'nBASIS

Home » ARTIKEL » Surat Terbuka Untuk PAN

Surat Terbuka Untuk PAN

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


Posting ini saya pindahkan dari akun facebook seseorang di Medan, pernah saya gunakan sebagai komentar atas postingannya yang selalu sangat fokus membicarakan orang-orang dan pembagian kekuasaan partai di antara elitnya. Postingan-postingannya akhir-akhir ini terkait dengan suksesi PAN.

Aroma politik yang ditebar tak jauh-jauh. Siapa akan menjadi Ketum. Itu saja. Mungkin akan ada sedikit reka-rekaan soal keniscayaan kepemimpinan di daerah. Lalu, tentang mendayung di antara karang-karang yang ada, bukan sekadar bagaimana menjadi anak mas di KIH dan toke besar di KMP. Untuk saat ini politik di Indonesia bukanlah sesuatu yang menarik untuk ditelaah, jika temanya cuma seputar itu. Benar kan?

Posisi saya. Saya adalah seorang aktivis Muhammadiyah sejak muda. Saya memilih tidak ikut ramai-ramai terjun ke dunia politik saat PAN didirikan dengan antara lain mengandalkan jaringan Muhammadiyah. Saya bertekad tetap dalam dunia akademis dan berjanji kepada teman-teman, senior dan junior yang memilih terjun ke dunia politik melalui PAN, untuk tetap membantu sebisanya. Historis itu masihlah tetap berpengaruh kuat hingga kini. Cukup mudah untuk berbicara tentang PAN di lingkungan Muhammadiyah hingga saat ini. Memang, kekecewaan demi kekecewaan sudah semakin menumpuk di antara para aktivis organisasi sebagaimana tercermin dari pendirian partai baru tempohari. Tetapi di atas segalanya, jalan terbaik harus tetap dipikirkan dan diajukan, terserah didengar atau tidak oleh PAN.

Organisasi seperti yang saya ikuti sekarang (Muhammadiyah) mestilah selalu memiliki sikap terhadap politik. Juga sangat memerlukan channel politik untuk memengaruhi kebijakan state, paling tidak, untuk lebih ramah kepada umat dan tidak memusuhi sebagaimana terasa begitu dahsyat akhir-akhir ini. Tentulah Muhammadiyah tak akan dibayangkan terpaku mati pada PAN, karena kebijakan state memerlukan kekuatan besar, terserah dengan akumulasi-akumulasi tertentu yang tak membayangkan panatisme tunggal dalam dukungan.

Platform. Kalau sekadar bercita-cita memiliki sebuah partai dan lolosnya sebuah partai dari ambang batas electoral dan parliamentary treshold, yang hal itu pun sebetulnya terbukti secara terus-menerus sudah semakin sulit untuk PAN, tidaklah begitu besar urusannya. Lihat saja partai-partai baru, mati, dirikan lagi, mati dirikan lagi, mati dirikan lagi.

Kalau sekadar bercita-cita mengorbitkan kader untuk kursi eksekutif daerah atau kementerian, tidaklah begitu sulit urusannya. Jika pun maksudnya hanya sekadar berusaha mensiasati bagaimana pundi negara (APBN) dan pundi daerah (APBD) dan segenap sumberdaya ekonomis lainnya dapat dirampas menjadi milik sendiri, urusannya tentulah bukan urusan negarawan.

Tapi PAN itu seyogyanya partai ideologis yang sangat erat kaitannya dengan reformasi. Sebetulnya misinya besar. Jadi urusannya bukanlah mau diapakan si Hatta atau si Zul dan si Drajat. Orang-orang ini bukanlah fokus penting bagi PAN, betapapun ketersanderaaan pendiri Amin Rais kepada mereka tak lagi bisa dibantah.

Kader dan Kualitasnya. Ditutup-tutupi atau tidak, bagaimana melawan fakta bahwa dendam antar rezim akan selalu memakan korban? Jika daftar dosa semua pejabat akan kita buat sekarang juga, maka yang manalah di antara mereka yang tidak akan kita kawal hingga pintu jeruji?

Oh, ada klausul, kata seseorang. Kader kita ini bisa kolaboratif dengan rezim berkuasa, dan lembaga penegak hukum konvensional dan KPK bisalah dibungkam. Ya, itu menarik, tetapi seberapa tersanderanya kita dengan memandang orang yang menjadi bagian dari masalah menjadi penghulu di rumah kita? Itu tidak berarti bahwa kita tak memiliki solidaritas sesama kader. Bukan itu urusannya.

Bayangkanlah sebuah partai tersandera, nasibnya pastilah hanya sebagai penggembira yang didudukkan dalam pot pembonsaian sistematis.

Obsesi Besar. Pada sebuah pertemuan di Jakarta, saya mendengar sendiri Sutrisno Bachir berkata: Hidup adalah perbuatan. Lalu ia hanya tertantang bicara yang besar-besar: Bagaimana mengalahkan yang besar. “Saya jangan diajak berbicara hal-hal kecil, tetapi ayo kita bicara mengalahkan Golkar (pemenang waktu itu). Itulah urusan saya”, katanya.

Terserah penilian terhadap kepemimpinannya terutama dilihat dari hasil pemilu, tetapi orang seperti ini sangat dibutuhkan di PAN. Dia adalah orang yang sama sekali tak melulu berpikir membawa apa yang dapat dikuasasinya dari aset negara untuk disimpan ke rumah, by hook or by crook. Saya lihat ia memantangkan itu, yang sayangnya untuk ukuran para big boss PAN di pusat maupun di daerah saat ini hal itu sudah tak dianggap sesuatu yang melekat pada karakteristik PAN.

Segudang cerita kita tentang Faisal Basri yang anggun. Cobalah mengarahkan telunjuk untuk mencari apakah benar ada dosa-dosanya. Mungkin kita masih memiliki daftar nama yang tak seberapa di belakang nama Faisal Basri, yang sekaliber dengannya. Maksud saya, sisa pentolan yang masih memiliki kelas dalam partai ini tinggal berapa? Ini sebuah indikasi besar atas perjuangan yang jauh bergeser menjadi sekadar “ayolah cari makan dan menumpuk kekayaan melalui politik”.

Partai ini masih bisa berbicarakah untuk memperbaiki Indonesia? Itu pertanyaannya. Jika PAN misalnya dibayangkan bubar sekarang, toh kadernya yang sangat berselera dalam dunia politik pasti akan tetap dapat tertampung pada partai yang ada, apalagi masih akan ada sebuah partai baru lagi. Di sana tentu bisa cari kekayaan sebanyak-banyaknya, sambil tertawa bersama meruntuhkan Indonesia.

Saya memullai surat terbuka ini dengan video Mars PAN. Sejenak mari kita berdiri tegak. Kita periksa apakah dalam irama dan syair Mars ini ada kesalahan mendasar yang membuat kita tak menemukan pathways (jalan setapak) untuk mereformasi Indonesia.

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: