'nBASIS

Home » ARTIKEL » JAMILA

JAMILA

AKSES

  • 568,980 KALI

ARSIP


jamilabanyak di antara lagu itu berstatus sama dengan lagu Oh Jamila, yakni asyik didendangkan tetapi syairnya tidak cukup aman untuk aqidah

Pada sebuah pesta berkeyboard di Medan beberapa bulan lalu, seseorang dengan begitu besemangatnya menyanyikan lagu berjudul “Oh Jamila”.  Ia dan pemain keyboard serta para pembantu pengatur sound system dan peralatan lainnya, begitu pun penyanyi utama yang dibayar untuk perhelatan itu, juga terlihat sangat bersemangat. Bahkan bahasa yang terpancar dari pandangan-pandangan mereka yang menyapu seluruh publik terlihat seperti meminta persetujuan: “bagus lagu kami ini kan?”

Saya petik sepotong syairnya:

“Oh Jamila”, demikian: “Oh da Jamila da Jamila da bintang filim India//Boru ni Kalifa parumaen ni pandita//Ai tung godang do halak sega dibahen ho da Jamila//Nirimpu anak boru hape naung ina-ina//Oh Jamila (Oh Jamila Jamila Bintang Filim India// Puteri seorang Kalifa (pemimpin spritual Islam) yang menjadi menantu seorang pendeta//Sungguh begitu banyak orang terkecoh karena ulahmu Jamila// Disangka masih gadis rupanya sudah menikah//Oh Jamila).

Saya tidak berkesempatan berbicara kepada lelaki setengah baya yang menyanyikan “Oh Jamila” itu. Tetapi dari pemilik pesta saya ketahui belakangan bahwa dia sebetulnya seorang muslim, dan dari logatnya ia ketahuan bukan kelahiran di tanah Melayu, karena logat Bataknya itu masih kentara (kata orang bahasa Indonesianya pun masih marpasir-pasir atau tak manis). Jika ia orang Melayu atau orang lain di luar Batak, saya tidak begitu serius menanggapi, karena sebuah lagu umumnya terlebih dahulu memancarkan daya tarik tak selalu dari syairnya, melainkan iramanya. Dengan irama yang menarik, orang bisa sangat menyukai sebuah lagu tanpa mengetahui makna atau pesan utamanya, dan bahkan boleh jadi menyesal belakangan setelah tahu makna lagu.

Diskreditkan Islam. Secara keseluruhan lagu “Oh Jamila” sebetulnya sarat dengan poda (wejangan). Hanya saja netralitas lagu ini sulit diakui. Mengapalah mesti anak seorang tokoh Islam (kalifa) kawin kepada putera seorang pendeta dan perilakunya begitu buruk dan dicerminkan masih doyan bergaya tak senonoh di tengah publik hingga banyak orang tergoda kepadanya dan ingin bermaksiat? Sangat betul bahwa lagu ini adalah sebuah kritik sosial yang boleh jadi melukiskan keteguhan dalam keberagamaan sekalipun sudah tak lagi menjadi panduan penting bagi generasi muda, termasuk dalam standar tingkah laku di tengah-tengah masyarakat (pertanyaan berikutnya ialah berapa banyak gadis muslim yang menjadi Kristen melalui hubungan perkawinan).

Tetapi tidak terhindari kerugian besar sepihak. Bolehkah dibalik saja si Jamila ini (atau ganti namanya menjadi Rosita saja) yang kawin dengan seorang putera tokoh spritual muslim (kalifa), sehingga Rosita rela meninggalkan agama bapaknya yang pendeta itu? Bolehkah demikian? Apa resikonya? Siapa yang akan merasa tak nyaman? Atau biarkan saja si Jamila puteri kalifa itu kawin dengan putera seorang pendeta dan putera pendeta ini pindah agama (menjadi Islam). Tetapi tentang mengapa begitu buruk perilaku si Jamila yang tergambar begitu amoral, tak juga dapat ditoleransi menjadi derita yang ditimpakan kepada komunitas agama mana pun.

Saya tidak tahu siapa pengarang lagu “Oh Jamila”, dan mungkin termasuk di antara lagu berkategori anonimous. Umur saya sekarang sudah lebih 50. Sejak kecil saya sudah dengar lagu ini di Tapanuli. Opera Batak yang mobile dari satu ke lain kampung selalu melantunkan lagu “Oh Jamila” ini sebagai salah satu lagu pamungkas dalam pertunjukan mereka. Terasakah lagu ini sangat tak layak di abad modern? Kecuali memang sedang ingin menyudutkan Islam. Memang lagu “Oh Jamila” ini tidak menerangkan apakah ada kejadian pindah agama di antara kedua insan yang menikah itu. Tetapi, sekali lagi, buruknya kesan seorang puteri tokoh Islam (kalifa) dikawini oleh seorang putera tokoh Kristen (pendeta) tidak dapat dinafikan.

Mereka Yang Sadar. Dalam banyak video lagu “Oh Jamila” yang diupload ke youtube, antara lain dengan penyanyi Judika Sihotang bersama Vicky Sianipar, penyanyinya terasa begitu canggung menyebut boru ni kalifa (puteri seorang kalifa). Judika Sihotang lebih sering menyebut saja secara berulang “boru ni pandita parumaen ni pandita (jadi dua besanan sesama pendeta)”. Tentu patutlah diduga bahwa hal ini disebabkan karena ia tahu betapa buruknya pesan syair lagu ini, meski sangat asyik didendangkan.

Dalam beberapa video lain dengan group atau penyanyi yang lain pula naskah syair malah ditulis “boru ni kalibat” (bukan boru ni kalifa). Itu berarti banyak orang yang sudah merasa bahwa lagu ini sangat tendensius dan terang-terangan memusuhi Islam. Kita tahu bahwa pertarungan pindah-memindahkan agama penduduk di Indonesia adalah isyu yang sangat krusial dan berdampak sangat serius terhadap ketahanan nasional. Kasus-kasus khusus di Tapanuli dapat ditelaah dalam buku H Aqib Suminto berjudul Politik Islam Hindia Belanda (1985).

Tetapi lagu yang sudah terlanjur populer dan disenangi publik susah ditarik peredarannya dari ingatan publik, dampaknya sangat dahsyat, paling tidak secara terus-menerus akan memupuk ketersediaan dan permissiveness menyaksikan fenomena kemurtadan di kalangan gadis-gadis muslim, tentu lebih serius di daerah tertentu yang di sana muslim menjadi penduduk minoritas. Dengan fakta bahwa beberapa penyanyi non muslim saja pun merasa sadar bahwa lagu “Oh Jamila” tidak baik bagi publik, maka sebetulnya warga muslim semestinya lebih waspada.

Periksa Syarinya. Seseorang penulis masalah politik yang terkenal pernah memberi catatan tentang orang Batak yang sangat terkenal dalam vokal atau tarik suara, sebagaimana juga beberapa suku-bangsa dari Indonesia Timur. Lagu-lagu mereka merambah ke level nasional dan menambah hazanah kesenian dan kebudayaan nusantara. Lagu-lagu Batak pun banyak yang dinyanyikan oleh penyanyi papan atas bertaraf nasional meski bukan orang Batak. Katakanlah misalnya Koes Hendratmo, Emilia Contessa, Edo Kondologit  dan lain-lain.

Tetapi banyak di antara lagu itu berstatus sama dengan lagu Oh Jamila, yakni asyik didendangkan tetapi syairnya tidak cukup aman untuk aqidah. Salah satu contoh ialah lagu yang kerap dinyanyikan oleh seorang guru besar antropologi yang beragama Islam dari Unimed (Poda Ni Dainang). Secara keseluruhan syair dan lagu Poda Ni Dainang sangat bagus terutama karena fokus mengapresiasi peran seorang ibu dalam menuntun kehidupan yang baik bagi anak-anaknya. Lagu ini juga menunjukkan harapan semoga patronase ibunya akan menjadi kenyataan kelak ketika ia (lelaki Batak) mendapatkan seorang isteri. Ibunya yang idola dalam perilaku dan tanggungjawab untuk kemajuan anak-anaknya, diharapkan dapat direplikasi oleh isteri yang akan mendampinginya dalam menjalani kehidupan (dijelaskan dalam penggalan syair yang berbunyi: anggiat dapot ahu inang, songon burjum parsondukhi).

Tetapi ketika lagu ini menjelaskan tangiang (doa), urusannya tentu menjadi lain. Bisa saja tangiang sebagai doa’ dianggap oleh sebagian orang sebagai kata netral seperti halnya kata pray dalam bahasa Inggeris. Tentulah saling pinjam istilah teknis dan konsep-konsep tertentu antara satu dan lain agama dapat terjadi dengan atau tanpa kesadaran sama sekali. Disadari atau tidak, sesungguhnya ini adalah sebuah urusan serius untuk agama mana pun.

Sabtu pagi di laman akun facebook saya muncul sebuah tautan lagu Patik Palimahon (firman kelima dari 10 firman). Seseorang yang saya kenal sejak usia anak-anak mengirimkannya. Pertemanan saya pada facebook hampir mencapai 5000 orang. Saya was-was seolah saya mrekomendasikan lagu ini kepada mereka. Akhirnya saya putuskan untuk memblock pengirim tautan dari pertemanan. Rasanya resiko dianggap sombong masih jauh lebih masalahat ketimbang ikut bertanggung-jawab mengedarkan sebuah pesan yang destruktif terhadap aqidah.

Sesungguhnya lagu “Patik Palimahon” ini juga sangat bagus kecuali ketika ia mereferensi firman kelima dalam ajaran Kristen. Dalam bahasa Batak firman ini umumnya diterjemahkan “Ingkon Pasangapunmu natorasmu….” (muliakan orangtuamu…). Ajaran yang sama kemungkinan saja terdapat dalam agama lain, misalnya dalam Islam tentang birrul walidain (perbuat baik kepada orang tua).

Tetapi bagaimana menghindari ketersusupan ajaran dan konsepsi keimanan oleh sumber ajaran agama yang berbeda? Saya tidak tahu jika penganut filsafat perennial (yakin atas kebaikan pencarian persamaan di antara agama-agama) atau kalangan penganut ideologi baru pluralisme akan merasa tersinggung dengan catatan saya ini.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA, Senin, 05 Januari 2015, hlm B7

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: