'nBASIS

Home » ARTIKEL » MENDIRIKAN PTPN GANJA DI ACEH

MENDIRIKAN PTPN GANJA DI ACEH

AKSES

  • 551,228 KALI

ARSIP


ganja

Berbekal pengalaman selama ini semua orang pasti dengan ringan mengatakan tidak ada kekuatan apa pun di Indonesia yang dapat mengeliminasi perdagangan dan peredaran gelap ganja. Undang-undang dan pola penegakan hukum hanya akan menceritakan lakon-lakon konyol yang memalukan dan merontokkan wibawa sebuah bangsa

Kabarnya, setelah Thailand, Aceh adalah produsen ganja terbesar di Asia Tenggara. Percaya atau tidak, orang kerap mengatakan bahwa di hampir setiap jengkal belantara Aceh tanaman ganja dengan mudah dapat ditemukan (baik yang liar maupun yang dibudidayakan secara diam-diam). Itu terjadi dari dulu. Ya, dari dulu.Sebagaimana halnya dengan mudah menemukan sampilpil (semak jenis pakis) di hutan Tapsel. Alam dan tanahnya memang cocok untuk tumbuh-suburnya ganja, tak ubahnya hubungan perairan dan ikan. Kata orang, dulu di Aceh ganja bebas diperjual-belikan di pasar. Bahkan digantung di kios-kios, dan juga di gerobak-gerobak penjaja sayur.

Image Aceh sebagai penghasil ganja memang sudah mendunia. Seorang penulis yang menyamarkan diri “Jendela Kita” menyebut bahwa dalam sidang ke 49 UN Commission on Narcotic Drugs pada tanggal 13-17 Maret 2006 di Wina Austria, ganja Aceh turut dibahas dengan trade mark sebagai “ladang ganja” terbesar sekaligus penyuplai ganja berkualitas nomor wahid. Itu artinya bahwa sebagai mata pencaharian berbasis kriminal dan pelibatan orang dalam arena lawfull corruption, ganja Aceh sangat dihitung di dunia.

Wapres Jusuf Kalla (2007) pernah berkata bahwa ganja buat resep masakan kari, gulai, itu sudah biasa. Bukan untuk teler, tapi sekadar penyedap rasa. Bagaimana jika ganja dimaksudkan tak sekadar untuk bumbu penyedap? Katakanlah untuk industri besar yang membutuhkan adanya organisasi besar pula? Kita menanam sawit, karet, teh dan lain-lain, dan mewarisi PTPN dari Belanda. Mengapa ganja tidak kita urus seperti itu? Ganja yang merupakan salah satu kekayaan alam kita perlu diurus sebaik-baiknya, jangan lagi menjadi titik konflik dan menjadi sumber penyelewengan kekuasaan yang sangat merugikan sebagaimana terjadi selama ini.

Pemanfaatan dan Dampak. Seorang pengusaha berjuang untuk memperoleh izin meracik jenis tertentu dari ganja untuk produk makanannya. Itu bukan hal luar biasa, kecuali soal bagaimana pemerintahnya memandang itu dari aspek regulasi yang ada. Tetapi dalam buku “Hikayat Pohon Ganja: 12000 Tahun Menyuburkan Peradaban Manusia” disebutkan bahwa semenjak tahun 12.000 SM sampai dengan tahun 1900-an, ganja lebih dikenal sebagai pohon kehidupan karena manfaatnya untuk menopang peradaban manusia. Seratnya bisa untuk pakaian dan kertas. Bijinya sebagai sumber protein dan minyak nabati.  Kabarnya China malah kini memegang kendali lebih dari 300 Hak Paten Ganja Medis & Industri. Kita sendiri di Indonesia sibuknya luar biasa menggembar-gemborkan hal-hal yang menohok bangsa sendiri. Ganja hanya kita kenali tunggal tak lebih sebagai bahan berbahaya dan mata dagangan gelap yang memperkaya para penjahat (white collar crimer).

“Kita bisa berhenti menebang hutan untuk produk kertas dan menggunakan ganja untuk membuat kertas”, kata seorang penulis. Tentu saja harus dicoba meluruskan niat dan menepis persepsi lama. Juga tidak sekadar terpukau atas kampanye provakatif dari pihak-pihak yang sangat aktif memperjuangkan legalitas ganja di sini dan dimana-mana. Memang perlu ditegaskan untuk menepis apologi-apologi berbagai pihak yang menunjukkan kemanfaatan ganja bagi kehidupan sekadar untuk mempengaruhi pandangan bahwa mengisap ganja tidak perlu dilarang (lagi). Tidak sedangkal itu.

Jika disebut bahwa ganja bermanfaat untuk bahan pakaian dan kertas, obat-obatan dan lain-lain, Indonesia bisa menggali lagi peruntukan lain yang lebih efisien dan ekonomis dengan pemanfaatan teknologi. Indonesia harus bangkit dan mengendalikan tak sekadar ikut kepada apa kata orang dalam jaringan internasional yang tak selamanya berniat baik dalam kata-kata dan keputusan politiknya yang terkesan baik dan luhur.

Ganja dan industri pengolahan ganja dapat menjadi salah satu andalan dalam kaitannya dengan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja. Kita biarkan para ahlinya menghitung pasal itu. Tetapi yang jelas, dengan industri besar pengolahan ganja di Indonesia, akan terjadi pengetatan luar biasa soal peredaran gelap untuk rekreasional ansich seperti yang menjadi bisnis gelap saat ini.

Juga tidak akan dipandang sederhana lagi kelak para oknum yang memegang otoritas dalam bidang hukum untuk meneruskan kebiasaan bertindak semau-maunya dalam memanfaatkan kompleksitas ganja untuk tujuannya yang sangat tak terhormat dan sama sekali tak bertanggungjawab. Bukankah selalu menjadi pertanyaan bahwa sebegitu seringnya dilakukan pembakaran ladang ganja kok malah tak pernah berakhir dengan berita baik?

Tentu akan ada orang yang bertanya serius dan khawatir, apakah kebijakan ini tidak akan berakibat sebaliknya bahwa ganja akan semakin luas beredar di semua pemukiman warga? Tentu itu tergantung kepada sebaik apa administrasi diciptakan untuk industri bahan-bahan “berbahaya” sebagaimana negara mengelola industri strategis lainnya.

Tanpa diurus pun ganja akan tumbuh sendiri, karena itu janji alam dan sunnatullah. Di Sumatera Utara malah kini sudah ada daerah lain yang dianggap menjadi pemasok ganja, katakanlah Madina. Berbekal pengalaman selama ini semua orang pasti dengan ringan mengatakan tidak ada kekuatan apa pun di Indonesia yang dapat mengeliminasi perdagangan dan peredaran gelap ganja. Undang-undang dan pola penegakan hukum hanya akan menceritakan lakon-lakon konyol yang memalukan dan merontokkan wibawa sebuah bangsa.

Lagi pula, sebagai perbandingan, semua orang pun bisa belajar menciptakan bagaimana membuat uang palsu dan mengedarkannya. Tak mungkin sebuah negara berhenti mencetak uang karena adanya fakta produksi dan perdagangan uang palsu. Bahan c4 itu pun sangat berbahaya dan dapat memusnahkan jumlah besar manusia dalam sekejap. Tetapi tidak karena sifatnya yang berbahaya itu dunia berhenti memproduksi.

Penutup. Banyak hasil riset mutakhir yang perlu dicermati untuk merubah persepsi sebuah bangsa terhadap ganja. Di antara temuan-temuan hipotetik itu ada yang menyebut dengan penuh keyakinan bahwa “kita dapat membuat bahan bakar dengan mengekstrak ganja dan boleh mulai berfikir untuk berhenti menggunakan bahan bakar dari hasil fosil yang cadangannya menipis terus. Itu sangat menantang tentu saja. Paling tidak, sambil menunggu hasil produksi industri ganja, kelebatan populasi pohon ganja dapat diharapkan mengeliminasi efek emisi karbon pada global warming.

Akhirnya dapat dipetik sebuah catatan bahwa kegagalan negara-bangsa mensyukuri nikmat yang dikaruniakan oleh Allah Swt cukup jelas terlihat dalam pemahaman, persepsi dan praktik Indonesia memperlakukan ganja. Indonesia membiarkannya menjadi momok, menjadi ajang perebutan dan menjadi ajang pemerosotan moral yang tak terperikan. Ayo kita bangun PTPN khusus untuk komoditi Ganja dan industri pengolahannya. Kita mulai dari Aceh. Setuju?

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA, Medan, Senin, 11 Mei 2015, hlm B7

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: