik, yang selama kepemimpinannya dua periode sebagai Ketua Umum Muhammadiyah, rupa-rupanya tak berhasil seinci pun mencerahkan untuk antara lain mampu berucap selamat natal bagi pemeluk Katholik dan Kristen.

Kita tahu bahwa perayaan natal di Indonesia adalah sebuah perhatian nasional yang sangat luar biasa. Opini akan selalu dikembangkan dalam kosa kata tunggal: “damai”. Seolah ada yang harus dideskriditkan. Itu masih belum apa-apa, karena mobilisasi kekuatan keamanan negara dan tingkah relawan-relawan lain yang mengamini bahwa setiap tahun natal terancam bahaya pembunuhan berdarah, sudah dianggap pakem nasional. Sebetulnya ini sudah sebentuk teror yang sistematis. Sayang sekali, perburuan teroris oleh Densus 88 yang tak pernah transparan itu telah ikut mencitrakan dosa-dosa besar atas nama Islam di sini. Seorang tua bangka bernama Ba’asyir yang diperlakukan tak adil akan selalu penting bagi kaki tangan dan petugas-petugas asing yang diberi keleluasaan sangat besar di sini, seperti Sidney Jones itu.

Ahmad Syafi’i Ma’arif. Percakapan dua orang berbeda agama berikut ini menarik untuk disimak. Gellok dan Sordak berdebat seru soal ucapan selamat perayaan natal. Simaklah.

Sordak: Dari banyak kasus yang kutelaah, terutama kasus yang terkait dengan posisi umat Islam di mata internasional, ASM terkesan seorang penakut dan karena penakut, akhirnya memilih jalan kurang cerdas. yang sangat berbahaya bagi umatnya yang minoritas di dunia internasional, meski mayoritas secara jumlah di negeri sendiri. Padahal nilai universal HAM itu menjunjung tinggi perbedaan, termasuk perbedaan sikap karena ajaran tak ikut-ikutan berucap selamat natal.
Gellok: Apa maksudnya? Tersinggung aku. Buya ASM ini kan orang yang amat pluralis? Mengapa dicaci?
Sordak: Buya ASM dan tokoh “tercerahkan” lainnya termasuk Dien mungkin sudah jauh lebih maju. Tetapi, ketika mayoritas umat (Islam) memahami natal sebagai apa yang dimaksudkan sendiri oleh pemeluk agama yang merayakannya, yakni kelahiran seorang tuhan, ASM dan orang “tercerahkan” lainnya mungkin dapat dengan enteng menjawab “lho itu kan tuhan untuk dirinya? Itukan tuhan untuk mereka? Bukan untuk saya dan bukan untuk kita? Dimana aspek penakutnya? Lihatlah Dien mereferensi sikapnya berucap selamat natal sebagai balasan atas ucapan selamat idulfitri Vatikan kepadanya.
Gellok: Lho kan benar? Biarkanlah ia bebas memilih tuhannya. Mengapa sewot?
Sordak: Ya. Maunya prinsip “ia bebas memilih tuhannya” jangan pula berkonsekuensi seperti bebas memaksakan tuhan pilihannya kepada yang lain.
Gellok: Tak faham aku. Jangan dibikin ribut ini. Ini soal-soal kemasyarakatan dan hubungan antar umat beragama. Jangan jadi kacau.
Sordak: Misalnya, atribut Santa Claus bagi karyawan dan karyawati sebuah perusahaan yang melayani banyak orang mungkin juga tak akan mengganggu bagi seorang buya ASM meski itu disematkan kepada muslim. Ketika mereka menolak, ada sanksi. Buya ASM juga akan ikut “menghukum” mereka bahkan jika (mana tahu) sanksinya di-PHK. Karena buya ASM mungkin bisa berkilah: “ah, ini kan cuma seremoni saja, bukan tindakan yang melukiskan pernyataan teologis seseorang. Jadi tauhid seorang muslim tak akan pernah terganggu jika mengucapkan selamat natal dan mengenakan atribut Santa Claus khas natal”.
Gellok: Ya, itulah maksudku. Kan damai?
Sordak: Damai? Do’a di sekolah yang dituduh berkecenderungan mainstream Islam saja sudah dianggap harus dirombak karena tidak mewakili semua agama yang ada. Mengapa? Konon kabarnya pernyataan doa ini akan sekaligus mengganggu bagi teologi seseorang yang bukan muslim. Mestinya dalam masalah seperti ini buya ASM kita ini juga berkata lantang “demi kerukunan mengapa kalian tak mau mengikuti do’a Islam di sekolah? Apa maksud kalian?”
Gellok: Ah, itu lain.
Sordak: Esensi keduanya sama. Orang beragama lain disuruh mengakui sesosok ketuhanan yang berbeda menurut konsepsi agamanya. Itulah intinya.
Gellok: Bedalah.
Sordak: Buya ASM kiranya dapat membayangkan bahwa jika sebuah perusahaan yang mempekerjakan banyak orang seperti di mall, untuk kebanyakan kota besar di Indonesia, pastilah terdiri dari mayoritas Islam. Pengunjung dan konsumen di mall itu? Ya pastilah mayoritas Islam.
Gellok: Salahlah itu. Bagi saya, mungkin juga elok diberi tantangan kepada buya ini dan Dien. Untuk kerukunan yang akan dianggap hebat bagi dunia internasional, Muhammadiyah ayo coba memulai atribut Santa Claus di semua sekolah dan Universitas Muhammadiyah se-Indonesia, Rumah sakit Muhammadiyah dan para pelajar dan mahasiswa serta pemudanya turun ke jalan mengenakan atribut Santa Claus menjaga ketertiban lalu lintas, dan seterusnya. Gedung-gedung Muhammadiyah dapat dihiasi lampu gemerlap melambangkan Merry Christmas and Happy New Year. Sulitkah itu? Modal dasarnya sudah ada berupa tasabbuh (kepengikutan dalam praktik budaya), karena selama ini kantor-kantor Muhammadiyah pun libur saat Natal. Sekolah Muhammadiyah yang sedari awal libur hari Jum’at sudah tak terpertahankannya lagi dan memilih libur hari Minggu. Memang masih ada upaya yang teguh dalam mempertahankan tradisi Islamnya, yakni menyertakan penanggalan Islam dalam setiap dokumen resmi yang memerlukan penanggalan.
Sordak: Saya tak tahu apakah hal itu cocok untuk pemikiran buya ASM yang lazim dijuluki oleh kalangan tertentu sebagai guru bangsa itu. Itu bukan urusan saya. Tetapi begini. Buya ASM dan Dien serta orang-orang tercerahkan lainnya mungkin sudah memiliki jawaban jika ditanya mengapa larangan jilbab berlaku di beberapa tempat. Mungkin beliau-beliau akan dengan tegas berkata: “demi kerukunan, tanggalkanlah jilbabmu karena untuk saat ini dan di tempat ini orang tak nyaman dibuatnya”.

Akar Masalah. Komunitas agama mana yang butuh ucapan selamat dari komunitas agama lain ketika merayakan hari besarnya? Induk persoalannya ada di sini. Siapa yang tak yakin agama apa pun tidak mengharapkan komunitasnya demikian? Jika kemudian ucapan selamat natal seolah kunci kerukunan, maka di sini sudah ada konstruk oleh orang yang bukan berpijak pada ajaran agama apa pun. Mungkin, desakan-desakan kerukunan atas nama agama semacam ini lahir dengan sejarah yang berbeda-beda. Di Indonesia pastilah kebutuhan konsolidasi nasional yang melampau tapal batas, lazimnya muncul dari kekuatan struktural dalam kaitan untuk menghadapi musuh bersama.

Mustahil seorang muslim mampu mengucapkan selamat natal kepada orang Katholik dan Kristen padahal ia tahu bahwa perayaan natal itu adalah perayaan ketuhanan Jesus Kristus yang baginya sosok ini dikenal sebagai Isa yang tak lain adalah seorang di antara 25 rasul yang wajib diyakini misi dan keberadaannya. Orang Katholik dan Kristen juga mustahil mampu mengucapkan selamat untuk ritus komunitas yang menganut sebuah agama yang baginya wajib diajak untuk masuk ke dalam agamanya.

Tetapi haruslah dipilah, bahwa kerukunan sangat penting dan itu tak terkait dengan ucapan selamat pada hari-hari besar. Sebab, jika kewajiban menyiarkan agama kepada semua komunitas agama yang dianggap “lawan” jauh lebih penting, betapa munafiknya orang yang menganjurkan ucapan selamat natal sebagai upaya untuk kerukunan. Pengalaman Indonesia membuktikan bahwa salah satu di antara pemicu masalah-masalah serius dalam hal kerukunan antar umat beragama adalah tidak disepakatinya penghentian penyiaran agama bagi kalangan yang sudah memeluk agama. Kalau begitu, seruan kepada umat non Katholik dan Kristen untuk ucapan selamat natal adalah sebuah penyesatan dan kemunafikan.

Penutup. Gellok pada akhir perbincangannya dengan Sordak mengatakan: aku prihatin umat kalian (Islam) dilanda informasi simpang siur soal ucapan selamat natal itu. Sordak pun menjawab bahwa siikap resmi sebetulnya menolak ucapan selamat natal oleh umat Islam, meski Gellok pun tahu fakta bahwa yang membolehkan ucapan selamat natal juga menyebut sikapnya resmi.

Gellok berusaha meyakinkan Sordak: “Entah apalah musabab kekacauan dalam komunitas agama kalian yang muslim ini. Padahal kalian ucapkan selamat atau tidak, ketuhanan Jesus Kristus tak bertambah dan tak berkurang di hati kami. Begitu pun jika kalian (termasuk Dien dan buya ASM memasang lagu Jinggle Bells pada hp-nya dan dengan nada sambung lagu Malam Kudus, ketuhanan Jesus Kristus tak berkurang dan tak bertambah. Keinginan mengkristenkan orang Islam tak akan surut, sebagaimana orang Islam bertekad serupa.

Tetapi catatlah, Dien dan orang Muhammadiyah selalu akan tetap bertahan dalam prinsifnya menggunakan hisab untuk penentuan awal ramadhan dan 1 Syawal, dan bersedia mengambil resiko retak dengan saudara muslimnya yang lain. Buya ASM dan Dien tidak tahu bahwa di sebuah gereja di Pulau Jawa, Natal pun dikemas dalam peci dan jilbab kemusliman. Ha ha.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Senin 29 Desember 2014, hlm B7.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: