'nBASIS

Home » ARTIKEL » SETETES AIR MATA UNTUK ABU AYYUB AL-ANSHORI

SETETES AIR MATA UNTUK ABU AYYUB AL-ANSHORI

AKSES

  • 550,950 KALI

ARSIP


abu faisal
Oleh: Ustadz Abdurrahman Lubis

Apalah artinya kalau cuma setetes air mata dibanding pengorbanan habis-habisan seperti Abu Ayyub Al Anshori ra. Karena ia telah menyetorkan nyawanya secara tepat guna kepada Allah Swt. Tapi paling tidak, seperti seekor burung pipit yang meneguk air laut kemudian terbang tinggi-tinggi dan meludahkannya ke atas api yang menyala membakar Nabi Ibrahim as.
Ketika ditanya malaikat, “Apa yang engkau kerjakan Pit ?” Dijawab: “Aku ingin memadamkan api yang sedang membakar Nabiullah Ibarahim”.

Ditanya lagi:”Mana mungkin setetes air dari ludahmu dapat memadamkan api raksasa?”. “Ya, setidaknya kalau kelak aku ditanya Allah tentang bagaimana sikapku terhadap kekasih-Nya yang sedang dianiaya, aku dapat menjawab bahwa aku sudah berusaha sesuai kemampuanku”.

Memang bagi seekor burung pipit, setetes air ludah itulah seluruh harta kekayaannya. Selain itu ia tak punya apa-apa lagi. Rezekinya sehari-hari pun, tergantung ke mana ia terbang dan hinggap saat itu. Ia yakin betul bahwa rezeki datang dari Allah, dapat saat itu, untuk saat itu juga. Tidak pernah sedikitpun terbetik dalam pikirannya untuk menabung, menumpuk harta. Bahwa apa yang ada meski cuma setetes air, langsung diinfaqkan di jalan Allah. Ia tak punya rumah , tak punya kantor. Ia tak pernah mengeluh soal rezeki.

Semua datang dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Kisah burung Pipit terbayang kembali ketika kami berjaulah di Istanbul, makam Abu Ayyub al Anshori ra, sahabat besar Nabi saw yang telah sukses menjual dirinya kepada Allah Swt. Setetes air mata sebenarnya sangat tak berarti, namun untuk mengenang perjuangannya, baru itu yang dapat kami berikan sebagai bukti simpati dan dukungan terhadap perjuangannya. Ah…apalah arti khuruj (keluar) 4 bulan, dibanding mujahadahnya Abu Ayyub fii saa’atil ‘usro (di era serba susah payah).

Siapa yang tak kenal dengan sosok yang satu ini. Andilnya dalam dakwah dan jihad tak disyak lagi. Baginya berjihad lalu mati syahid itu lebih penting dari malam pengantin, dari makan sup kambing, dari Onta merah, dari bercanda ria dengan anak istri di medan wisata bahkan dari membangun istana. Namanya sangat harum dari Timur ke Barat. Ziarah di makamnya, bukan sekadar jalan-jalan lalu mengambil foto bersama, kemudian memasukkannya ke dalam album koleksi pariwisata.

Tapi lebih dari itu, bahkan mengenang kembali sepak terjangnya. Dulu, saat diketahuinya bala tentara Islam bergerak ke arah Konstantinopel, sekonyong ia loncat ke atas kuda lengkap dengan pedangnya, terus maju mencari wajah-wajah bengis, muka-muka hasad, dengki dan munafik, musuh-musuh Allah. Lalu ia terkena luka berat. Saat amirnya datang, nafasnya sedang berpacu dengan kerinduannya berjumpa Allah. Padahal, amirnya waktu itu Yazid bin Mu’awiyah, bertanya, “Apa keinginanmu hai Abu Ayyub ?” ia cuma minta, bila ia wafat, agar jasadnya dibawa dengan kudanya sejauh jarak tempuh ke arah musuh, di sanalah ia akan dimakamkan. Hendaklah Yazid melewati jalan itu, hingga terdengar telapak kuda para mujahid di atas makamnya. Itu isyarat kemenangan.

Ini bukan khayalan, tapi kisah nyata. Dunia akan menyaksikan sebagai fenomena umat, meski seseorang memejamkan mata dan menutup telinga pasti akan tetap mendengar dan melihatnya. Aduhai… Bukankah syahid itu artinya “menjadi saksi” ? Tangannya yang terluka menjadi saksi, kakinya yang cacat menjadi saksi, hatinya yang remuk menjadi saksi. Bahkan nyawanya yang lenyap, melayang, akan menjadi saksi. Yazid sungguh menunaikan wasiat Abu Ayyub. Buktinya, di jantung kota Konstantinopel yang kini diremajakan menjadi Istanbul, makamnya bersahaja.

Orang Romawi Konstantinopel memandang Abu Ayyub sebagai “sangat kudus”(paling suci dan dimuliakan). Para ahli sejarah berkata: “Orang Romawi sering mengunjungi dan berziarah ke kuburnya, “bertabarruk” (mencari keberkahan) dan meminta hujan dengan wasilah (perantara) nya, bila terjadi kekeringan ” Siapa sih Abu Ayyub ? Di awal hijrahnya dari Mekkah ke Madinah, Rasulullah saw memilih rumah Abu Ayyub sebagai tempat menginap sementara. Maka, betul-betul terukirlah dengan tinta emas keindahan riwayat hidup Abu Ayyub.

Saat itu Nabi saw dan para sahabatnya tiba di Madinah dielu-elukan kaum Anshor. Rasulullah saw berjalan di tengah luapan manusia, penuh sesak, dendam kalbu yang rindu karena cinta…, berebut kekang untanya, sambil berseru, “Thola’al badru ‘alaina, min tsaniatil wada’, wajabasy syukruu fiinaa, maa da’a lillahi daa’i” (Telah terbit bulan purnama kepada kita, dari lembah kedua. Wajiblah kita bersyukur, ketika pendakwah mengajak kepada Allah). Semua membuka pintu, mengharap Nabi saw menginap di tempat mereka. Beliau menunggang onta. Para pemimpin Yatsrib berusaha agar beliau berhenti. Ingin Nabi saw menginap di tempat mereka. Ada yang menggalang ontanya sambil berseru, “Rumahku paling lengkap hai Rasulullah”. Mungkin mereka beranggapan Nabi menginginkan rumah paling lengkap prabotan dan fasilitasnya yang biasanya menggoda selera rendah kebanyakan manusia, tentu Nabi saw, bereaksi, “Biarkan Onta ini berjalan semaunya karena ia diperintah Allah.” Onta terus berjalan. Banyak yang membuntuti, penasaran.

Akhirnya sampailah di lahan kosong depan rumah Abu Ayyub Al-Anshari ra. Seenaknya sang Onta berhenti dan duduk. Rasulullah saw tak bergeming, tak segera turun.Ternyata onta bangkit dan berjalan lagi. Rasulullah saw melepas tali kendali. Tiba-tiba berbalik dan duduk di tempat tadi. Alangkah bahagianya Abu Ayyub Al-Anshari Khalid bin Zaid, cucu Malik bin Najjar.Ia mendekati Rasulullah saw dan menurunkan barang-barang.

Seakan terasa langit dan bumi beserta isinya kini berkumpul di rumahnya. Selanjutnya Rasulullah saw tinggal di desa Quba’, dua mil dari Madinah. Turun perintah, beliau membangun masjid pertama atas dasar taqwa. Kelak dari masjid ini akan memancar kebesaran Allah dan nur-Nya ke seantero jagad. Akan berdiri bangunan mesjid, lantainya padang pasir, dindingnya pelepah kurma dan atapnya langit. Betapa sederhananya. Itulah kemudian dipanggil mesjid Quba.

Sebelum kemudian dibangun mesjid an Nabawi di Madinah. Kala itu, rumah dengan mesjid sama sederhananya, tak terdapat harta dunia selain barang-barang bersahaja. Di rumah Abu Ayyub tujuh bulan, yaitu sampai masjid di atas tanah yang diduduki Onta beliau selesai dibangun. Selanjutnya beliau dan para istri tinggal di kamar-kamar sebelah mesjid. Beliau menjadi tetangga Abu Ayyub, ia mulia dan utama. Cara hidup yang seperti itulah sesungguhnya “harta pusaka warisan Nabi saw”.

Andaikata cara hidup kita hari ini menyalahi itu, maka kita boleh bertanya pada diri kita masing-masing, hendak ke mana kita sesungguhnya ? Mungkinkah dengan kemewahan kita masuk surga Firdaus. Mungkinkah dengan sholat acak-acakan kita bebas dari hisab ? Mungkinkah dengan melalaikan dakwah kita lepas dari tuntutan ? Padahal kehidupan yang sudah menjanjikan kemuliaan dan keselamatan bagi mereka yang berkata, “Tuhan kami Allah”, lalu istiqomah. Semestinyalah setiap orang menghadapkan hati seperti Rasulullah saw menghadapkan hati kepada Allah di permulaan hijrah, masih di atas Onta, sambil berdoa,“Ya Allah, tunjukkan tempat tinggalku, pilihkan untukku !”

Dulu, ketika perutusan Madinah ke Mekkah ber- “Bai’at Aqabah”(mengangkat sumpah setia) kedua, Abu Ayyub al-Anshori termasuk dalam tujuh puluh Mu’minin menjabat tangan kanan Rasulullah saw, berjanji setia siap meneruskan perjuangan. Sekarang ketika Rasulullah saw sudah bermukim di Madinah dan menjadikan kota itu sebagai pusat dakwah dan amalan Islam, nasib mujur melimpah lagi kepada Abu Ayyub, karena rumahnya tempat pertama persinggahan Nabi saw, sampai selesai pembangunan masjid dan bilik di sampingnya. Apalagi ketika petinggi Quraisy berniat jahat dan ingin menyerang, menghasut kabilah serta mengerahkan tentara untuk memadamkan “Nur Ilahi” maka Abu Ayyub lebih siap lagi berjihad di jalan Allah.

Ketika perang Badar dimulai, lalu Uhud dan Khandaq, di semua medan jihad, ia tampil siap diri dan harta. Hingga pasca Rasulullah saw wafat pun, tak pernah absen dari jihad. Itu karena kefahamannya terhadap firman Allah, “Berangkatlah kalian dalam keadaan ringan maupun berat.” (Q.S.At-Taubah : 41).

Pernah sekali ia tak puas dengan kepemimpinan amirnya. Ia urung berangkat. Itupun ia sangat menyesal. “Sekarang tak masalah bagiku, siapa saja yang jadi amir, yang penting aku tetap berangkat,” gumamnya. Kemudian tak pernah lagi ia ketinggalan dalam jihad. Keinginannya hanyalah untuk hidup sebagai mujahid dengan bendera kemenangan. Ketika Ali ra dan Mu’awiyah ra sengketa, ia berada di pihak Ali ra, ketika Ali ra syahid dibunuh, khilafah beralih kepada Mu’awiyah.(Q.S.: At-Taubat: 41) Abu Ayyub menyendiri yang zuhud, taqwa dan tawakkal. Tak mengharap apa-apa kecuali kesempatan berjuang dalam barisan jihad. Ketika didengarnya pasukan Islam bergerak ke arah Konstantinopel, segeralah ia memegang kuda dengan membawa pedangnya, terus maju mencari syahid yang sudah lama didambakan.

Dalam pertempuran inilah ia ditimpa luka berat. Ketika komandannya pergi menjenguknya, nafasnya berpacu dengan sakratul maut. Amirnya, Yazid bin Mu’awiyah bertanya, “Apa keinginanmu ?” Tak lain, kecuali agar jasadnya dibawa dengan kudanya sejauh arah musuh, dan di sanalah dikebumikan, hingga terdengar bunyi telapak kuda Muslimin di atas kuburnya sebagai simbol kemenangan ! Betul, wasiat Abu Ayyub itu dilaksanakan Yazid.

Di jantung kota Konstantinopel (sekarang Istanbul), itulah, yang kami (penulis) ziarahi, makam mujahid ulung Abu Ayyub ra. Di situ ia istirahat, sesungguhnya ia tak mati, ia hidup dan mendapat rezki dari Rabbnya. Nasihat Nabi saw terhunjam di hatinya: “Bila engkau shalat, shalatlah, seolah yang terakhir. Jangan sesekali mengucapkan kata yang membuatmu harus meminta ma’af. Lenyapkan harapan terhadap benda yang ada di tangan orang. Itu bukti cintanya pada perjuangan, katanya, “Bawa jasadku sejauh mungkin sampai ke Romawi, kuburkan aku di sana.” Ia, lisannya tak pernah memfitnah, perutnya tak pernah kenyang.

Ketika ajalnya tiba, angan-angannya tak seluas timur dan barat, kecuali ketulusan hati menghadap-Nya. Istanbul akhirnya menjadi wilayah mirip “roudhatul jannah”, taman surga impian Islam. Seakan satu kepingan surga yang terlempar ke bumi, itulah peristirahatan terakhir, sebelum hari kebangkitan. Tak lagi terdengar ringkikan kuda dan desingan pedang. Tetapi setiap hari, dari pagi hingga petang terdengar “perang” adzan, “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Mari kita sholat, meraih kejayaan.”

Ribuan bahkan jutaan pasang mata tak bergeming, ada yang membasahi pipi, ada yang menetes di depan makamnya, memandang penuh rindu. Mungkinkah Kini perjuangan dilanjutkan dengan sesungguhnya. Nampaknya ya,namun barangkali sedikit beralih makna, mungkin karena tenggat waktu antara zaman Abu Ayyub dengan kita hampir 15 abad, maka nilai-nilai perjuangan akhirat nampak barubah ke-dunia-an.

Kalau dulu Abu Ayyub berjuang menghabiskan harta bahkan nyawa untuk mengejar ridho Allah dan akhirat. Sekarang, di antara kita ada yang berjuang demi dunia. Meski tak semua, masih ada segelintir yang istiqomah. Wallahu a’lam… 6 Mei 2015.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: