'nBASIS

Home » ARTIKEL » YAYASAN DULU BEKERJA KERAS, YAYASAN SEKARANG MENJUAL

YAYASAN DULU BEKERJA KERAS, YAYASAN SEKARANG MENJUAL

AKSES

  • 541,646 KALI

ARSIP


Kabar menyedihkan, karena orang-orang yang mengaku pengurus Yayasan Gedung Nasional (GNM) sudah mengajukan permohonan perubahan peruntukan lahan GNM di Jl. Sutomo simpang Jl Veteran ke DPRD Medan. Kabarnya GNM bakal dirubuhkan diganti dengan bangunan pusat bisnis. Kabar lain gedungnya saja dipertahankan namun di sekitarnya bagian belakang dan samping dijadikan pusat grosir.

Yang menarik, tidak banyak yang tahu kalau pemohon yang mengaku pengurus yayasan bernama H. Alfredo. Siapa dia sesungguhnya, apa aktivitasnya selama ini, dan bagaimana dia bisa menjadi pengurus Yayasan GNM, semuanya perlu ditelusuri agar DPRD tidak disalahkan rakyat nantinya.

Kalau pengurus yayasan dulu orang-orang idealis, benar-benar pelaku sejarah, bahkan mereka mendirikan GNM dengan kerja keras menggalang dana dari rakyat, membuat bazar, tontonan, dan aksi sosial lainnya untuk mengumpulkan uang satu sen dua sen sehingga terbangunlah GNM yang fenomenal di masanya, dan sarat dengan sejarah perjuangan masyarakat/warga Medan dalam mengusir penjajahan di masa lalu. Lewat perjuangan melawan Sekutu mereka mengorbankan jiwa dan raganya sehingga areal GNM menjadi bukti sejarah heroiknya para pejuang Medan Area di masa lalu.

Di sekitar areal GNM terdapat banyak bukti sejarah, ada bangunan hotel Wilhelmina tempat petinggi Belanda (sekarang bangunan ruko itu menjadi losmen). Di sana pula terdapat situs sejarah yang menyatakan peperangan Medan Area. Juga terdapat perkantoran penting lainnya di masa pemerintahan Sekutu (kini sudah menyatu dengan Kantor Dinas Pasar), dan sudah dibangun tugu Apollo penanda areal tersebut bagian sejarah perjuangan Medan Area, banyak pejuang gugur di situ,  sehingga  sangat wajar dijadikan situs sejarah dan dilestarikan menjadi cagar budaya bernilai tinggi seperti peperangan di Surabaya, Bandung dll.

Perjuangan rakyat Medan Area tidak kalah dengan perang 10 November Surabaya, Bandung Lautan Api, perang Ambarawa Semarang. Keempat peperangan itu termasuk peristiwa pertempuran besar dalam upaya mempertahankan kemerdekaan RI yang tercatat dalam buku sejarah. Oleh karenanya peneliti sejarah Universitas Negeri Medan (Unimed) Dr Phil Ichwan Azhari MS mengatakan GNM harus diselamatkan, semua kita mendukung. Hanya orang-orang yang buta sejarah yang mendukung perubahan peruntukan GNM sehingga motif dari perubahan itu sepatutnya diselidiki. Sebab, sedikit pun mereka yang mengaku pengurus yayasan tidak tercatat dalam sejarah pendirian GNM, kok enak-enaknya mereka ingin merubuhkan GNM atau ‘menjual’nya kepada pihak ketiga yang didominasi asing dan aseng.

Hemat kita, kalau memang ingin diubah menjadi pusat perdagangan atau perkantoran sesungguhnya pada tahun 1990an beberapa pengurus yayasan yang berjuang membangun GNM sudah memikirkannya. Mereka ingin membangun gedung setinggi enam lantai dan dibagi dua, Tiga lantai bawah untuk developer dan tiga lantai ke atasnya untuk yayasan. Namun sejumlah pengurus menolak karena memikirkan nilai sejarahnya, di mana GNM dibangun atas penggalangan dana dari rakyat. Saksi sejarah salah seorang pengurus yayasan (Hj Ani Idrus) ketika itu tegas menolak GNM dibangun megah karena akan menghilangkan nilai-nilai sejarahnya. Sejak itu hilang upaya mengubah dan mengalihkan fungsi areal GNM untuk dibisniskan. Sampai akhirnya satu per satu pengurus yayasan lama yang berjuang dengan keringat, tenaga, dan pikiran meninggal dunia.

Kalau sekarang muncul pemikiran untuk mengusut asal-usul pengurus yayasan baru (pasca meninggalnya pengurus lama yang idealisme tinggi), siapa yang mengangkat mereka, memenuhi syaratkah mereka secara hukum dan anggaran dasar, pihak terkait perlu turun tangan. DPRD Medan dan Walikota Medan tidak boleh hanya menerima begitu saja mereka yang mengaku yayasan, tapi harus diklarifikasi asal-usulnya, keabsahannya di mata hukum. Sehingga jangan sampai jatuh ke tangan orang-orang yang salah, apalagi sampai menghancurkan GNM yang sepatutnya dipertahankan karena GNM tidak dapat terpisahkan dengan sejarah perkembangan Kota Medan dan  seharusnya dijadikan situs bangunan bersejarah karena usianya sudah melebihi 50 tahun.

Pengurus yayasan sekarang perlu dipertanyakan ‘’track record’’ dan komitmennya. Kalau tidak bisa membangun GNM sebaiknya mundur dari pengurus. Kalau hanya ingin ‘menjual’ kepada pihak ketiga model pengurus seperti itu hanya ingin enaknya saja, tidak memikirkan sejarah yang terkandung di dalamnya. Sangat naif dan memalukan pengurus yang bisanya hanya ‘menjual’ situs – cagar sejarah dan budaya. Apalagi sampai mengira GNM merupakan warisan nenek moyangnya. +

Intisari:
‘Sangat naif dan memalukan pengurus yang bisanya hanya main ‘jual’ situs – cagar sejarah dan budaya’

sumber: klik di sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: