'nBASIS

Home » ARTIKEL » Surat untuk Tony Fernandes

Surat untuk Tony Fernandes

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


toni fernandesSaya yakin kau bukan orang gila dan bukan monster. Hanya saja kau mampu membaca peta kemiskinan dunia sehingga faham bahwa mayoritas warga dunia adalah orang miskin. Kau pun melakukan rasionalisasi untuk sebuah reduksi tajam biaya-biaya yang menyebabkan kemahalan terbang sehingga orang miskin mampu berkata kepadamu “Tony Fernandes, dengan recehan milik saya ini saya ingin terbang bersamamu. Boleh kan?”

Dear Tony Fernandes
You said now everyone can fly. Setiap orang kini dapat terbang (dengan murah, bersama saya). Saya sangat setuju, dan kau telah sangat menolong banyak orang untuk mobilitas dan keterhubungan antar pulau, antar negara dan antar benua, dengan biaya murah.

Kau tahukah Tony Fernandes, di negeri kami pun ada seorang Kepala Daerah yang bangga dengan sebuah temuan dari sebuah SMK (Sekolah Menengah Kejuruan), yakni mobil murah. Ia menggunakannya sebagai mobil dinasnya. Sayang mobil yang lebih dikenal dengan mobil ESEMKA itu kini tak terdengar lagi dan tak dapat ditindak-lanjuti, entah karena apa yang saya yakin seyakin-yakinnya hanya orang yang faham politik sajalah yang tahu itu.

Mobil ESEMKA murah itu jauh berbeda dengan daganganmu now everyone can fly. Saya yakin kau bukanlah orang bodoh atau monster jahat atau orang yang gila pencitraan (entah untuk apa) yang bersedia mengorbankan nyawa manusia demi recehan. Kau dilawan di Indonesia sekarang, terutama oleh menteri kami Ignasius Jonan.

Kau pun kini sangat dipersalahkan tak punya izin terbang hari Minggu dari Surabaya ke Singapura menyusul yang lain. Dalam kasus ini kau diposisikan tak ubahnya seperti supir taksi gelap yang memarkir kenderaannya sambil meneriaki siapa saja yang mau kau angkut dari Jalan Sisingamangaraja Medan menuju Barus, Siantar, Sidimpuan, atau lokasi lain. Beritahulah Ignasius Jonan, bahwa kau tak seburuk itu.

Saya yakin kau bukan orang gila dan bukan monster. Hanya saja kau mampu membaca peta kemiskinan dunia sehingga faham bahwa mayoritas warga dunia adalah orang miskin. Kau pun melakukan rasionalisasi untuk sebuah reduksi tajam biaya-biaya yang menyebabkan kemahalan terbang sehingga orang miskin mampu berkata kepadamu “Hey Mr Tony Fernandes, dengan recehan milik saya ini saya ingin terbang bersamamu. Boleh kan?” Kau sambut suara orang miskin itu dengan jawaban pasti.

Mungkin orang-orang malas membaca statistik kejadian, termasuk kejadian kecelakaan penerbangan sipil maupun militer. Pesawat terbaru dan tercanggih sejenis Sukhoi superjet 100 saja pun jatuh di sini, bahkan dalam penerbangan ujicobanya dan memperkenalkan diri dengan gratis.  Atau orang hanya ingin bermanuever untuk tujuan tertentu.

Ketika saya tulis sebagai status dalam laman facebook saya pagi ini, seseorang segera memberi tanggapan tulisan ini, demikian:

Yang terakhir menurut saya Pak, yang paling mendekati. Ada kepentingan yang tidak jelas bermain di balik pelarangan terbang AirAsia. Yang melarang terbang itu sadar tidak, tiket yang terjangkau itu sudah menyelamatkan hampir 28 ribu keluarga besar paguyuban pedang bakso, jamu dan sejenisnya yang setiap tahun mudik untuk berlebaran di Pulau Jawa. Yang melarang terbang itu mengapa tidak sadar bahwa nyawa 28 ribu paguyuban tadi yang berada di Sumut, terancam karena berdesak-desakan, sebelum adanya tiket murah ke Pulau Jawa. Mereka berdesak-desakan di bus-bus murah yang mereka sewa dari Terminal Amplas dsb. Sadar tidak yang melarang itu, angkutan massal kita merupakan bagian terbesar pembunuh di jalan raya, karena mereka harus kejar setoran di tengah sejuta pungli di jalan raya dari Sumatera ke Jawa, seratusan juta lubang jalanan yang rusak akibat kurang pedulinya Pemerintah untuk segera membangun tol trans Sumatera. Saya kira memang yang melarang itu hanya cari perhatian dan cari untung walau sedikit.

Agaknya, ini adalah sebuah kisah dari negeri sejuta tanya. Tetapi yang terpenting, ayolah Tony Fernandes. Buka mata semua orang, bahwa dengan tarif murahmu tak menyepelekan nyawa manusia. Katakan kepada mereka semua, tarif murah bukan sebuah pembataian untuk nyawa manusia, bahkan itu sebuah jawaban untuk kemiskinan struktural. Atau kita harus bertepuk-tepuk tangan menyaksikan keserakahan kapitalis yang mencekik leher rakyat dengan tarif mahal apalagi dalam menghadapi liburan.

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: