'nBASIS

Home » ARTIKEL » PEMUDA PANCASILA

PEMUDA PANCASILA

AKSES

  • 557,706 KALI

ARSIP


ucok mayestik

Ucok Mayestic

Doeloe ada Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia disingkat IPKI. Partai ini didirikan oleh Jenderal Abdul Haris Nasution tahun 1954 dengan dukungan para petinggi militer dan para panglima Kodam di seluruh Indonesia. Semua partai memiliki sayap atau yang lazim juga disebut onderbow.

Dalam kongresnya di Makassar tahun 1959, disepakatilah mendirikan beberapa sayap, di antaranya Pemuda Patriotik. Untuk pertamakalinya organisasi sayap IPKI ini dipimpin oleh Andi Parengreng dan Albert Sondakh.

Organisasi inilah yang kemudian dikenal dengan Pemuda Pancasila. Karena pada Kongres IPKI tahun 1960 di markas RPKAD Lembang, Pemuda Patriotik diubah nama menjadi Pemuda Pancasila. Visi dan misinya dipertegas dengan kewajiban mempertahankan NKRI berdasarkan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika yang diridhoi Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kalau Taufik Kiemas belakangan mempertegas empat pilar itu, sebetulnya kita menemukan kesamaan dengan apa yang dapat kita review dari sejarah IPKI.

Kongres IPKI Lembang menyepakati Ketua Umum ibu Ratu Amidah Hidayat. Juga ditetapkan sejumlah onderbow IPKI yang disebut karyawan IPKI:

(-) Karyawan IPKI Pemuda Pancasila;
(-) Karyawan IPKI Kubu Pancasila;
(-) Karyawan IPKI Wanita Pancasila;
(-) Karyawan IPKI Pelajar Pancasila;
(-) Karyawan IPKI Mahasiswa Pancasila;
(-) Karyawan IPKI Lembaga Budaya Pancasila.

Delegasi dari Sumatera Utara untuk Kongres di Lembang ada 3 (tiga) orang:

(-) Kosen Tjokrosentono;
(-) HMY Effendi Nasution;
(-) Yan Paruhum Lubis (Ucok Mayestik), saya sendiri.

Kepemimpinan Pemuda Pancasila di Sumatera Utara berganti dari satu ke lain generasi:

(-) HMY Effendi Nasution;
(-) HS SIregar
(-) H Amran YS
(-) H Marzuki.
(-) Ajib Shah
(-) Donald Sidabalok
(-) Anuar Shah.

Tertembaknya Ibrahim Umar.

Oktober 1965. Di suatu tempat sekitar Padangbulan, saya bersama teman-teman pergerakan lainnya sedang memonitor siaran radio yang dipancarkan oleh Cina. Darah kami mendidih mendengar caci-maki yang ditujukan kepada Indonesia dan para pemimpin kita waktu itu, khususnya Soeharto, Nasution dan lain-lain.

Ini tidak bisa dibiarkan. Kami sepakat meminta pertanggungjawaban dari konsulat Jenderal Cina di Medan. Tetapi orang konsulat berkata lain. Mereka baru mau bicara setelah kita minta izin kepada Mao Tse Tung. Gila benar itu.

Saya bersama Ibrahim Umar, Hasan, Amat Banteng dan Parlin Pribadi Hutabarat sebetulnya sempat melompati pagar konsulat Cina. Tiba-tiba ada tembakan. Kami pun mundur. Setelah melompat ke luar pagar, kami berlindung di balik pokoh palm besar. Ibrahim Umar di sebelah saya.

Tembakan kesekian membuatnya perlahan tersungkur. Saya merasakan, ia wafat di tangan saya waktu saya angkat dan minta dibawa ke rumah sakit dengan mobil tentara yang waktu itu ada di sekitar, di bawah pimpinan seorang Kapten.

Kisah ini berdasarkan penuturan Ucok Mayestik (Kamis 28 Mei 2015), nama lain untuk Yan Paruhum Lubis, seorang pinisepuh Pemuda Pancasila di Medan. Ia lahir 1934.Ia pernah menjadi guru SR di kampung halamannya, Muara Soma (Madina).

foto: IZNS

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: