'nBASIS

Home » ARTIKEL » IJAZAH PALSU

IJAZAH PALSU

AKSES

  • 540,961 KALI

ARSIP


https://i1.wp.com/penakita.com/wp-content/uploads/2013/08/Ijazah-Palsu1.jpg http://penakita.com/wp-content/uploads/2013/08/Ijazah-Palsu1.jpg

Ijazah Anda Palsu? Ini wabah nasional, kok. Bahkan sebagian petugas penegak hukum yang akan menangani kasus ijazah palsu pun juga mungkin ada yang seperti Anda.

Saya menilai hal ini tidak perlu digembar-gemborkan. Wajar-wajar saja dalam menyikapinya. Mengapa?

(-) Ini bukan saja penyakit khas Indonesia, tetapi merata di negara-negara yang hukumnya dapat diperjual-belikan;

(-) Nilai kemampuan (value of capability) di negera seperti Indonesia lazim hanya dipandang dari aspek formal sertifikat (ijazah) yang dimiliki warga. Karena sangat pentingnya sertifikat, maka orang bersedia menerabas hukum, terutama karena produsen ada dan lembaga user dapat dibuat mau menerima ijazah palsu;

(-) Patut diduga, bahwa masalah ini meluas tidak hanya di kalangan PNS. Karena gelar dianggap sangat penting, bahkan di dalam undangan perkawinan pun lazim terdapat pencantuman gelar yang dalam sistem pendidikan kita sebetulnya dikategorikan non gelar. Pendidikan tinggi kita menyediakan jalur pendidikan berakhir dengan perolehan gelar dan ketidak-perolehan gelar. Tetapi dalam praktiknya sebutan untuk gelar tertentu yang non gelar lazim juga dipakai. Itulah Indonesia.

(-) Juga patut diduga bahwa kasus ini tidak hanya terbatas pada gelar yang berasal dari dalam negeri, tetapi juga luar negeri. Karena kini semua perguruan tinggi ada status akreditasinya, maka sebetulnya jika para pemangku kepentingan berfikir normal, ijazah palsu tak mungkin begitu mudah menjadi modus bagi orang-orang untuk memeroleh eskalasi karir berdasarkan perijazahan seperti selama ini.

(-) Mestinya, orang tidak perlu mencantumkan apa gelarnya dalam kehidupan sehari-hari atau dalam pengisian data tertentu seperti KTP, SIM, surat nikah dan lain-lain.

(-) Pencantuman gelar itu sangat diperlukan dalam dunia akademis, agar ketika pemilik gelar mengemukakan pendapat atau melakukan ekspose atas sebuah masalah keilmuan dengan jelas dapat diketahui apakah ia berbicara sesuai kapasitasnya. Jadi lebih pada pertanggung-jawaban akademis-ilmiah.

(-) Di Indonesia jumlah warga yang menikmati pendidikan tinggi masih sedikit, karena angka rata-rata nasional dalam menikmati pendidikan adalah 9 tahun. Jadi angka rata-rata nasional kita adalah pendidikan setara SMP. Karena kelangkaan itulah orang merasa dirinya perlu menonjolkan siapa dirinya.

(-) Di lain pihak orang lazim pula percaya, bahwa setiap pemakai gelar adalah orang kompeten. Ini tindak-lanjut implikatif sosial belaka. Padahal, profesor sekalipun masih banyak yang klasifikasinya sebatas profesor berkas, karena hanya mengikuti prosedur kenaikan pangkat berdasarkan ketentuan pemberkasan yang berlaku. Akibatnya negara menjadi rugi karena membayar orang yang tidak kompeten dalam posisi yang tak semestinya.

(-) Ada hal yang diperlukan saat ini, yakni mencantumkan asal perguruan tinggi bagi titel yang dipegang oleh seseorang. Misalnya si Fulan beroleh gelar S.Sos dari perguruan tinggi A, S2 dari perguruan tinggi B dan S3 dari perguruan tinggi C. Maka dalam pencantuman gelarnya akan dibuat demikian Dr ( C )Fulan, S.Sos (A), M.Si (B).

(-) Itu akan mengurangi kelatahan penggunaan gelar dan mereduksi tajam keberanian menggunakan gelar palsu yang pada umumnya diproduk oleh perguruan tinggi yang tak jelas.

(-) Karena komplesktitas permasalah tersebutlah tidak usah digembar-gemborkan. Lakukan saja tindakan hukum kepada mereka sesuai ketentuan yang ada. Menteri pun tidak usah gembar-gembor akan melakukan tindakan ini dan itu. Percuma ngomong besar. Menteri harus menyadari bahwa wabah penyakit ini menyebar ke seluruh instansi, termasuk instansi penegak hukum. Kalau sudah begitu jeruk makan jeruk.

(-) Jangan lupa, modus kepalsuan ijazah ini pun bermacam-macam. Itu perlu dipetakan terlebih dahulu.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: