'nBASIS

Home » ARTIKEL » INTOLERANSI MUHAMMADIYAH

INTOLERANSI MUHAMMADIYAH

AKSES

  • 512,968 KALI

ARSIP


IMG_1580Dengan tema “Gerakan Pencerahan Untuk Indonesia Berkemajuan”, Muhammadiyah (selanjutnya disingkat M) yang didirikan tahun 1912 di Jogjakarta itu menggelar Muktamar ke 47 di Makassar, mulai hari ini hingga 7 Agustus 2015 nanti. Tema itu menginginkan M mengokohkan jaditiri menjadi pendorong kemajuan Indonesia, memengaruhi umat dan bangsa agar Indonesia terarah sebagimana dicita-citakan; yang modern, bisa bersaing dengan bangsa lain, dan unggul.

M ingin menggelorakan gerakan pencerahan semakin menyentuh masyarakat bawah. Inginkan gerakan tidak hanya dominasi lisan, tapi juga mencerahkan sekaligus membesarkan dilihat dari semua dimensi (agama, ekonomi, sosial, dan sebagainya). Dakwah kaum duafa, marginal, dan posisi serta nasib negara-bangsa menjadi hal-hal teramat penting yang akan membuat Muktamar 47 mengutamakan pembahasan karya untuk bangsa, bukan persaingan merebut posisi Ketua Umum.

Semua itu secara implisit menjelaskan intoleransi M terhadap banyak faktor yang membuat nasib umat dan negara-bangsa yang dicintainya terpuruk. Jika diperiksa secara serius, keinginan itu adalah sebuah peta dan agenda lama. Akarnya ada pada sejarah yang menjelaskan keterpurukan yang tak mungkin diterima oleh bangsa mana pun di dunia.

Sejarah. Pada permulaan abad XX umat Islam Indonesia menyaksikan kemunculan gerakan pembaharuan pemahaman dan pemikiran Islam. Esensi gerakan ini harus dihubungkan dengan dan atau adalah salah-satu mata rantai penting dari apa yang telah dimulai sebelumnya, tidak berdiri sendiri. Ibn Taimiyah (1263-1328) tercatat telah melakukan gerakan penting. Ia misalnya mengatakan ada tiga generasi awal Islam, yaitu Rasulullah Muhammad SAW dan para Sahabat Nabi, kemudian Tabi’in (generasi yang mengenal langsung para Sahabat Nabi), dan Tabi’ut tabi’in (generasi yang mengenal langsung para Tabi’in). Semua generasi tersebut adalah contoh terbaik untuk kehidupan Islam. Karena itu Islam tidak mungkin mencari acuan terbaik kecuali kepada kehidupan ketiga generasi awal itu.

Ibn Taimiyah dikenal keras dalam pendirian  dan teguh berpijak hanya pada garis yang telah ditentukan Allah, mencontohkan dan menganjurkan agar umat Islam secara kuat mengikuti segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Usaha-usaha memurnikan tauhid dari kesyirikan, khurafat, dan bid’ah, yang belakangan menjadi panutan sangat luas bagi para pengikut Salafi. Sepanjang hidupnya Ibn Taimiyah mendapat banyak sekali pujian. Tetapi juga tak sepi dari celaan karena ketidaktahuan (ignorance). Dunia modern saat ini pun tentu dengan objektif dapat melihat posisi pentingnya yang sangat berpengaruh.

Di Jazirah Arab sejarah mencatat kiprah penting dari Muhammad Ibnu Abdul Wahab (1703-1792), seorang ahli teologi Islam dan tokoh pemimpin gerakan yang pernah menjabat sebagai mufti Daulah Su’udiyyah. Gerakannya yang kemudian lebih dikenal dengan julukan Wahabiyah tak sepi tentangan permusuhan, yang menurutnya paling tidak dalam dua bentuk: yakni pertama, permusuhan yang dapat disebut atas nama nalar ilmiah dan agama. Kedua, permusuhan yang dapat disebut atas nama politik yang (sayangnya) kerap berselubung agama yang juga ditengarai kerap memperalat golongan ulama tertentu mendukung “permusuhan” terhadap dakwah. Kalangan ini malah menuduh dan memfitnah Muhammad Ibnu Abdul Wahab sebagai orang sesat lagi menyesatkan, sebagai kaum Khawarij, sebagai orang yang ingkar terhadap ijma’ ulama dan pelbagai macam tuduhan buruk lainnya. Dalam medan dakwah dan gerakan ini Muhammad bin Abdul Wahab telah mengombinasikan baik kemampuan lisan, pena bahkan kekuatan persenjataan selama lebih kurang 48 tahun tanpa berhenti hingga akhir hayatnya.

Adalah penting untuk memegang catatan yang menyebutkan bahwa aktivis politik yang nasionalis Islami, pencetus, perintis Islamisme dan Pan Islamisme Jamaluddin Al-Afghani (1838-1897) pernah bertempat tinggal di Afganistan, Indonesia, Iran, Mesir, dan Kesultanan Ottoman pada abad ke-19. Umumnya ia akan selalu digambarkan sebagai pribadi yang lebih memperjuangkan nasib kaum muslimin dalam kaitannya dengan dominasi politik Barat dibandingkan masalah teologi. Dalam usaha-usahanya ia dikenal banyak menulis, antara lain dalam majalah al-‘Urwat al-Wuthqa. Dilihat dari fakta objektif saat ini, maka gagasannya untuk memecah tembok eksklusifisme kaum muslimin dan membawanya memasuki dunia lebih terbuka, adalah catatan penting yang sangat monumental dengan optimisme yang kuat meskipun menghadapi realitas kemajemukan bangsa, budaya dan agama.

Bolehlah direnungkan kembali saat ini bahwa baginya agama, khususnya agama dalam rumpun Semitik (Yahudi, Kristen dan Islam), sebagaimana dicatat oleh M.A.Zaki Badawi dalam Reformers of Egypt: A Critique of Al-Afghani, Abduh and Ridha (1980), bukanlah faktor yang harus diterima sebagai kekuatan pendorong untuk perpecahan. Perpecahan, katanya, hanya terjadi bila dieksploitasi oleh kepentingan-kepentingan semata, seperti (katakanlah dengan sederhana) “para pedagang agama” yang selalu begitu aktif dan terencana memperniagakannya di warung agama masing-masing untuk mengambil keuntungan peribadi.

Muhammad Abduh lahir di Delta Nil (wilayah Mesir) pada tahun 1849 dan meninggal tanggal 11 Juli 1905. Ia adalah seorang pemikir dan salah satu penggagas gerakan modernisme Islam yang melanjutkan perjuangan gurunya Sayyid Jamal-Al-Din Al-Afghani yang terkenal dengan gerakan menentang penjajahan Eropa di negara-negara Asia dan Afrika itu. Muhammad Abduh dalam perjuangannya banyak menerima nasib buruk, hingga penyingkiran dari negerinya sendiri, Mesir, selama enam tahun (sejak 1882) karena keterlibatan dalam pemberontakan Urabi. Ia tak berhenti di suatu tempat, dan selalu berusaha memilih “podium-podium” efektif untuk gerakannya.

Di Lebanon tercatat Abduh giat mengembangkan sistem pendidikan Islam, meski kemudian pada tahun 1884 ia pindah ke Paris. Di sanalah ia, bersama Sayyid Jamal Al-Afghani, menerbitkan jurnal Islam The Firmest Bond. Nama ini, Firmest Bond, belakangan lebih disudutkan secara menakutkan sebagai musuh peradaban Barat modern, antara lain dengan menyebutnya sebagai lanjutan penerbitan keras dan berbahaya yang pernah ada sebelumnya (al-Urwa al-wuthqa, 1949), Separatist, New Regime Nationalist, Ethnic Nationalist, Quranic Understandings of Violent Jihad – Religious Terrorism (Islamic), dan Terrorist Group Expansionism.

Ia banyak menulis. Tetapi salah satu karya paling terkenal yang berjudul Risalah at-Tawhid (1897) adalah karya monumental tentang cita-cita keislaman dengan asumsi kuat hanya akan dapat maju bila umatnya sendiri mau belajar, tidak hanya ilmu agama, tapi juga ilmu sains. Karya ini menunjukkan silsilah pemikiran yang banyak terinspirasi Ibnu Taimiyah. Sangat luas diketahui bahwa pemikirannya banyak menginspirasi pembentukan organisasi-organisasi gerakan Islam dunia, termasuk M yang berdiri tahun 1912.

Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935) adalah seorang muslim yang mengembangkan gagasan modernisme Islam sebagai kelanjutan gagasan Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh. Pada zamannya ia berusaha memeriksa dan mempelajari secara serius kelemahan-kelemahan masyarakat Islam dibandingkan masyarakat kolonialis Barat. Ia menyimpulkan bahwa kecenderungan untuk mengikuti tradisi secara buta (taqlid), minat yang berlebihan terhadap dunia sufi dan kemandegan pemikiran ulama adalah sejumlah faktor yang mengakibatkan kegagalan dalam mencapai kemajuan dalam semua bidang, termasuk sains dan teknologi. Anjurannya ialah kembali ke prinsip-prinsip dasar Islam dan jangan sekali-sekali segan melakukan ijtihad dalam menghadapi realitas kehidupan modern.

Penggagas penerbitan surat kabar Al-Manar (1898-1935) ini adalah orang yang mengalami metamorfosis yang sangat penting dengan pengaruh yang luar biasa dalam dunia Islam. Konon ia mulai mempelajari tasawuf (mistik atau Sufisme, ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, untuk memporoleh kebahagian yang abadi) dari gurunya Husain Al-Jisr. Setelah memperdalam ilmu dan ushuluddin, ia kemudian menyadari kekeliruan dan memberi testimoni menggemparkan:

“Saya sudah menjalani Tarekat, mengenal yang tersembunyi dan paling tersembunyi dari misteri-misteri dan rahasia-rahasianya. Saya telah mengarungi lautan Tasawuf dan telah meneropong intan-intan di dalamnya yang masih kokoh dan buih-buihnya yang terlempar ombak. Namun akhirnya petualangan itu berakhir ke tepian damai, ‘pemahaman Salaf ash-Shalih’ dan tahulah aku bahwa setiap yang bertentangan dengannya adalah kesesatan yang nyata.”

 
M ada pada garis sejarah yang panjang itu, dan akan terus-menerus melancarkan gerakannya untuk memperjuangkan keadilan dan kemaslahatan dengan tujuan mencapai kemakmuran dunia yang diridhoi oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Ia siap membuka tangan lebar-lebar dan bahkan memprakarsai kerja-kerja serius untuk maslahat bangsa, negara dan dunia.

Tajdid. Hal-hal yang tadinya dianggap menjadi praktik keanehan dari M kini sudah tak mungkin lagi dengan simplistis dihubungkan sebagai karya M semata. Penentuan arah kiblat yang tepat dalam sholat, sebagai kebalikan dari kebiasaan sebelumnya, yang menghadap tepat ke arah Barat, penggunaan perhitungan astronomi dalam menentukan permulaan dan akhir bulan puasa (hisab), sebagai kebalikan dari pengamatan perjalanan bulan oleh petugas agama, kini menjadi sangat lazim. M juga memelopori penyelenggaraan sholat di lapangan terbuka pada hari Idul Fitri dan Idul Adha. Kini bahkan negara pun mengekspresikan hal itu di berbagai level. Pengumpulan dan pembagian zakat fitrah dan kurban oleh panitia khusus, mewakili masyarakat Islam setempat, yang sebelumnya adalah hak istimewa pegawai atau petugas agama (penghulu, naib, kaum, modin, dan sebagainya) kini malah dianggap sebagai pelanggaran hukum jika dilaksanakan sebaliknya.

Penyampaian khutbah dalam bahasa Indonesia dan daerah sebagai ganti dari khutbah berbahasa Arab; penyederhanaan upacara dan ibadah dalam upacara kelahiran, khitanan, perkawinan dan pemakaman, dengan menghilangkan hal-hal yang bersifat politheistis; penyerderhanaan makam, yang semula dihiasi secara berlebihan; menghilangkan kebiasaan berziarah ke makam orang-orang suci (wali); membersihkan anggapan adanya berkah yang bersifat ghaib yang dimiliki oleh para kyai/ulama tertentu, dan pengaruh ekstrim dari pemujaan terhadap mereka; penggunaan kerudung untuk wanita, dan pemisahan laki-laki dengan perempuan dalam pertemuan-pertemuan yang bersifat keagamaan.

Bagi M gerakan pembaharuan pemahaman agama itu adalah sebuah fenomena yang menandai proses Islamisasi yang terus berlangsung, yakni suatu proses yang menunjukkan kesadaran sejumlah besar orang Islam yang memandang keadaan agama, termasuk diri mereka sendiri, sebagai belum memuaskan. Pilihan strategisnya terletak pada langkah perbaikan untuk lebih memahami kembali Islam, dan untuk selanjutnya selanjutnya berbuat sesuai dengan apa yang mereka anggap sebagai standard Islam yang benar. Ini memang sebuah ijtihad yang dapat menjadi pertentangan besar sebagaimana telah terbukti dalam sejarah.

Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya, peningkatan agama tidak hanya sebatas pikiran-pikiran abstrak, tetapi diorganisasikan sebagaimana terlihat dalam fenomena M. Persyarikatan M didirikan pada mulanya bersifat lokal, tujuannya terbatas pada penyebaran agama di kalangan penduduk Yogyakarta. Pada pasal 2 Anggaran Dasarnya yang asli berbunyi: Maka perhimpunan itu maksudnja:

(a).Menjebarkan pengadjaran Agama Kandjeng Nabi Muhammad kepada penduduk Bumiputra di dalam residentie Yogyakarta

(b).Memadjukan hal Agama Islam kepada anggauta-anggautanja. Organisasi M dalam waktu relatif singkat mengalami perkembangan pesat sehingga meluas ke seluruh Jawa dan menjelang tahun 1930 telah masuk ke pulau-pulau di luar Jawa.

Penutup. Misi utama M adalah pembaharuan pemahaman agama dengan dua sasaran: pertama,  berarti pembaharuan dalam arti mengembalikan kepada keasliannya/kemurniannya, ialah bila tajdid itu sasarannya mengenai soal-soal prinsip perjuangan yang sifatnya tetap/tidak berubah-ubah. Kedua, berarti pembaharuan dalam arti modernisasi, ialah bila tajdid itu sasarannya mengenai masalah seperti: metode, sistem, teknik, strategi, taktik perjuangan, dan lain-lain yang sebangsa itu, yang sifatnya berubah-ubah, disesuaikan dengan situasi dan kondisi/ruang dan waktu. Tajdid dalam kedua pemahaman itu sesungguhnya merupakan watak ajaran Islam itu sendiri.

Islam yang diyakininya sebagai agama terakhir, tidaklah memisahkan masalah rohani dan persoalan dunia, tetapi mencakup kedua segi ini sehingga Islam memancar ke dalam berbagai aspek kehidupan. Karena itu yakinlah, M akan tetap menunjukkan intoleransinya terhadap semua yang dianggapnya menghambat pemahaman dan pengamalan, apalagi yang memusuhi Islam. Baik yang dilakukan secara terang-terangan, maupun dalam bentuk lain, termasuk yang berkedok dan berlindung di balik kamuflase kekuasaan, dan sebagainya.

Ia tak akan pernah berhenti.

 

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian WASPADA, Medan, Senin, 03/08/2015

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: