'nBASIS

Home » ARTIKEL » JERIT ROHINGYA DAN IMIGRAN GELAP CINA

JERIT ROHINGYA DAN IMIGRAN GELAP CINA

AKSES

  • 512,716 KALI

ARSIP


WSPAshin Wirathu: The Monk Behind Burma’s Buddhist Terror. Ini bukan kalimat saya. Majalah TIME pernah mengungkapkan kekejaman para pendeta Budha Myanmar dengan kalimat yang kurang lebih sama, dan membuat kisah kekejaman genosida (pemusnahan kelompok suku) ini menjadi cover story. TIME edisi ini mengeksplorasi fakta meningkatnya gelombang kekerasan anti-muslim di Myanmar untuk pembuktian tak terbantahkan bahwa semua memiliki kaitan yang kuat kepada pendeta Budha Ashin Wirathu yang direstui negara.

Presiden Thein Sein membantah dan menuduh TIME provakatif sekaligus berusaha menciptakan kesalah-pahaman tentang agama Budha. Waktu itu Thein Sein berjanji memanggil Ashin Wirathu. Mereka merasa penting membicarakan bagaimana memisahkan dua kata: “Budha dan teror”. Jadi, “mencuci” Budha Myanmar dari lumuran darah jauh lebih penting ketimbang mengakui dan menghentikan pembunuhan sistematis itu.

Masih sebagai reaksi untuk pemberitaan TIME yang mengutuk kekerasan terhadap minoritas muslim Rohingya, lebih dari 59.000 telah menandatangani petisi online. Mereka anggap telah terjadi kesalah-fahaman terhadap agama Budha. Mereka membela Ashin Wirathu. Sikap itu dipaksakan ke publik dan dianggap seolah bagian penting dari ideologi dan sejarah Myanmar. Si muslim Rohingnya dianggap berada di tanah air yang salah, bukan bagian dari bangsa Myanmar.

Sebagaimana terus-menerus secara meningkat telah dirasakan, sebagian besar umat Budha dunia telah diklaim sama dengan Ashin Wirathu. Thein Sein dan dunia lebih memilih percaya kepada Ashin Wirathu yang lebih yakin bahwa setiap orang memang harus berusaha hidup penuh kebaikan dan kasih, tetapi selamanya tidak akan bisa tidur di samping “anjing gila.” Anjing gila yang dia maksud adalah muslim Rohingya. Untuk membela tindakan kejinya, kepada Global Post Ashin Wirathu pernah berkata bahwa muslim itu seperti ikan mas Afrika. Membiak cepat dan memakan jenis mereka sendiri. Meskipun minoritas di Myanmar, kita menderita di bawah beban yang mereka hasilkan.”

Atas Nama Budha. Dari anatomi gerakan pembersihan muslim Rohingya terlihat jelas jaringan yang kuat yang kemudian dikenal dengan kampanye 969. Gerakan ini diidentikkan dengan neo-Nazisme ala Budha. Numerologi (angka) ini sangat penting, berasal dari ide Buddhis bahwa Tiga Permata (Tiratana) terdiri 24 atribut: sembilan atribut khusus dari Budha, enam inti ajaran Budha dan sembilan atribut rahib. Penggabungannya menjadi 969.

Simbol Budha 969 secara efektif ditebar dalam bentuk sticker yang ditempeli di toko maupun warung untuk membedakan identitas diri sebagai Budha. Kisah-kisah awal telah dimulai dengan banyak drama, umat Budha sendiri yang tak jarang dipukuli oleh kelompok 969 ketika kedapatan bekerja untuk perusahaan milik warga muslim. Konflik ini cukup besar, dan hasilnya ribuan warga muslim telah dipenjara, dan sangat sedikit Budha yang dihukum. Menurut laporan Human Right Watch, dengan berbagai alasan untuk pola yang sama (kebencian rasial berdasar keyakinan agama), selama ratusan tahun terakhir, banyak sekali warga muslim yang tewas, dan ribuan lainnya mengungsi untuk menghindari kejaran pemerintah dan para pendeta serta pengikut Budha Myanmar.

Anda tahu di Myanmar ada seorang pemenang Nobel Perdamaian bernama Aung San Suu Kyi. Ia bicara sedikit untuk kemudian memilih mendiamkan nasib muslim Rohingya. Ia mungkin menganggap segala urusan tiada lagi sepenting perhitungan popularitas dan jalan masuk ke pintu kekuasaan serta mempertahankannya dalam rumus demokrasi sebagaimana halnya berlaku dimana-mana. Tetapi, atas nama apa pun itu, ia dan pemerintah Myanmar tidak boleh mendiamkan, apalagi memaafkan Ashin Wirathu meskipun orang ini mengatakan tindakannya atas nama dan untuk Budha.

Paradoks. Indonesia tahu bahwa Pemerintah Myanmar membangkang terhadap hukum kemanusiaan dan PBB karena tidak mau mengakui kewarganegaraan penduduk Rohingya yang dikategorikan imigran ilegal dari Bangladesh. Malah juru bicara pemerintah Myanmar, Ye Htut, mengatakan negaranya tidak akan bisa ditekan untuk memberikan kewarganegaraan. Myanmar tak mengakui sejumlah kelompok etnis termasuk Rohingya yang sudah menetap selama beberapa generasi.

Jika diperbandingkan dengan keramah-tamahan Indonesia, kini malah melalui amandemen UUD pun akomodasi yang sangat memuaskan bagi warga pendatang di antaranya Cina, telah diberikan. Kejadiannya terbalik. Malah dengan menguasai mutlak ekonomi, kini etnis Cina tak sekadar berada di balik kekuasaan politik, tetapi juga telah dimuliakan tanpa alasan dengan mengubah sebutan dari Cina yang selamanya sangat negatif di mata pribumi, menjadi Tionghoa. Tetapi ini bukan sebuah jalan penyelesaian. Dominasi ekonomi dan perlakuan buruk terhadap pribumi seperti yang terjadi dalam peruntuhan banyak masjid di kota Medan, tidaklah dapat dibiarkan. Pribumi di Indonesia tak “bersumbu pendek” seperti pribumi di Myanmar, dan yang membuat pemerintah, politisi dan pemimpin agama Budha Ashin Wiratu membunuh dan mengusir semua orang muslim Rohingnya.

Tetapi sunguh aneh. Dalam sikap yang sangat tak simpatik atas muslim Rohingya yang terbawa arus ke perairan Indonesia, pemerintah kini akan mempersiapkan tindak-lanjut imigrasi besar-besaran orang dari Cina daratan untuk bekerja di Indonesia (10 juta orang) untuk sebuah alasan kerjasama yang amat mencurigakan. Ini wajib dihentikan. Jika petinggi negeri ini menilai masuknya muslim Rohingya membawa potensi konflik, mengapa pula tak melihat Indonesia kupak-kapik (kucar-kacir) dengan gelombang besar kedatangan orang Cina yang akan mengambil alih Indonesia? Di balik rencana ini pastilah terdapat perhitungan diperklukannya perimbangan demografis agar orang Cina secara kuantitatif dipandang cukup kuat untuk melawan dan menggertak pribumi agar takut mengulangi kejadian-kejadian buruk yang pernah terjadi seperti kerusuhan yang bersumber dari kecemburuan dan kesombongan prilaku Cina sebagai majikan (ekonomi) di tanah perantauannya (Indonesia).

Kemaren Sri Bintang Pamungkas (SBP) dalam sebuah catatan berjudul “Joker- Oey Merekayasa Jutaan Imigran Cina RRC ke Indonesia ” yang disebar melalui Whatsapp, berang. Semua orang tahu, kata SBP, bahwa pembangunan hotel, aparteman, menara, kondominium dan properti/bangunan pada umumnya dimaksudkn untuk menampung wisatawan RRC. Ternyata dipersiapkan untuk imigran dari RRC yang jumlahnya mencapai jutaan orang. Karena itu, orang-orang Cina di Indonesia bisa menjadi penduduk nomor dua setelah etnis Jawa. Tentulah ini akan menjadi migrasi besar dunia setelah bule-bule Eropa Barat ke AS dan Australia pada sekian abad lalu.

SBP mengakui, memang pernah ditangkap sekitar 500 lebih yang masuk ke Indonesia dan disangkakan melakukan kejahatan tertentu. Mereka pada hakekatnya adalah perintis-perintis yang mau bereksperimen untuk uji coba keamanan. Tapi ribuan atau bahkan puluhan ribu KTP sudah dipalsukan untuk menampung orang-orang Cina yang masuk NKRI secara illegal. Sudah bukan rahasia KTP dijual belikan dengan harga ribuan dollar untuk orang-orang Cina RRC masuk menjadi WNI. Bukan rahasia WNI Cina yang mati muda, segera KTP-nya pindah tangan sesudah mati dikremasi untuk menghapus KTP-nya. Beberapa hotel dijadikan tempat penampungan para Cina RRC sambil menunggu KTP-nya. Berbahasa Indonesia pun tidak bisa, tetapi punya KTP RI.

Di masa lalu, lanjut SBP, marak program AFS/American Friendship Society yang memfasilitasi pertukaran Pemuda/Mahasiswa Indonesia-Amerika untuk bisa berkunjung selama beberapa bulan dan hidup dalam lingkungan keluarga di kedua Negara. Yang ikut Program cuma beberapa belas atau puluhan saja setahun. Tapi program pertukaran yang dibuat Joker-Oey dan Xi Jinping mencapai 10 juta orang. Tentulah ini program migrasi terselubung untuk menjadikan Indonesia seperti Singapura.

Keprihatinan tentang hal ini tidak menjadi pemberitaan penting berhubung media telah dikuasai oleh pemodal yang adalah orang Cina juga. Seorang aktivis di Medan, Anwar Bakti Nasrallah menengarai, ini pasti terkait dengan tak hanya upaya menutupi kejadian yang sudah berlangsung lama yakni banyaknya orang dari Cina di Indonesia, khususnya di Medan, yang masuk secara gelap dan menjadi warga negara secara ilegal. Ia dan jaringannya memastikan akan melakukan razia kependudukan. Ia juga menegaskan keyakinannya, bahwa jumlah etnis Cina di Indonesia yang dilaporkan oleh lembaga resmi, tidak mungkin dipercaya lagi. Cina ingin mencaplok Indonesia, itu intinya, tegas Anwar Bakti Nasrallah.

Ketidak-pekaan. Melalui surat imbaunnya belum lama ini, Rhoma Irama dalam kapasitas sebagai Ketua Forum Silaturahmi Ta’mir Masjid Musholla (Fahmi Tamami) menyerukan beberapa pokok pikiran penting untuk dibicarakan dengan pihak Walubi di Indonesia. Menurutnya Walubi wajib mengimbau pemerintah Myanmar dan khususnya umat Budha di sana agar tidak melakukan diskriminasi agama yang telah banyak menimbulkan korban jiwa. Ia juga menuntut agar Walubi mengimbau pemerintah Myanmar dan tokoh-tokoh agama Budha untuk merehabilitasi kembali rumah-rumah ibadah (Masjid) yang telah dihancurkan di Rohingnya. Walubi juga wajib turut membantu meringankan beban pengungsi muslim Rohingnya di Aceh dan Sumatera Utara.

Ini jauh melegakan ketimbang kesepakatan 30 tokoh muslim dan Budha sedunia yang bertemu di Yogyakarta pada bulan Maret lalu. Meski pun di sana mereka membicarakan soal ekstrimisme dan perdamaian, tetapi pertemuan yang dituan-rumahi Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Perwakilan Umat Budha Indonesia (Walubi) ini, rekomendasinya sangat normatif dan seolah merasa lebih nyaman menutup mata atas kejadian-kejadian yang begitu menyayat pilu perasaan kemanusiaan .

Periksalah hasilnya berikut ini: “Kami, pemimpin Budha dan muslim memahami bahwa para pendukung kami telah membangun hubungan yang harmonis, yang menjadi dasar untuk membangun perdamaian dan kemakmuran di berbagai belahan di dunia,”‎ ujar Presiden Sri Lanka Councils of Religions for Peace Dr Bellanwila Wimalaranata Anunayaka Thera saat membacakan pernyataan itu di depan Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah.

Sebagaimana kelaziman sepanjang masa, setiap orang akan sangat berselera mengatakan bahwa di dalam masing-masing teks kitab sucinya Budha dan Islam sama-sama menekankan pentingnya perdamaian yang menyeluruh dan positif. Perdamaian yang merengkuh perdamaian diri, perdamaian antar sesama manusia dan perdamaian dengan alam. “Kami kembali menekankan bahwa Islam dan Budha adalah agama yang penuh kasih sayang dan welas asih yang memiliki komitmen pada keadilan bagi seluruh umat manusia,” kata Dr Bellanwila Wimalaranata Anunayaka Thera.

Selesailah urusan tanpa tindak-lanjut penghentian darah di Myanmar. Semua boleh tidur pulas, menarik selimut di peraduan masing-masing menanti kelaziman seremoni-seremoni berikutnya digelar oleh negara atau oleh wakil-wakil negara lain yang menyertakan orang indonesia sebagai partisipan yang perlu dipanggar-panggar (ditipu dengan memuji).

Penutup. Pemerintah Indonesia memang tak sekadar lemah. Ia terindikasi sengaja tak peduli. Para tokoh umat Islam juga tidak bernyali. Walaupun akhirnya Mensos datang ke pengungsian Rohingya, tetapi susah melupakan ucapan seorang menteri lainnya yang mengeluhkan keterbebanan anggaran negara karena mengurusi pengungsi Rohingya. Luar biasanya, dalam jajaran kabinet Jokowi-JK ia tak sendirian dalam pendirian yang sama.

Ungkapannya cukup memilukan. Sangat terkesan kuat ingin tak peduli saja kepada kekejaman yang keji ini, sembari mengedepankan pakem naif “itu bukan urusan Indonesia”. Indonesia melupakan nilai-nilai universal yang pernah ia tegakkan sebagaimana termaktub dalam piagam Jakarta, yang lebih diakui bukan sebagai Mukaddimah UUD 1945, melainkan Pembukaan UUD 1945. Pendapat seperti yang muncul dari PKS yang meminta ASEAN bersidang khusus untuk masalah muslim Rohingya, tidak boleh masuk dalam mainstream isyu.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan, 1 Juni 2015, hlm B7.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: