'nBASIS

Home » ARTIKEL » MEMBUJUK NEGARA AGAR MAU MEMBERANTAS NARKOBA

MEMBUJUK NEGARA AGAR MAU MEMBERANTAS NARKOBA

AKSES

  • 535,235 KALI

ARSIP


narkobas

Tolong beritahu saya bagaimana caranya membujuk negara agar ia mau serius memerangi narkoba. Ini serius. Sangat serius.

Siang ini saya dihubungi oleh seorang jurnalis yang mengirimkan pesannya melalui inbox facebook.

“bang awak mau tanya pendapat bang tentang aksi kejahatan di kota medan dipandang dari sosiologinya bang”

Saya senang melayani diskusi dengan jurnalis ini. Saya mulai dengan jawaban demikian:

Kejahatan itu selalu bertingkat menurut pelaku, sasaran maupun akibat yang ditimbulkannya. Ada blue collar crime (kejahatan kerah biru), ada white collar crime (kejahatan kerah putih).

Akhir-akhir ini keresahan semakin merebak di kota Medan, pihak kepolisian pun mengeluarkan pernyataan keras: “akan menembak di tempat pelaku  kejahatan yang meresahkan”. Pernyataan itu adalah respon atas kejadian-kejadian meresahkan yang memang semakin marak. Kita tahu hal ini bukan sikap reaktif pertama. Bahkan kepolisian pun sudah pernah membentuk satuan pemburu preman. Menurut saya sasaran yang dimaksudkan, yang mereka sebut meresahkan itu, adalah jenis pelaku kejahatan blue collar crime (kejahatan kerah putih). Ada orang yang tidak sekedar kenderaannya dirampas, tetapi juga menganiaya pemilik, dan bahkan hingga ada yang tewas.

Peningkatan kejadian itu adalah fakta sosial yang jawabannya ada pada fakta sosial lainnya. Artinya sebuah fakta sosial tidak pernah berdiri sendiri.

Saya tidak dapat memastikan, tetapi sangat curiga bahwa hal ini adalah kejahatan yang terkait dengan peningkatan konsumsi dan pecandu narkoba di kalangan grassroot level. Sayangnya kita tidak selalu mendapatkan data yang benar dari lembaga mana pun di negeri ini tentang narkoba. Statistik abu-abu selalu tidak dapat memberi kita penjelasan yang baik tentang sebuah fakta, termasuk narkoba.

Pengakuan Negara atas ketak-mampuan menanggulangi narkoba telah ditunjukkan dengan sikap permissiveness Negara. Antara lain kini kita dibingungkan oleh konstruk negara tentang apa yang dimaksudkan dengan gembong narkoba, Sebab setiap hari ada laporan media tentang penangkapan gembong narkoba, begitu juga dengan seremoni pemberangusan barang bukti. Dari kasus penangkapan-penangkapan yang dilaporkan oleh media, kelihatannya gembong narkoba itu adalah orang-orang kecil, dan merekalah yang bertanggungjawab atas narkobaisasi negeri ini. Semua ini menjadi data yang menjelaskan bahwa Negara sungguh-sungguh telah menyerah kepada narkoba.

Ada keterangan akademis tentang data dari kalangan ahli bahwa uang beredaar di dunia ini dan di Indonesia terbagi dua, yakni uang narkoba dan uang non-narkoba. Ternyata uang narkoba itu mencapai 2/3 dari keseluruhan. Jika begitu, pantaslah Negara tidak mampu dan memilih menyerah, terutama karena keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh para petugas tertentu dapat dibayangkan sangat menggiurkan. Jalan pintas mendapatkan uang dan kekayaan ini telah merubah drastis motif dan tindakan atas kejahatan-kejahatan narkoba. Jadi di sini ada fenomena “musang berbulu ayam”, atau “pagar makan tanaman”.

Dengan cara pandang demikian itu pula, maka kita tidak mungkin lebih baik ke depan. Karena negara dan pihak keamanan justru menunjukkan prioritas yang salah. Kejahatan-kejahatan yang disebut meresahkan itu hanyalah sebuah akibat dari dibiarkannya narkoba menjadi jalan hidup bagi banyak orang (pelaku kecanduan, pedagang kecil, menengah dan kakap, serta oknum-oknum yang mengendalikan institusi Negara).

Rakyat harus memilih “mempersenjatai” diri dalam kasus dan keadaan seperti ini. Karena laju pertumbuhan kejahatan pasti tidak mungkin diimbangi oleh sistem pencegahan dan penindakan yang kemampuannya jauh di bawah ancaman yang ada.

Meskipun kita menyoroti maraknya kejahatan jenis blue collar crime, tidak berarti jenis white collar crime surut di kota Medan. Saya selalu mengikuti berbagai diskusi di social media dan kejadian-kejadian yang dilaporkan oleh media tentang banyaknya ketidak-beresan berindikasi korupsi, bahkan yang sifatnya kebanyakan tersembunyi (hidency).

Jika KPK selalu menunjukkan bagian-bagian korupsi besar yang ada dalam brankas Negara (pusat dan daerah), dan itu termasuk kecil, hingga kini Indonesia tidak memiliki cara cukup tangkas untuk melawan kejahatan dan potensi kejahatan korupsi yang sasarannya kekayaan Negara (alam dan sebagainya) yang tidak atau belum tercatat dalam kas Negara.

“Terkait dengan adanya perintah tembak ditembak apakah menurut abang itu salah satu untuk menurunkan angka kejahatan di kota medan?”, tanya jurnalis itu kemudian. Saya jelaskan bahwa gertakan itu tidak mungkin menuntaskan, hanya membuat para pelaku lebih berhati-hati.

Jurnalis itu bertanya kembali: sebenarnya apa saran yang dilakukan agar polisi dapat memberikan rasa aman kepada masyarakat terutama yang pulang malam hari dan meminimalisir kejahatan jalanan itu Saya jawab: aktifkanlah pemburu preman itu. Siagakan 24 jam seluruh polisi dengan berbagi zona wilayah hingga semua wilayah tercover. Tetapi itu juga tidak cukup, Karena kebutuhan atas narkoba bagi pecandu yang mendorongnya untuk mapu melakukan kejahatan apa saja dan dimana saja oleh karena dorongan kecanduan itu,

Sembari melakukan penjagaan, negara harus bisa dibujuk untuk bekerja menuntaskan peredaran narkoba. Lagi pula ia (Negara) pernah berjanji membebaskan Indonesia dari narkoba tahun 2015. Namun, bagaimana cara untuk membujuk negara?

foto:http://www.mememaker.net/static/images/memes/4061508.jpg

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: