'nBASIS

Home » ARTIKEL » “KAWAN JOKOWI”

“KAWAN JOKOWI”

AKSES

  • 538,596 KALI

ARSIP


yang terhormat

SURAT TERBUKA UNTUK BAPAK JOKO WIDODO

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wa barakatuh

Sekjen Kemendagri menerbitkan surat edaran tanggal 26 Januari 2015, yang menegaskan bahwa nama Presiden Joko Widodo di berbagai acara kenegaraan harus disebut “Yang Terhormat, Presiden Republik Indonesia, Bapak Jokowi”.

Banyak yang merasa aneh, lalu mengolok-olok. Juga banyak yang mencoba mencari tahu dan kemudian menjawab sendiri, bahwa ini adalah bagian dari pengalihan perhatian dari hal-hal besar yang akan berlangsung tidak pada tempatnya di negeri ini.

Saya tidak termasuk dalam kedua kategori itu, meski sangat menunggu pembuktian hal terakhir dimaksud, yakni kebenaran scenario pengalihan perhatian publik.

Saya berpendapat:

(1) Sebetulnya orang separtai yang bapak angkat menjadi Menteri Dalam Negeri, yakni Tjahjo Kumolo, terasa sangat berlebihan dan perlu ditegur, mengapa tidak memanfaatkan energerginya untuk hal-hal besar pada kementerian yang dipimpinnya. Kalau ini semata langkah hipokrit, saya ingin mengingatkan bapak Presiden bahwa di dunia ini banyak sekali orang yang hilang keseimbangan karena hal-hal serupa dan akhirnya menghadapi bencana.

(2) Surat edaran itu sebetulnya lebih memojokkan bapak Presiden sebagai orang dengan keinginan besar untuk dihormati. Membiarkan keberlakuan pengaturan surat edaran itu dapat bermakna bahwa Bapak Presiden menyambutnya dengan senanghati.Padahal apalah urgensinya, Bapak Presiden Joko Widodo.

Meski dalam posisi bingung, tetapi saya yakin bukan cara-cara seperti ini yang dapat dianggap menjadi bagian dari revolusi mental itu. Ini salah kaprah dan sangat dangkal dikaitkan dengan revolusi mental.

Jika harus berjulukan seperti para pendahulu, mestinya prestasilah yang menjadi basisnya. Soekarno dijuluki Proklamator, karena memang itu tak terbantahkan. Soeharto dinyatakan sebagai Bapak Pembangunan, itu kurang lebih dimaksudkan untuk dorongan kepada rakyat dalam partisipasi untuk pembangunan, sambil ingin menarik garis tegas antar era.

Jika harus berjulukan, saya mengusulkan bukan sekadar dari Joko Widodo menjadi Jokowi. Tetapi mengapa tidak lebih berani mempopulerkan julukan yang lebih tepat, misalnya “Kawan Jokowi”, untuk menegaskan kemerakyatan, sejalan dengan kebiasaan tercatat seperti blusuan, bermobil dinas Esemka, baju kotak-kotak, kemeja lengan panjang bergulung tak disisipkan ke celana, dan motto kampanye “Jokowi adalah Kita”.

Demikian dan terima kasih.

Wassalamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Shohibul Anshor Siregar

sumber foto

Advertisements

1 Comment

  1. taufik says:

    saya tidak habis pikir, apa yg paling urgen bg kementrian dalam negeri hingga mengeluarkan surat edaran soal penyebutan untuk sang presiden. Di sisi lain banyak hal lg yg jd PR baik yg di tinggalkan gamawan fauzi. Atau yg kontemporer. Kita ambil contoh.masalah klasik yg terjadi dalam setiap pemilu. Pilkada. Pilgub adalah DPT. Seakan ini menjadi penyakit musiman, bak banjir di jakarta.di medan juga di kampung saya binanga. Apa ini tidak urgen? Jika memang ini agenda 5 tahunan. E-KTP ternyata hingga detik ini tidak tuntas. Belum lagi gesekan antar etnis,suku, agama. Apa ini tidak urgen di diskusikan! Minimal ada surat edaran yg di keluarkan urusan surat menyurat, KK.KTP. ATO yg lain di permudah kalaupun tak bisa di gratiskan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: