'nBASIS

Home » ARTIKEL » Perbincangan: GATOT PUJO NUGROHO

Perbincangan: GATOT PUJO NUGROHO

AKSES

  • 557,706 KALI

ARSIP


||Rakyat mencatat mereka berdua ini  (Gatot – T Erry Nuradi) kurang lebih sebagai pemimpin kekanak-kanakan. Entah kapan dewasanya||

Pagi ini Arif dari Sindoradio menghubungkan saya ke studio. Di sana senior Dolls Barbarosa dan Cholis sudah siap-siap mengajukan pertanyaan-pertanyaan.

Pertanyaan 1: Pak Gatot diperiksa hari ini di KPK. Apa komentar Anda?

Jawaban Saya: Pertama, beliau dulur (saudara) saya.

Kedua, beliau Gubernur saya, ya Gubernur kita semua.

Ketiga, beliau diperiksa hari ini oleh KPK sebagai saksi. Itu sudah kita ketahui beberapa hari lalu sesuai publikasi media. Media juga memberitakan status pencekalan beliau bepergian ke luar negeri.

Keempat, hanya pembuktian yang akan menenentukan beliau akan tersangka atau nanti akan menjadi terpidana. Sekaligus hal dan prosedur yang sama yang membuat beliau bebas dari semua dugaan. Artinya peradilan opini hanyalah bagian dari politik, dan saya sangat berharap penegakan hukum yang bersifat sentimental dan emosional dihindari sejauh-jauhnya. Bukan hanya untuk Gatot, tetapi untuk semua tarikan nafas dan gerak hukum di negeri ini.

Kelima, saya kira saya tidak perlu berspekulasi tentang ini. Saya harap beliau tegar saja menghadapi.

Keenam, soal korupsi di Indonesia adalah sebuah sandiwara nasional. Ada rumus power tend to corrupt. Artinya more power pasti pulalah more corrupt.

Ketujuh, seingat saya, Sumut adalah daerah dengan jumlah terbesar ke sembilan atau ke sepuluh nilai APBD setelah DKI, Jatim, Jabar, Jateng, dan seterusnya. APBD kita di Sumut untuk 2015 kalau saya tak salah berjumlah 8,7 triliun rupiah. Jakarta 70-an atau hampir 80-an triliun rupiah. Hitunglah korupsi Indonesia berdasarkan teori power tend to corrupt tadi.

Kedelapan, saya berharap negara bisa makin baiklah tentang penegakan hukum terhadap korupsi. Kurang enak juga perasaan saya selama ini yang memosisikan seolah Sumut ini daerah juara korupsi. Saya tak terima itu. Syamsul Arifin bermasalah bukan karena korupsi APBD Sumut, melainkan karena kasus di Kabupaten Langkat semasa beliau menjabat Bupati di sana.

Kesembilan, saya tahu di Jakarta ada kasus transjakarta yang potensil merugikan negara triliunan rupiah. Kadisnya saja yang “nyangkut”. Kalau boleh membuat itu menjadi perbandingan, maka saya bertanya integritas penegakan hukum di Indonesia.

Kesepuluh, soal pandang enteng Jakarta kepada Sumut itu sudah berlebihan. Ingat, saya beri dua contoh, Ketua PDIP Sumut itu lama sekali dirangkap oleh Panda Nababan, hingga ia masuk kurungan dan setelah itu masih diganti oleh orang lain yang bukan warga Sumut. Baru-baru ini saja kita di Sumut memiliki Ketua PDIP defintiif.

Sejak pilkada 2010, setelah dilengserkannya Denny Ilham Panggabean karena memberanikan diri mendaftar sebagai calon walikota, Ketua PD Kota Medan itu adalah Soetan Batoeghana, padahal orang ini berdomisili di Jakarta. Orang ini pun akhirnya kita ketahui masuk tahanan, lantas diganti oleh orang dari Jakarta pula, Ramadhan Pohan.

Masih ada satu contoh lagi, yakni bagi hasil perkebunan.Jakarta merasa dirinyalah pemilik kebun yang ada di Sumatera Utara. Memang kebun itu dulu dibangun oleh penjajah. Saya tidak tahu apakah dianggap bahwa semua bekas aset penjajah akan dikelola seperti cara penjajah mengelolanya.

Pertanyaan 2: Kabarnya beliau (Gubsu) berpesan khusus menitip Sumut kepada Hasban Ritonga, Sekdaprovsu.

Jawaban Saya: Sesungguhnya banyak tafsiran yang bisa diberikan untuk ini. Tetapi kita padakan saja dengan mengatakan bahwa itu hanyalah karena perasaan kedekatan saja, sekaligus melukiskan hubungan Gatot dengan wakilnmya T Erry Nuradi.

Apa pun maksudnya, nanti tidak akan seperti itu. Maksud saya UU tak mengatur seperti itu. Sekiranya hari ini beliau dinyatakan tersangka dan ditahan oleh KPK, yang akan menjadi Plt adalah wakil, yakni T Erry Nuradi.Sekdaprovsu Hasban Ritonga menjalankan tugas sebagai Sekda. Tetap saja.

Soal hubungan kedua tokoh ini sudah lama menjadi pergunjingan umum, bahkan hampir seusia kepemimpinan mereka. Ada latar belakangnya yang cukup kompleks. Tetapi saya akan menyederhanakan saja dengan mengatakan begini: Satu Raja Jawa. Satu Raja Melayu. Satu berpengalaman sebagai atasan (yang mungkin tidak pernah belajar dan tidak pernah tahu bagaimana memperlakukan bawahan dengan baik); satu berpengalaman sebagai bawahan yang juga mungkin diam-diam mencatat begitu buruknya diperlakukan dalam posisinya itu. Keduanya terjadi dalam lingkup ketentuan dan pengaturan pemerintahan berdasarkan UU otonomi daerah yang sesungguhnya otomatis menempatkan wakil hanyalah sebagai ban serap belaka. Satu Gatot Koco, Satu Serampang Dua Belas. Keduanya sukar dipertemukan. Gatot Koco beroto baja, suka terbang di udara dari satu ke lain tempat yang ia perlukan. Satu menjejak di bumi dengan gaya maju dan mundur, maju dan mundur, dengan lambaian-lambaian tangan dan gerak-gerik penuh makna.

Biarlah begitu. Rakyat mencatat mereka berdua ini  (Gatot – T Erry Nuradi) kurang lebih sebagai pemimpin kekanak-kanakan. Entah kapan dewasanya.

Saya tidak tahu, dan saya kira saya tak perlu berspekulasi bahwa jika Gatot bermasalah kali ini dan masuk tahanan, apakah T Erry Nuradi juga aman. Asumsinya tiada pejabat yang tak bermasalah (korupsi). Persoalannya ada yang harus dibuka dan ada yang memang harus ditutup. Itulah rumus tebang pilih itu, yang didasarkan pada semangat penegakan hukum yang sentimentil dan emosional.

Pertanyaan 3: Nah, soal Bagi hasil perkebunan itu. Anda ingin membicarakannya sekarang?

Jawaban Saya: Sebulan lebih yang lalu saya ke DPRDSU. Bertemu dengan salah seorang wakil ketua. Dalam perbincangan itu kami sepakat kiranya dapat digelar demonstrasi besar-besaran di dua tempat: Jakarta dan Sumut.

DI Jakarta semua wakil Fraksi DPRDSU dan masing-masing 5 orang dari DPRD Kab/Kota se-Sumut berkemah di depan istana (malam boleh tidur di hotel berbintang 5). Mereka meneriakkan bagi hasil perkebunan itu.

Di Medan dan Sumut kita pimpin gerakan untuk menstop semua aktivitas di perkebunan (PTPN) termasuk pengiriman CPO. Setiap CPO yang lewat kita gulingkan, kita tumpahkan muatannya. Saya rasa hanya itu cara memberi pesan kepada Jakarta agar mereka mau adil dalam hal bagi hasil perkebunan.

Jadi Jakarta itu jahat. Kita tahu teorinya. Ada tiga sumber kesenjangan. Pertama, transaksi buruh-majikan. Kedua, transaksi pusat-Daerah. Ketiga transaksi negara-MNCs. Ketiganya kita rasakan di sini dan membuat Sumut terus menerus mengerdil dan rakyatnya makin menderita kesmiskinan dari hari ke hari.

Pertanyaan 4: Kita naik ke atas. Kata media Jokowi dan Megawati belum Syawalan. Apa tanggapan Anda?

Jawaban Saya: Saya tak faham tentang pemahaman dan anutan aliran agama mereka berdua. Apakah masih dalam kawasan ahlussunnah wal-jamaah atau bukan. Jangan-jangan hanya sebagai Islam KTP atau kejawen belaka yang sebagai keharusan politik memang selalu kelihatan menyertai event-event formal yang sangat bersifat politis. Saya tidak tahu. Faham keislaman yang dianut seseorang berpengaruh atas pandangannya terhadap idulfitri.

Memang sejak konflik terbuka yang terlihat begitu runyam di Bali itu, semua sudah tahu bahwa keduanya tidak cocok lagi. Mungkin Mega merasa kecolongan. Anak Mega sendiri sudah membuat sebuah lagu rock yang kata orang menyindir keras Jokowi. Umum ada tuduhan dari beberapa tokoh tertentu di internal PDIP yang menganggap Jokowi tak setia Nawacita.

Pertanyaan 5: Apa closing statement Anda?

Jawaban Saya: Selamat hari raya Idulfitri bagi warga Medan sekitarnya. Untuk Gatot: hadapi saja semua dengan jiwa yang tenang.

Rabbana ma khalaqta hazda bathila

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: