'nBASIS

Home » ARTIKEL » ISLAM BERKEMAJUAN

ISLAM BERKEMAJUAN

AKSES

  • 535,471 KALI

ARSIP


syahrinProf Dr Syahrin Harahap, MA dari UIN Sumatera Utara belum lama ini mengundang saya untuk sebuah perbincangan tentang buku baru beliau yang diberi judul “Islam & Modernitas dari Teori Modernitas Hingga Penegakan Kesalehan Modern”. Buku itulah yang tadi malam (Minggu 13/07/15) dibincangkan dalam sebuah forum kajian dengan 2 pembicara utama, yakni Dr.Dedi Sahputra, MA, redaktur Opini Harian Waspada, dan Dr.Ansari Yamamah, dari UINSU. Seingat saya beliau telah menulis lebih dari 30 (tiga puluh) judul buku.

Saya adalah salah seorang di antara yang diminta sebagai pembaca awal atas buku ini. Sebelum saya Prof Dr Nur Ahmad Fadhil Lubis, MA, Rektor UINSU, tokoh masyarakat Islam Sumatera Utara H Maslim Batubara dan Prof Dr Harun Ar-Rasyid Lubis,S.Pd sudah terlebih dahulu membacanya. Ketika beberapa bulan lalu bertemu dengan Prof.Dr.Arndt Graf dari Goethe University Frankfurt-Germany, Prof Dr Syahrin Harahap, MA berkesempatan mendiskusikan isi buku ini. Juga dengan Dr Johan Hendrik Meuleman dari Hogeschool Holland dari Amsterdam. Keduanya memberi kata pengantar.

“Buku ini dapat disebut sebagai buku standar teologi Islam modern. Salah satu daya tariknya adalah penjelasannya yang sangat mengesankan tentang kaitan Islam dengan modernitas”. Itu kesimpulan Prof.Dr.Arndt Graf (hlm v-vi). Sedangkan Dr Johan Hendrik Meuleman melihat asa yang kuat dalam buku ini untuk merealisasikan Islam ideal sesuai ajaran Al-Qur’an. Memang, pencarian utama buku ini ialah kesalehan modern manusia dan masyarakat Islam. Karena itu porsi pembahasan sumber Islam, yakni Al-quran dan sunnah rasul ditempatkan pada bagian awal dengan pendekatan begitu tangkas (hlm xvi, 7-66).

Buku ini terdiri dari 440 halaman, 6 bab di luar Epilog. Setelah pendahuluan, bertutur-turut dibahas secara kritis Al-Quran: Darah Daging Modernisasi Islam (Bab II), Islam dan Teori Modernisasi (Bab III), Isu-isu Modern yang Melibatkan Umat (Bab IV), Kebangkitan Islam di Era Modern (Bab V), dan Membangun Kesalehan Modern (Bab VI). Semua bab diawali dengan ulasan yang sangat jelas tentang ranah aksiologis dari masing-masing konsep yang dibahas. Kesan yang saya dapatkan setelah membaca buku ini ialah keinginan yang kuat untuk hadir lebih dari sekadar studi norma Islam, tetapi sebagaimana kebiasaan teman saya ini, ia selalu ingin melampaui atau paling tidak menantang paradigma umum pada zamannya.

Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Saya kira banyak terpelajar di dunia yang membaca karya Clifford Geertz, “Islam Observed“. Ribuan karya seperti itu bertebar sejak dahulu. Ada yang sangat membantu memperkenalkan Islam yang kemudian merubah persepsi banyak orang menjadi lebih baik tentang Islam. Tetapi ada pula yang sekadar melanjutkan “semangat perang salib”, memojokkan. Memang tidak semua karya orientalis itu bermutu dan benar, meski tak mungkin dinafikan banyak membentuk sikap para terpelajar di kalangan Islam (memetakan masalah mereka) maupun di luarnya.

Fakta empiris Islam selama ini adalah sebuah paradoks. Kecamuk caci-maki dan sikap politik kebencian berlangsung lama. Tetapi umumnya, untuk sekadar melukiskan fenomena yang diakibatkan upaya-upaya sistematis yang kerap berusaha memojokkan, orang-orang dan negara-negara yang memusuhi itu kelihatannya masih kurang menyadari bahwa sikap antipati tak jarang melahirkan reaksi berbeda di negara mereka sendiri. Untuk alasan itulah kini banyak konversi ke Islam terjadi di Barat, dan bukannya diawali di kalangan awam yang lemah. Ini sesuatu yang berbeda dengan di banyak negara terbelakang. Di negara terbelakang seperti Indonesis misalnya, ISIS itu akan dikenali hanya dengan penuturan sepihak dari jaringan tunggal penguasaan internasional yang begitu dahsyat, dan untuk sebagian orang kerap dianggap itulah Islam seutuhnya. Sedangkan di negara maju politik Islamophobia malah kerap menimbulkan daya tarik yang menyebabkan kegairahan belajar Islam dari sumber otentiknya.

Pew Research Centre dari Amerika memprediksi tanda-tanda baru pertumbuhan populasi penganut Islam justru tidak di daerah tradisionalnya (Timur). Penting mengutip sebagian dari ekspresi mereka saat mengungkapkan kesadaran atas fakta-fakta mendunia. Tanggal 31 Mei 1996, Hillary Clinton, kepada Los Angeles Times (hlm 3) berucap: “Islam adalah agama yang paling cepat berkembang di Amerika, panduan dan pilar stabilitas bagi banyak orang kita …”. ABCNews, dalam Abcnews.com juga mengemukakan bahwa kini Islam menjadi lebih kuat dalam fakta bahwa ia adalah agama yang paling cepat berkembang di dunia. Kalimat dan pilihan kata berbeda tetapi dengan maksud yang sama juga diungkapkan Newsday, 7 Maret 1989, (hlm4), New York Times, 21 Februari 1989 (hlm1), USA Today, Population Referance Biro, 17 Februari 1989 (hlm 4A), CNN, 15 Desember 1995, Mike Wallace, 60 Minutes. Sejumlah peristiwa konversi keagamaan, termasuk Mike Tyson, mantan petinju juara dunia, Chris Eubank, juara tinju kelas menengah Inggris, yang telah mengubah namanya menjadi Hamdan, dan Cat Stevens, musisi pop yang akhirnya menyebut dirinya Yousef Islam, kini sudah menjadi hal umum. Tentu saja Anda masih ingat Classius Clay yang akhirnya menjadi Mohammad Ali sang legenda olah raga tinju dunia itu.

Orang seperti Johan Blank sebagaimana dikutip USNews (7/20/98) dengan sedikit was-was berkata bahwa dengan kekuatan 5 sampai 6 juta, muslim di Amerika sudah melebihi jumlah Presbiterian, Episkopal, dan Mormon, dan mereka lebih banyak dari kombinasi jumlah Quaker, Unitarian, Advent Hari Ketujuh, Mennonit dan Saksi Yehuwa. Banyak ahli demografi mengatakan bahwa Islam adalah sebuah agama, disusul Yudaisme, yang paling umum dipraktekkan sebagai agama negara (di permukaan bumi sepanjang sejarah).

Masih ingat ungkapan terkenal H.A.R. Gibb “Islam bukan cuma sekadar sistem kepercayaan dan penyembahan (ritual), melainkan tawaran jelas atas totalitas sistem kehidupan”? Dalam Whither Islam (London, 1932, hlm. 379) ia dengan menganalisis penistaan antar satu dan lain bangsa khususnya pra perang dunia kedua, dengan penuh keyakinan berkata bahwa Islam memiliki layanan yang jauh lebih mendalam untuk urusan kemanusiaan yang berdiri dan memiliki tradisi megah pemahaman antar-ras dan kerjasama di antara sesamanya. Tidak ada masyarakat lain yang memiliki catatan seperti keberhasilannya dalam persamaan status dan kesempatan, dibanding dengan begitu banyak usaha yang pernah ada untuk mempersatukan berbagai ras manusia. Jika pernah ada oposisi dari masyarakat besar Timur dan Barat yang akan diganti dengan kerjasama, mediasi Islam adalah kondisi yang sangat diperlukan. Di tangannya terletak sebagian besar solusi dari masalah dengan yang dihadapi Eropa dalam kaitannya dengan Timur. Jika mereka bersatu, harapan damai yang tak terkira ditingkatkan. Prof.Dr.Syahrin Harahap, MA seakan mengulangi keyakinan itu dalam buku ini (hlm ix-vii)

Lamartine dalam Historie de la Turquie, Paris 1854, Vol. 11 (hlm 276-2727) berbicara khusus tentang Muhammad. Pendiri dua puluh kerajaan darat dan satu kerajaan spiritual, yaitu Muhammad, katanya memulai. Sebagai salam semua standar yang dengannya kebesaran manusia dapat diukur, kita mungkin bertanya, apakah ada orang yang yang lebih besar dari dia? George Bernard Shaw pun pernah berkata bahwa jika orang seperti Muhammad yang menganggap penting menentang kediktatoran dunia modern, ia pastilah akan berhasil dalam memecahkan masalah yang akan membawa banyak kedamaian dan kebahagiaan yang dibutuhkan.

Profesor Keith Moore, salah satu ilmuwan terkemuka di dunia anatomi dan embriologi dari University of Toronto, Kanada, menyatakan dengan datar saja bahwa telah menjadi kesenangan baginya untuk membantu mengklarifikasi pernyataan Al-Qur’an tentang perkembangan manusia. Hal ini jelas bahwa kitab suci ini pasti datang (kepada Muhammad) dari Allah, karena hampir semua pengetahuan ini tidak ditemukan sampai beberapa abad kemudian. Muhammad pasti utusan Allah.

Begitulah adanya, bahwa dalam bidang sains modern sejumlah besar bukti tak mungkin diingkari oleh kekuatan apa pun. Profesor William W. Hay adalah salah satu ilmuwan kelautan terkenal di Amerika Serikat dan memiliki keahlian fotografi satelit dan teknik Emote-sensing. Satu ketika ia menjawab sebuah pertanyaan yang diajukan sesuai keahliannya: Saya merasa sangat tertarik. Informasi semacam ini ada dalam kitab suci kuno yang disebut Al-Qur’an. Saya tidak memiliki cara untuk mengetahui dari mana mereka mendapatkan pengetahuan itu hingga ada dalam kitab sucinya. Pengakuan dan kekaguman yang sama untuk bidang kehalian berbeda masih akan dengan mudah dapat ditemukan meski tak mungkin disebut keseluruhannya dalam tulisan singkat ini.

Misi Syahrin. Lalu bagaimana Islam dianggap begitu menakutkan dan kaum muslimin menjadi begitu inferior pada zaman kini? Pasti ada sesuatu yang salah, dan itu berpangkal pada faktor tunggal yang sudah sangat luas diketahui yakni ketika esensi ajaran ditinggalkan. Mungkin akan menarik untuk lebih dalam membahas keseriusan masalah hubungan Barat dan Timur Islam yang dalam era yang berbeda melakukan interaksi dan “penyantunan” secara resiprokal dengan esensi dan tujuan yang berbeda pula yang dalam buku ini memang disinggung sepintas (hlm 5) dan yang diulas lebih mendalam mulai dari hlm 181 bahkan hingga akhir.

Dalam kejayaan Islam tidak ditemukan catatan penyimpangan misi, misalnya untuk penyesatan bertujuan perbudakan bangsa-bangsa lemah dan bodoh untuk keuntungan material dan kesenangan-kesenangan duniawiyah (hedonisme) orang paling berkuasa. Tetapi vulnaribilitas dunia dengan keniscayaan silih-bergantinya hegemoni telah berlangsung sekian lama, dan catatan pemberangusan kemanusiaan terus-menerus dilakukan sambil meneriakkan hak asasi manusia sebagatas penghargaan naratif yang ditonjol-tonjolkan atas martabat dan keadilan yang sama sekali tak pernah konsisten dengan tindakan.

Membaca buku ini sebaiknya memang harus diawali dengan kesadaran bahwa Islam dan modernitas itu adalah sebuah topik diskusi serius. Dalam sosiologi agama kontemporer ia menempati porsi sangat penting dan tak bisa menghindari pembahasan dimensi sejarah yang selalu tak sepi dari berbagai interpretasi dan pendekatan. Tetapi satu hal dapat disepakati, bahwa modernitas itu adalah fenomena kompleks dan multidimensional. Dimulai dari transformasi besar-besaran di Eropa pada abad ke-18 yang kerap diidentifikasi sebagai kemunculan pencerahan berbasis ilmu pengetahuan dan rasionalitas yang ditopang teknologi dan revolusi industri yang menghantam keras posisi dan otoritas agama di sana. Tentu bukan sebagai kebetulan bahwa pada waktu yang hampir bersamaan krisis politik, militer, dan kerusakan ekonomi terjadi pada kekaisaran Ottoman. Sebelum abad ke-18 dinasti Utsmani menganggap dirinya unggul. Tidak mungkin dilupakan bahwa pada tahun 1798 tentara Napoleon Bonaparte telah menduduki provinsi Ottoman Mesir. Sebagaimana terjadi dalam kualitas dan kuantitas lebih dahsyat di Eropa, nilai-nilai diintroduksi dengan posisi menantang otoritas agama dan pola pikir materialis menyangkal atribut semua Tuhan. Ya, krisis yang lebih dahsyat telah terlebih dahulu menerpa posisi agama di Eropa.

Nilai-nilai modernisme berdampak terhadap interpretasi. Dalam dunia Islam gerakan-gerakan yang muncul untuk merespon tantangan yang disajikan oleh ekspansi kolonial Eropa, dan upaya menghidupkan kembali (dan mereformasi) Islam dari dalam sebagai cara untuk melawan degradasi, umumnya terjadi abad 19 dan awal abad 20. Jamal al-Din al-Afghani (1838-1897), Muhammad Abduh (1849-1905), Muhammad Rasyid Ridha (1869-1935), Sayyid Ahmad Khan (1817-1898), Muhammad Iqbal (1877-1938), Mahmud Tarzi (1865- 1933) dari Afghanistan, Achmad Dahlan dari Indonesia (1868-1923), Wang Jingshai dari Cina, dan lain-lain, adalah tokoh-tokoh legendaris dalam sejarah modernisasi dunia Islam dengan variasi sikap dan metode gerakan.

Penutup. “Islam & Modernitas dari Teori Modernitas Hingga Penegakan Kesalehan Modern” adalah bacaan yang akan sangat membantu studi komprehensip Islam. Ia menantang kesalehan modern yang tak bertumpu pada individualitas belaka. Tentu saja orang kini sudah sangat menyadari bahwa keburukan struktural dunia telah menjadi penyebab ketidak-adilan yang berkombinasi dengan kebodohan dan keterbelakangan. Tidak zamannya lagi berteriak melancarkan tuduhan pejoratif (cemooh) kepada sejumlah bangsa dan meminta mereka agar jangan malas dan merubah mainset, karena semua cacat dan nestapa modern adalah produk sistem yang gagal. Ini dengan sendirinya akan menjadi sangkalan kuat atas gagasan-gagasan belakangan yang mencoba mengintroduksi nativiasi dengan berbagai cara dan berbalutkan proyek politik dan demokratisasi serta pluralisme di berbagai komunitas Islam dunia seperti Indonesia yang sudah pasti akan menjanjikan belenggu baru atas janji kecemerlangan Islam.

Satu hal yang kurang mendapat pembahasan luas dalam buku ini ialah politik dan kekuasaan dalam arti tatanan internasional. Mungkin sangat perlu pembahasan tawaran-tawaran alternatif melebihi pernyataan-pernyataan penuh perasaan rendah diri (mc) dari orang-orang masa silam yang merasa lebih pas menindih aqidah dan syariah di bawah peradaban modern. Katakanlah Islam dalam sumber ajarannya mereka anggap tak pernah berbicara serius tentang bentuk negara dan pemerintahan dunia secara eksplisit. Tetapi sungguh sebuah kemustahilan Islam berbicara menata dunia jika sumber ajarannya tak pernah berbicara tentang kekuasan yang meniscayakan kesemuanya dalam sebuah sistem. Ini perkara ijtihad belaka.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertama kali diterbitkan oleh Harian Waspada, Senin, 13 Juli 2015, hlm B7.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: