'nBASIS

Home » ARTIKEL » ALU-ALU TU OMPUNG SISINGAMANGARAJA

ALU-ALU TU OMPUNG SISINGAMANGARAJA

AKSES

  • 512,316 KALI

ARSIP


ssm
Alu-alu tu ompung Sisingamangaraja adalah judul status saya di fb pagi ini. Sebuah perenungan saja. Perenungan yang lazim bagi orang Batak memang tak hanya mendialogkan keluhannya kepada Tuhannya. Melainkan juga kepada leluhurnya dan orang-orang yang amat dihormati pada zaman dahulu kala.

Merdeka. Nilai terbesar yang saya fahami adalah “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”. Karena dibuat tak pernah berhak atas tanah sendiri, kita usirlah penjajah itu dengan pengorbanan darah.Kalau kini kita sudah makin sulit mendapatkan kehidupan di tanah sendiri karena munculnya penjajahan yang lebih kukuh dari sebelumnya, maka Indonesia dan bangsa Indonesia 100 % telah gagal.

Saya tak bisa mendengar dan menerima retorika mereka yang kerap menipu atas nama bangsa, negara dan tanah air. Bayangkanlah, sebagaimana disebutkan oleh seorang pemberi komentar untuk status saya tersebut di atas, banyak warga negara Indonesia yang tak sanggup menyanyiukan lagu Indonesia Raya karena sejengkal tanah pun ia tak memiliki.

Pagi ini, sebagai dampak “pertengkaran” saya dengan seseorang pragmatis, saya pun merenung. Renungan itu biasanya akan lebih baik dan lebih sempurna didialogkan dalam diri sendiri dengan bahas ibu. Begini:

Hami di Tano Batak. Adong do dua tolu uju i na gabe dongan ni Bolanda. Alai tong mudar ni Batak do na monang. Mangalo si Bontar mata i. Hulutu-lutu hami do asa maporus i sude.

Dang ala ni hata ni Soekarno. Dang panguluhonna umbahen hami marapi purun mangalo Bolanda i. Daong. Ai so pola ajaran ni halak hami halak Batak on marnegara. Dalihan Na Tolu i do guru nami, tarsongon nidok ni umpama, tungkot sialagundi na huihuthon hami sian pudi.

Godang do hami mate ditembahi Bolanda i. Godang muse do na gabe mabalu. Dakdanak na so marama, ala ni sangkap na laho mardeka i. Arga do bangso on. Arga do bona ni pinasa (bangsa dan tanah air).

Dang pola huboto hami aha lapatan ni mardeka on uju i. Ido kedan. Tutu do. Alai holan sada do na huantusi hami: “ikkon hita do suhut di hutanta”. Ala dang jampurut hita. Dang bangso sitalu-talu hita. Ai luat na asing pe taurupi do na mangalo Bolanda on uju i.

Hinorhon ni i ma sude gabe maradu humatop mangalap hamamate, pataruhon hosa, di parporangan uju i. Ummarga do hasangapon sian mudar di sude bangso Batak.

Ise do na olo mandok mauliate tu angka ompung na mate marporangi? Holan udean ni angka ompung on pe so haidaan sonnari.

Ompung Sisingamangaraja. Sahat ma bura-bura mi ompung, tu hami si laosi poda on. Tonggohon ma ompung. Tonggohon ma. Unang apala ronggur i ma manittakhon hami angka silaosi poda on. Tonggohon ma ompung.

Terjemahan:
PENGADUAN KEGUNDAHAN HATI KEPADA KAKEK SISINGAMANGARAJA

Kami di tanah Batak.
Dahulu ada juga yang berkolaborasio dengan kolonial Belanda
Namun darah Batak terbukti tetap menang
Melawan penjajah bermata putih itu.

Kami kejar dan kami usir mereka semua
Bukan karena instruksi Soekarno
Bukan titahnya yang mendorong kami berjibaku menentang Belanda
Bukan

Memang kami bangsa Batak tidak perlu diajari oleh siapa pun dalam bernegara
Guru kami adalah ajaran leluhur kami, dalihan na tolu, sebagaimana ditegaskan dalam pepatah lama, yang kami ikuti dengan setia

Tak terhitung syuhada yang ditembak mati oleh Belanda
Tak terhitung perempuan yang menjadi janda
Anak-anak yang kehilangan ayah, demi kemerdekaan bangsa

Kebangsaan adalah nilai tiada tara bagi bangsa Batak
Bangsa dan tanah air adalah nilai tiada tara

Sungguh, dahulu kala itu kami tak begitu faham makna kata merdeka.
Betul itu, nak
Benar itu
Tetapi satu hal yang sangat kami fahami: Kitalah tuan di negeri sendiri.
Kita bukan bangsa budak
Bukan bangsa yang bersedia menerima kekalahan
Bahkan negeri lain pun kita bantu untuk upaya mereka mengusir Belanda dari kampung halamannya

Karena itulah luar biasa pengorbanan, berlomba menjemput kematian, mengantar nyawa, dalam perang begitu dahsyat
Martabat, harkat dan harga diri jauh lebih mahal ketimbang darah dan jiwa raga, bagi seluruh bangsa Batak

Siapa kini yang berkenan berucap terimakasih kepada para syuhada?
Makam para syuhada itu pun kini tak jelas

Wahai pemimpin kami Sisingamangaraja
Kutuklah kami generasi penerus yang menyimpang dari ajaranmu
Kutuklah kami, wahai kakek
Kutuklah kami
Itu lebih mulia ketimbang nanti petir yang menyambar nyawa para penyeleweng
Kutuklah kami, kakek yang mulia.

Shohibul Anshor Siregar


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: