'nBASIS

Home » ARTIKEL » MEMORI GEDUNG NASIONAL MEDAN

MEMORI GEDUNG NASIONAL MEDAN

AKSES

  • 568,914 KALI

ARSIP


Oleh Budi Agustono
Sekretaris Program Studi Magister Ilmu Sejarah, Fakultas  Ilmu Budaya USU

Gedung Nasional Medan (GNM) telah menjadi monumen publik. Monumen adalah sesuatu yang didirikan untuk memeringati kebesaran seseorang, penderitaan masyarakat dan peristiwa tertentu yang menggelorakan bangsa.

Belakangan ini media massa   memuat serial pemberitaan tentang bangunan bersejarah   Gedung Nasional  Medan (GNM).  Pemberitaan GNM  bukan lantaran gedung ini menjadi  terhormat dalam deretan ribuan gedung yang tersebar di penjuru kota Medan, tetapi  karena gedung ini dari masa ke masa dibiarkan hancur tidak terawat.

GNN berdiri tahun 1935 merupakan saksi sejarah tempat bertemunya berbagai organisasi masyarakat dan beragam tokoh lokal mendiskusikan perkembangan  masa depan bangsa di Sumatera Utara. Selain menjadi  gedung bersejarah, pembangunan fisik gedung ini mulanya  tidak berdiri utuh saat dibangun, tetapi diangsur sedikit demi sedikit karena ketiadaan dana.

Pengurus Yayasan Dana GNM  sampai-sampai membuka fonds untuk pengumpulan dan renovasi gedung  yang rusak ditelan masa. Pengumpulan fonds  berlangsung tahunan dan menjelang tahun 2000 setelah dana terkumpul, pengurus Yayasan  Dana GNM  memerbaiki gedung bersejarah ini.

Pembangunan GNM  berliku-liku. Gedung yang berdiri sebelum kemerdekaan tidak dapat dirampungkan di masanya  karena  situasi politik masa itu tidak memungkinkan dilanjutkan pembangunannya.  Setelah kemerdekaan tepatnya  tahun 1951 pembangunan gedung  dilanjutkan lagi, tetapi lagi-lagi  berhenti di jalan, lalu di tahun 1956 pembangunannya  diteruskan  kembali.

Tahun 2000 melalui  sumbangan berbagai pihak, gedung ini dapat diselesaikan. Menyaksikan perkembangan  berdirinya GNM  membuktikan para penyumbang dari berbagai kalangan masyarakat ingin melestarikan gedung ini sebagai warisan  budaya. Diharapkan juga  gedung ini menjadi tempat pertemuan   siapa saja untuk membincang berbagai persoalan dalam memajukan bangsa.

Ternyata keinginan mewujudkan   GNM sebagai  warisan budaya yang juga menjadi tempat berkumpulnya berbagai komponen masyarakat bertukar gagasan untuk memajukan kehidupan berbangsa di wilayah ini jauh dari panggang dari api. Alih-alih merawat, memelihara, melindungi dan memertahankan sebagai warisan budaya,  GNM malah dibiarkan bagaikan bangunan tidak bertuan.

Di sekitar GNM  setiap harinya disesaki pedagang sayur dan pedagang barang bekas yang memangsa lahan kosong sebagai tempat penyimpanan barang. Karena gedung ini dianggap tak bertuan dan tidak  bernilai karena masyarakat defisit pengetahuan tentang  keberadaan GNM, para pedagang  menyimpan barang dagangannya di gedung ini.   Dengan berubahnya fungsi sebagai penyimpanan barang-barang pedagang, GNM  menjadi  kumuh, terlantar, tidak terurus, jorok dan kotor.

Warisan Budaya

GNM telah menjadi monumen publik. Monumen adalah sesuatu yang didirikan untuk memeringati kebesaran seseorang, penderitaan masyarakat dan peristiwa tertentu yang menggelorakan bangsa.  Monumen  terbagi dua yaitu  yang benda dan tak benda. Yang benda termasuk bangunan,  patung, situs  sejarah,  dan kuburan. Sedangkan yang tak benda antara lain cerita rakyat, buku, tradisi lisan, tarian dan sebagainya.

Saat ini GNM diperebutkan banyak orang sehingga  memunculkan  banyak tafsir. Dalam perebutan itu  ada yang ingin memertahankan  glorifikasi  masa lalu, tetapi ada pula yang bertujuan menghilangkan memori kolektif masyarakat.

Monumen adalah wajah kita. Makin tinggi apresiasi terhadap monumen, makin tinggi penghargaan kepada kita. Kita adalah warga yang ingin memertahankan dan memelihara masa lalu untuk meneguhkan siapa kita. Karena itu monumen adalah pertanda identitas kita.  Selain sebagai pertanda identitas, monumen  adalah warisan  budaya.

Warisan budaya harus dipreservasi untuk menembus dan  memediasi  masa lalu. Warisan masa lalu itu dapat menjadi inspirasi  penguat identitas bangsa. Di berbagai  negara misalnya, jika warisan budaya ditelantarkan, dirusak atau digusur untuk kepentingan komersial, masyarakat turun melancarkan protes memertahankan warisan budaya itu.

Merampas dan menghancurkan   GMN dari ruang publik  merupakan penghancuran  memori masa lalu masyarakat Sumatera Utara. Demikian pula dengan perusakan, pembiaran, dan penelantaran GMN sebagai situs memori masa lalu serta menjadikan GMN sebagai  grosir dagang sejatinya merupakan tindakan  kekerasan terhadap warisan budaya.

Tindakan seperti ini tidak bisa dibiarkan dan harus dilawan. GMN harus dipertahankan sebagai monumen dan warisan budaya Sumatera Utara agar memori publik tentang historical site ini   tetap tetap terjaga, terwariskan dan tertransmisikan  kepada publik  wilayah ini.

Saat ini Pemko Medan membisu, bungkam, tuna netra dan tidak berbuat apapun untuk menghentikan perusakan, pembiaran dan penghancuran GMN.  Agar GMN tetap  terjaga, terpelihara, dan terlindungi dari kekerasan warisan budaya  sudah waktunya Pemko Medan turun gunung menyelamatkan GMN dari kehancurannya.

sumber: klik di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: