'nBASIS

Home » ARTIKEL » OPTIMISME HM YUSUF NASUTION

OPTIMISME HM YUSUF NASUTION

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


Yusuf-Imron||Sebagai perbandingan, beberapa pekan lalu muncul ketentuan baru bahwa anggota legislatif pun diwajibkan mundur dan tidak boleh kembali lagi ke kedudukan semula jika mencalonkan diri dalam Pilkada. Ketentuan terbaru ini langsung merubah secara drastis peta persaingan politik pilkada di daerah, meski masih ada yang tetap bertahan dan bersedia mengambil resiko mundur dari status anggota legislatif meski jumlahnya cuma hitungan jari. Sekali lagi optimisme HM Yusuf Nasution semakin begitu penting dan fenomenal||

Dua hari terakhir khabar mutawatir (banyak orang kompeten sudah tahu) menyebut HM Yusuf Nasution akan maju menjadi salah seorang Calon Bupati di Kabupaten Mandailing Natal (Madina). Selepas shubuh Minggu pagi saya berusaha menghubunginya, dan ternyata khabar itu betul. “Terimakasih, mohon do’a dan dukungan”, katanya.

Apa istimewanya HM Yusuf Nasution? Ia seorang birokrat yang cukup sukses. Sejak 19 Februari 2014 lalu diamanahkan menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Madina. Sebelumnya ia juga pernah menjabat sebagai Sekretaris DPRD Kabupaten Madina, jabatan yang untuk semua level pemerintahan (sekretaris Dewan) memiliki peran sangat strategis.

Dengan pencalonan ini, sesuai ketentuan, ia sudah mesti dinyatakan berhenti dari jabatan dan status PNS barulah KPU bersedia menerima pendaftarannya. Jadi tidak cukup hanya dengan pernyataan tertulis dari pejabat atau PNS itu. Persyaratan itu berlaku juga untuk anggota TNI dan Polri. Dengan begitu maka hal ini adalah sebuah “pengorbanan” yang cukup besar yang tak semua PNS, apalagi yang memiliki jabatan sangat strategis seperti HM Yusuf Nasution, bersedia memilihnya.

Beberapa bulan lalu misalnya, ketika berbicara dengan beberapa orang Kepala SKPD di Medan, yang waktu itu dalam rangka membincangkan niat Dzulmi Eldin berpasangan sesama birokrat dalam pilkada Medan, mereka menyatakan loyalitasnya secara penuh kepada Dzulmi Eldin dan siap memperturutkan jika memang itu keputusan terbaik menurut figur incumbent itu. Tetapi semua tetap berharap diberi kebebasan memilih untuk tetap berkarir sebagai birokrat.

Mungkin bagi seseorang yang sedang menghabiskan bulan-bulan terakhir masa kerja sebelum pensiunnya, terjun ke dunia politik dengan resiko berhenti dari jabatan dan status PNS, masalahnya tidak begitu besar dan boleh jadi ia tak perlu berfikir panjang. Tetapi HM Yusuf Nasution tergolong masih muda, dan memilih berhenti. Apa di balik pilihan itu?

Sebuah Kejutan. Sebagai perbandingan, beberapa pekan lalu muncul ketentuan baru bahwa anggota legislatif pun diwajibkan mundur dan tidak boleh kembali lagi ke kedudukan semula jika mencalonkan diri dalam Pilkada. Ketentuan terbaru ini langsung merubah secara drastis peta persaingan politik pilkada di daerah, meski masih ada yang tetap bertahan dan bersedia mengambil resiko mundur dari status anggota legislatif meski jumlahnya cuma hitungan jari. Sekali lagi optimisme HM Yusuf Nasution semakin begitu penting dan fenomenal.

Masih segar dalam ingatan, bahwa tanggal 18 Mei 2015 lalu, 115 Anggota Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) terpilih, dan 1.212 anggota Panitia Pemungutan Suara (PPS) yang akan bertugas di 23 Kecamatan dan 404 desa/kelurahan se-Kabupaten Madina dilantik. Agenda Komisi Pemilihan Umum (KPU) Mandailing Natal (Madina) itu adalah bagian dari program menghadapi Pilkada tahun 2015. Sekda Kabupaten Madina HM. Yusuf Nasution, mewakili Bupati Madina, hadir pada acara pelantikan itu. Begitu juga para Camat se-Kabupaten Madina, unsur Muspida Plus dan tokoh Partai Politik. Waktu itu tak seorang pun yang berfikir bahwa HM.Yusuf Nasution yang juga dikenal luas sebagai tokoh di balik pembangunan Sekolah Tinggi Agama Islam Madina (STAIM) dan ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Madina ini akan maju menjadi salah seorang Calon Bupati untuk periode mendatang.

Selain itu kejutan lain ialah bahwa pasangan yang dipilih oleh HM Yusuf Nasution sebagai calon wakil ialah Wakil Bupati aktif yang sekarang, yakni H. Imron Lubis. Itu berarti Pasangan Bupati H. Dahlan Hasan Nasution dan Wakilnya H. Imron Lubis tidak bisa mempertahankan keawetan chemistry lebih lama. Kita tahu Bupati Madina H.Dahlan Hasan Nasution adalah pengganti untuk Hidayat Batubara yang berhalangan tetap berdasarkan UU, terhitung Oktober 2014 sesuai Keputusan Menteri dalam negeri R.I nomor 131.12.3429 tahun 2014. Wakil Bupati H Imron Lubis mulai bertugas sejak 11 Februari 2015 sesuai SK Mendagri Nomor 132.12/55 Tanggal 22 Januari 2015. Usia kebersamaan pasangan yang sangat singkat, tentu saja. Bagaimana pun juga peristiwa ini mengindikasikan banyak hal, tak terkecuali kepemimpinan daerah dan obsesi-obsesi akselerasi pembangunan daerah.

Tetapi saya yakin tindakan politik HM Yusuf Nasution ini bukanlah sesuatu yang diputuskan mendadak. Ia sudah memikirkannya cukup lama, sambil membaca peluang-peluang politik. Mudah-mudahan ini sebuah hasil kontemplasi atau perenungan mendalam serta sebuah panggilan (beruf) berdasarkan pengalaman dalam menjalankan tugas-tugasnya selama ini dalam pemerintahan, khususnya di Madina.

Madina Yang Madani. Istilah ini pertama kali saya dengar dari penuturan sejarawan nasional Basyral Hamidy Harahap yang kemudian dituliskan dalam bukunya dengan judul yang sama, yakni Madina Yang Madani. Sebelum Madina menjadi sebuah kabupaten, wilayah ini termasuk bagian dari Kabupaten Tapanuli Selatan. Kabupaten Madina resmi berdiri berdasarkan Undang-undang Nomor 12 tahun 1998, yang secara formal diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 9 Maret 1999.

Kabupaten Madina dengan luas ±6.620,70 km2 atau 9,23 % dari wilayah Sumatera Utara ini memiliki karakteristik khas. Di sana terdapat sebuah Hutan Lindung dan Taman Nasional diberi nama Batang Gadis yang boleh jadi adalah sebuah simbol atas penolakan terhadap aktivitas penggundulan hutan yang marak di Indonesia sekaligus mencederai keseimbangan alam dan menyengsarakan rakyat. Sebagaimana daerah-daerah Kabupaten lainnya di Sumatera Utara, dan bahkan Provinsi Sumatera Utara, struktur perekonomian Kabupaten Madina didominasi oleh sektor pertanian dengan komposisi kurang lebih 45,42 %, disusul perdagangan hotel dan restoran, jasa-jasa, bangunan, pengangkutan dan komunikasi, industri pengolahan, keuangan, persewaan dan jasa perusahaan, pertambangan dan penggalian, listrik, gas dan air bersih. Ini menunjukkan pentingnya strategi revitalisasi pertanian sebagai sektor tempat mayoritas rakyat bergantung tanpa mengabaikan aspek pertumbuhan aekonomi daerah.

Menurut dokumen RPJPMD Kabupaten Madina tahun 2011-2016, indikator pembangunan bidang ekonomi dari tahun 2005-2010 mengalami perubahan yang relatif membaik. Angka Kemiskinan juga mengalami penurunan yang cukup signifikan yaitu dari tahun 2005 sebesar 20.84%,tahun 2006 sebesar 20.40%, ditahun 2007 sebesar 18.74%, tahun 2008 sebesar 14.46%, tahun 2009 sebesar 14.32% dan tahun 2010 sebesar 14.10%.

Mungkin angka-angka berikut ini bermanfaat ditelaah. Angka Pengangguran Terbuka hampir setiap tahun mengalami penurunan.Pada tahun 2005 sebesar 8.51%, tahun 2006 turun menjadi 7.71%, tahun 2007 terjadi sedikit kenaikan menjadi 7.73 %. Kemudian tahun 2008 kembali terjadi kenaikan menjadi sebesar 7.92%, tahun 2009 menurun menjadi sebesar 5.64 %, dan tahun 2010 menjadi sebesar 5.63%. Pertumbuhan ekonomi pada tahun 2005 sebesar 5.85 %, tahun 2006 meningkat menjadi sebesar 6.12%, tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 6.46%, tahun 2008 kembali meningkat menjadi sebesar 6.50%,tahun 2009 sebesar 6.90%, tahun 2010 pertumbuhan ekonomi menjadi sebesar 6.41%.

Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Mandailing Natal pada tahun 2005 sebesar 294 per 100.000 kelahiran Hidup. Setiap tahunnya AKI dapat ditekan sehingga turun menjadi 262 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2006. Padatahun 2007 AKI turun lagi 250 per 100.000 kelahiran hidup. Tahun 2008 jumlah AKI sebesar 227 per 100.000 kelahiran hidup,tahun 2009 sebesar 216 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2010 sebesar 179 per 100.000 kelahiran hidup.

Dibandingkan dengan target Mandailing Natal sehat tahun 2010 yaitu AKI 150 per 100.000 kelahiran hidup maka capaian tersebut semakin mendekati. Angka kematian bayi di Kabupaten Mandailing Natal pada tahun 2005 sampai tahun 2007 adalah sebesar 35 per 1.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2008 angka kematian bayi turun menjadi 33,1 per 1.000 kelahiran hidup. Sedangkan, tahun 2010 AKB sebesar 30 per 1.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2010 ditargetkan sebesar 40 per 1.000 kelahiran hidup dan terlampaui yaitu dengan pencapaian 30 per 1.000 kelahiran hidup. Pada tahun 2010, IPM Kabupaten Madina mencapai 70,6 yang sangat terkait dengan capaian komponen utama indeks pendidikan berkontribusi 85,58, indeks kesehatan 72,36 dan indeks daya beli 59,55.

Dokumen RPJMD Kabupaten Madina 2011-2016 juga berkisah tentang kekuatan dan tantangan objektif. Dalam kategori kekuatan tercatat antara lain ketersediaan lahan potensial dan agroklimat untuk pengembangan pertanian yang masih tersedia luas, kepadatan penduduk dan intensitas kegiatan penduduk yang masih rendah sehingga penataan wilayah lebih mudah, kawasan hutan masih luas dengan produk kehutanan yang bervariasi, potensi bahan tambang dan galian relatif melimpah, banyak potensi lokasi wisata dengan view menarik meski masih memerlukan intervensi, potensi energi listriki Microhydro relatif besar, sebagian masyarakat telah memiliki jiwa kewirausahaan khususnya dalam lingkup agroindustri, letak geografis strategis, dilalui jalur Sumatera Utara-Sumatera Barat, yang berpotensi sebagai simpul transportasi darat, tingkat perkembangan antar bagian wilayah cukup merata, kondisi keamanan dan ketertiban yang terjaga baik serta masyarakat yang damai, budaya Mandailing yang berpotensi besar menjadi spirit dalam birokrasi dan kehidupan bermasyarakat, dan lain-lain.

Hal-hal yang termasuk kategori kelemahan secara objektif Madina memiliki fakta pengamalan nilai keagamaan dan budaya semakin memudar sesuai perubahan sosial. Indeks Pembangunan Manusia masih rendah, SDM terampil dan berpendidikan memadai masih terbatas, kualitas layanan kesehatan masih terbatas, proporsi jumlah penduduk miskin relatif besar, spirit kewirausahaan bagi angkatan kerja lemah, prasarana jalan belum menjangkau seluruh bagian wilayah, sebagian jaringan jalan dalam keadaan rusak, sebagian jaringan irigasi mengalami kerusakan, lahan potensial yang ada belum dimanfaatkan secara optimal, eksploitasi hutan yang tidak berwawasan lingkungan, belum tersedianya Perusahaan Daerah, harga komoditas pertanian relatif tidak stabil dan sering rendah, dan lain-lain.

Penutup. Madina sudah lama mengalami tuntutan pemekaran daerah Kabupaten baru sehubungan dengan aspirasi yang datang dari wilayah Pantai Barat. Kasus ini sudah pernah mendapat pembahasan serius hingga tingkat provinsi (DPRD dan Gubernur). Karena itu untuk wilayah ini sangat diperlukan pemahaman aspirasi untuk mendapat dukungan terluas dari pemilih.

Akan ada pihak konservatif yang memandang pemekaran wilayah sebagai bentuk lain yang kurang lebih menyamai aspirasi separatis. Tetapi, selama dikehendaki oleh masyarakat dan UU memberi jalan, semestinya aspirasi itu diperhatikan serius. Benar, bahwa pengurangan luas daerah sangat berpengaruh terhadap potensi Pendapatan Asli Daerah dan lain-lainnya.

Kita tahu bahwa dari daerah Sibulus-bulus Sirumbuk-rumbuk ini banyak tampil tokoh-tokoh yang menghiasi sejarah Indonesia modern seperti Abdul Haris Nasution, Sutan Takdir Alisjahbana, Darmin Nasution, Adnan Buyung Nasution, dan lain-lain. Kita berharap pilkada 2015 mampu menampilkan satu pasangan terbaik yang lebih faham dan lebih dapat diharapkan melakukan akselerasi pembangunan yang akan menandai kebangkitan kawasan pantai barat yang selama ini lebih dikonotasikan sebagai wilayah miskin, dan melahirkan putera-puteri terbaik bangsa yang bahkan (jika bisa) melebihi nama-nama besar yang pernah lahir di sini sebelumnya.

Mudah-mudahan HM Yusuf Nasution menyadari semua itu dan mendasarkan tindakan politiknya atas dasar kepedulian terhadap nasib rakyat. Semoga.

Shohibul Anshor Siregar. Dengan judul yang berbeda tulisan ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan, Senin, 27 Juli 2015, hlm B4


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: