'nBASIS

Home » ARTIKEL » PILKADA KOTA MEDAN: PKS DAN GERINDRA

PILKADA KOTA MEDAN: PKS DAN GERINDRA

AKSES

  • 535,235 KALI

ARSIP


 

Menjawab pertanyaan seorang jurnalis:

Jika diinstruksikan oleh partainya tentulah Gus Irawan dengan terpaksa akan menolak jika bukan menjadi calon walikota. Hal yang sama akan dilakukan oleh Tifatul Sembiring. Kita pun ingat bahwa perolehan kursi di DPRD Kota Medan berbeda untuk kedua partai: Gerindra unggul.

Kita tahu sendiri, keduanya tak hanya sama-sama sedang duduk di DPR-RI. Tetapi tak mungkin tak dirasakan bahwa elektibilitas mereka berbeda. Meski sebagai mantan Menteri, Tifatul Sembiring masih kalah dibanding Gus Irawan yang pernah menjadi pejabat daerah dan calon Gubernur Sumut.

Lagi pula, momentum yang dinanti oleh Gus Irawan adalah pilgubsu mendatang. Banyak orang bertanya, mengapa mantan Menteri (Tifatul Sembiring) mau menjadi calon Walikota? Ini tidak aneh bagi PKS yang selalu “siap berkuasa”. Mantan Menhut RI kader PKS sudah pernah menjadi Walikota dan kini masih menjabat untuk kedua kalinya. Hidayat Nurwahid yang bahkan mantan Ketua MPR-RI juga dimajukan di DKI meski tidak berhasil.

Kompromi yang paling baik bagi PKS dan Gerindra nanti adalah (a) Tifatul Sembiring akan menjadi calon Walikota didampingi oleh seorang kader Gerindra, katakanlah Iwan Ritonga. Jika ada nama lain dari Gerindra yang berasal dari etnis Jawa, tentu ketokohannya tidak akan jauh di bawah kelas Iwan Ritonga. (b) Gus Irawan menjadi calon Walikota didampingi oleh seorang kader PKS, katakanlah Ikrimah Hamidy. Surianda Lubis akan membayangi, yang artinya paling tidak selain Tifatul Sembiring ada dua nama yang cocok dari PKS untuk tarung 2015 kota Medan ini.

Bagaimana elektibilitas pasangan ini? Cukup baik tentunya. Tetapi akan ada kepincangan besar dalam gerak mesin dan pendukung kedua partai. Alternatif mana pun yang dipilih, PKS akan selalu all out dan menganggap ini tak hanya sekadar perebutan kursi walikota, melainkan al-imtihan (ujian) yang substantif yang harus dihadapi se-serius-seriusnya. Sedangkan bagi mesin dan pendukung Gerindra, alternatif mana pun yang dipilih tidak akan mampu dimobilisasi all out. Banyak faktor yang perlu dielaborasi untuk ini, antara lain perbedaan semangat kecalegan dengan semangat perpilkadaan yang rewardnya berbeda untuk pribadi-pribadi.

Jika nanti ternyata Gus Irawan dan Tifatul Sembiring tidak ada dalam peta persaingan Pilkada Kota Medan 2015, maka dari Gerindra dan PKS hanya ada figur-figur yang cocok untuk wakil, di antaranya ialah Iwan Ritonga, Ikrimah Hamidy dan Surianda Lubis.

Peta lama. Beberapa bulan lalu saya telah merumuskan sebuah peta berdasarkan realitas politik kota Medan. Dalam peta itu saya menemukan adanya tiga kawasan kekuatan politik yang bertarung. Pertama, kawasan birokrasi yang simbolnya utamanya hingga kini ada nama Dzulmi Eldin bertengger, terlepas orang mengatakannya lemah dan sebagainya. Kedua, kawasan yang relatif dikendalikan oleh keluarga Shah yang figuritas tidak ditonjolkan, karena tetap dievaluasi hingga penentuan last minutes. Ketiga, kawasan aspirasi politik Tionghoa yang dimotori oleh PDIP dengan figur yang sedang naik daun, seperti Brilian Moktar dan Hasyim. Juga masih akan kuat persaingan dalam kawasan ini dengan adanya Sofyan Tan yang kini menjadi anggota DPR-RI. Kita semua tahu apa makna titah pemilik partai untuk ketiga nama ini.

Tetapi dengan kondisi Golkar saat ini, perubahan besar hampir terjadi dalam peta, kecuali nanti kubu ARB yang memenenangi konflik internal Golkar.

Kejadian tahun 2010 akan tetap berulang untuk tahun 2015. Kubu aspirasi politik Tionghoa (terserah siapa yang ditonjolkan di antara Hasyim, Brilian Moktar dan Sofyan Tan) akan menempati wilayah politik sendiri berhadapan dengan gabungan wilayah yang dikuasasi oleh pasangan-pasangan lain. Dengan demikian Dzulmi Eldin, Tifatul Sembiring (atau Gus Irawan), dan mungkin juga Ramadhan Pohan dan lain-lain dalam satu kawasan politik akan berhadapan dengan kawasan politik dukungan aspirasi politik Tionghhoa. Di atas kertas akan sulit diperoleh kemunculan satu pasangan dari kawasan pertama dengan perolehan suara di atas 30 %, sedangkan untuk kawasan kedua angka itu mudah dilampaui. Sekarang ini pemilukada hanya satu putaran, tidak berputar-putar lagi. Dengan begitu gambaran kota Medan ke depan sudah mulai kelihatan.

Hanya saja, dengan tingkah-polah Ahok di Jakarta dan eksklusivitas warga Tionghoa di Medan dengan sejumlah kasus pembangunan yang membuat ketersinggungan mayoritas warga kota, favoribilitas calon dukungan aspirasi politik Tionghoa tak sedikit tergerus. Bahkan di antara warga Tionghoa sendiri pun kini ada perasaan jera. “Sudahlah kita menguasai ekonomi, kok kita mau lagi diarak-arak ke permainan politik penuh resiko, dan karena ulah seseorang (calon) kita bisa babak belur”. Kira-kira begitu pandangan yang muncul di kalangan tertentu warga Tionghoa yang jumlah apolitisnya cukup besar juga.

Penyelenggara Yang Buruk. Tetapi semua ini akan berantakan sia-sia jika penyelenggara tidak menjalankan tugasnya secara baik. Kita tahu pemilu 2014 begitu bobrok karena faktor kinerja penyelenggara (KPU, Panwas dan jajarannya). Kita ingat pasca pemilu 2014 banyak mereka yang dipecat dan tak sebanyak yang mestinya. Mereka tak pernah sama sekali berpengalaman membuat DPT. Juga tak tahu sosialisasi, serta tak mengerti bagaimana menghitung suara dengan sejujur-jujurnya dan seadil-adilnya.

Karena itu semua pihak harus mengawasi. Lucu KIP Sumatera Utara tempo hari berkoar-koar pasca pemilu. Pada saat ini pun mereka terbawa rendong isyu keterbukaan partai politik. Itu bukan tidak penting, tetapi sebagai entry point terbentuknya pemerintahan, mestinya KIP di seluruh Indonesia membongkar masalah keterbukaan di tubuh penyelenggara. Itu jika ia mengerti persoalan.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: