'nBASIS

Home » ARTIKEL » ELANTO WIJOYONO ITU PAHLAWAN

ELANTO WIJOYONO ITU PAHLAWAN

AKSES

  • 545,402 KALI

ARSIP


https://i2.wp.com/cdn-2.tstatic.net/tribunnews/foto/bank/images/moge-dihadang_1508_1_20150815_182543_20150815_195503.jpg http://cdn-2.tstatic.net/tribunnews/foto/bank/images/moge-dihadang_1508_1_20150815_182543_20150815_195503.jpg

Pekan ini cukup luas pemberitaan tentang seorang pesepeda yang dengan penuh keberanian berusaha menertibkan lalu-lintas di kotanya, Jogjakarta, saat konvoi sepeda motor besar (sepmosar) melintas. Ia mengingatkan dan setengah memaksa petuga kepolisian agar mematuhi UU Lalu Lintas.

Sebetulnya pada kejadian Rabu 15 Agustus 2015 di Simpang empat Condong Catur Depok, Jogjakarta ini, Elanto Wijjoyono (32) tidak sendirian. Ia bersama  Andika (19). Kemudian, seseorang pengendara motor berhenti yang sedang melintas memilih berhenti, dan mengikuti aksi ini (lihat video di sini).

Silang pendapat terjadi. Ada yang menyesalkan arogansi konvoi sepmosar, ada pula yang mengejek Elanto Wijoyono cs. Kapolri sendiri memberi pembelaan atas konvoi sepmosar dan tindakan anak-buahnya yang memberi keistimewaan kepada konvoi sepmosar itu. Penjelasannya lihat di sini.

Kapolri adalah hamba hukum dan dalam tugas terkedepan menjadi penegak hukum. Apa kata UU tentang kejadian ini? Marilah kita periksa.

(-) Pada paragraf 1 UU Nomor 22 Tahun 2009 disebutkan bahwa Pengguna Jalan yang Memperoleh Hak Utama adalah

a. Kendaraan pemadam kebakaran yang sedang melaksanakan tugas;
b. ambulans yang mengangkut orang sakit;
c. Kendaraan untuk memberikan pertolongan pada Kecelakaan Lalu Lintas;
d. Kendaraan pimpinan Lembaga Negara Republik Indonesia;
e. Kendaraan pimpinan dan pejabat negara asing serta lembaga internasional yang menjadi tamu negara;
f. iring-iringan pengantar jenazah; dan
g. konvoi dan/atau Kendaraan untuk kepentingan tertentu menurut pertimbangan petugas Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Pada penjelasan pasal 134 dalam UU ini dijelaskan sebagai berikut:

(-) Huruf a Cukup jelas
(-) Huruf b Cukup jelas
(-) Huruf c Cukup jelas
(-) Huruf d Cukup jelas
(-) Huruf e Cukup jelas
(-) Huruf f Cukup jelas
(-) Huruf g Yang dimaksud dengan “kepentingan tertentu” adalah kepentingan yang memerlukan penanganan segera, antara lain Kendaraan untuk penanganan ancaman bom, Kendaraan pengangkut pasukan, Kendaraan untuk penanganan huru-hara, dan Kendaraan untuk penanganan bencana alam.

Berarti argumen polisi bahwa konvoi moge yang mereka kawal, berhak diistimewakan, adalah bohong. Atau mereka sendiri tidak cukup faham tentang ketentuan UU.

Sebuah surat terbuka yang ditujukan kepada Kapolri menarik untuk dibaca, demikian bunyinya:

Terima Kasih pada Kapolri dan Pemilik Harley

Surat terbuka untuk Kapolri Jenderal Badroddin Haiti dan para pemilik Harley Davidson di Indonesia

Bapak Kapolri yang terhormat,

Sungguh senang saya membaca kabar di media sosial, ada ribuan penunggang Harley Davidson se-Indonesia berkumpul di Yogyakarta, 14-17 Agustus 2015 dalam rangka memeriahkan peringatan Hari Kemerdekaan ke-70 Republik Indonesia. Alangkah mulianya mereka, para pengusaha kaya raya, jenderal polisi dan TNI, baik yang masih aktif maupun yang sudah pensiunan.  Toh, mereka masih kaya dan bisa berbagi rejeki kepada rakyatnya Sri Sultan HB X.

Memang hanya isu, kok, bahwa ada encegatan terhadap konvoi Harley Davidson. Harley kan milik warga negara sangat terhormat. Mosok ada yang menolak kehadiran mereka…

Saya yakin, Pak Kapolri, andai tiga malam saja mereka menginap, sudah jutaan rupiah duit mereka dibelanjakan, baru untuk biaya kamar saja. Pasti, mereka orang-orang kaya nan terhormat itu, andai memilih kamar seharga Rp 750.000 per malam, sudah Rp 2.250.000 dibelanjakan. Jika dikalikan jumlah Harley Davidson, andaikan 1.000 saja, maka sudah ada dua milyar rupiah lebih yang dibelanjakan untuk kamar saja. Belum keperluan makan, minum, rokok, dan barangkali perlu sewa selangkangan perempuan  dan pantat lelaki (saya yakin, di antara penunggang motor gede, ada juga yang multiorientasi dalam perkara meng-happy-happy-kan jari tengah mereka).

Belum lagi kalau kita hitung jumlah mereka yang superkaya atau tidak mau repot. Pasti mereka juga akan membawa sopir pribadi yang mengangkut Harley dari kota asal mereka ke Yogyakarta. Sama dengan majikannya, mereka juga butuh kamar untuk beristirahat, mengurus perut supaya tetap fit dan siap sedia diperintah majikan, kapan saja.

Pak Kapolri, percayalah, ada trickle down effects dari perhelatan tiga hari mereka. Saya yakin, mereka yang kini bergembira merayakan kemerdekaan Indonesia, sengaja ingin berbagi rejeki, entah disadari atau tidak. Biarlah itu menjadi tugas kenabian mereka dan cara Tuhan menggerakkan sektor riil di Indonesia. Hotel pasti mempekerjakan tukang bersih-bersih hingga pengangkut sampah. Restoran tempat mereka singgah pun demikian juga. Mereka belanja bahan-bahan kebutuhan dari pasar, di mana terdapat mata rantai yang panjang di dalamnya. Ada kuli panggul, pedagang, pemasok, petani, makelar, preman pasar, dan masih banyak lagi.

Alangkah mulianya aksi mereka, Pak Kapolri…

Pak Badroddin Haiti yang budiman, sudilah Anda mengimbau Pak Komjen (Purn.) Nanan Sukarna, Ketua Umum Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) agar menggelar acara sejenis di berbagai kota. Jangan hanya Yogyakarta, namun juga Solo, Semarang, Surabaya, Malang, Bandung, Jakarta, Balikpapan, Samarinda, Jayapura, Banda Aceh, Medan, dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Ini demi bangsa, Pak Badroddin. Tetesan harta mereka pasti bermanfaat bagi rakyat.

Jangan dilihat peristiwa kumpul mereka di Yogyakarta dalam acara bertajuk Jogja Bike Rendezvous (JBR2015) hanya dinikmati orang Kota Yogya semata. Petani mBantul, tukang angkut sampah dari Wates dan pegawai hotel dari Wonosari, pasti kebagian cipratan rejeki. Para pengusaha persewaan selangkangan, pasti juga ikut panen, bangga bisa melayani kebutuhan sebagian dari manusia kaya. Padahal, yang dipekerjakannya berasal dari berbagai suku dan daerah di Indonesia. Dari sana pula, multikulturalisme terpraktekkan dengan baik. Itulah sebagian kecil makna Bhinneka Tunggal Ika.

Yang betul itu skrinsut yang berwarna hitam. Yang berlatar putih (kanan), pastilah isu. Wong penunggang Harley Davidson itu orangnya baik-baik, berhati mulia, dan sahabat para jenderal kok…. Ngawur itu kalau ada yang menuduh macem-macem…

Pak Badroddin, saya (mungkin juga sebagian rakyat di berbagai kota di Indonesia) sudah muak dengan hiburan di semua saluran televisi. Kami sudah muak melihat koruptor tampil di televisi, bercerita tentang kebaikan mereka untuk rakyat sambil tersenyum. Kami juga risih dengan aneka hiburan dan sinetron yang menceritakan kehidupan orang-orang kaya.

Berbeda dengan JBR2015, di jalanan kami bisa saksikan aksi gagah mereka, jalan beramai-ramai dengan kecepatan tinggi, menerabas lampu merah, da membuat banyak pengendara mobil dan sepeda motor menghentikan lajunya. Ketahuilah, Pak Kapolri, mereka itu benar-benar terhibur, dan gratis. Alangkah menyenangkannya bagi orang seperti saya, melihat polisi berseragam dan berkendaraan dinas dengan gagah mengawal di depan dan dibelakang konvoi ratusan motor gede. Kami senang, karena pasti mereka juga memperoleh tambahan uang makan, atau bagi yang hemat, bisa digunakan untuk biaya seolah anak-anak mereka.

Pak Kapolri, jika belakangan ini banyak anggota gank motor berbuat anarkis, janganlah itu dilihat sebagai efek kecemburuan sosial. Jangan pernah percaya analis politik, pengamat sosial atau kriminolog. Mereka pasti berbohong atau sedang hendak mengganggu pikiran Bapak Kapolri yang terhormat.

Basmilah mereka, Pak. Kerahkan Brimob dan reserse untuk menangkap dan menembaki mereka yang nekad kurang ajar dan tak mau diatur. Juga, tolong sapu bersih anggota klub-klub motor yang suka konvoi panjang saat touring,dengan perilaku semena-mena di jalan raya, menyuruh pengguna jalan lain menyingkir, mengalah demi laju kendaraan mereka. Saya tahu, mereka jelas ilegal. Mereka telah nekad menerabas lampu yang menyala merah tanpa sepengetahuan dan pengawalan resmi, anggota satuan lalulintas berseragam yang sangat mulia itu.

Melanggar rambu-rambu lalulintas oleh konvoi pengendara sepeda motor murahan, jelas tidak pantas dan tidak boleh dilakukan. Mereka hanya rakyat jelata yang meniru kelakuan orang kaya, padahal tidak memberi kontribusi apa-apa. Tidak ada multiplier effects yang signifikan bagi sebanyak mungkin orang. Kalaupun mereka lantas teriak bahwa motor mereka tidak bodong alias dipajaki, percayalah itu merupakan kalimat tendensius, yang menuduh motor gede sekelas Harley Davidson tidak memiliki kelengkapan surat-surat dan bukti pajak. Saya yakin, mereka tidak tahu apa-apa soal demikian. Karena itu, basmilah mereka.

Bapak Kapolri yang terhormat, percayalah, jika sering-sering digelar konvoi ribuan motor gede di banyak kota, syukur sepekan sekali secara bergantian, rakyat Indonesia pasti terhibur. Ada perputaran uang besar di sana. Ya, uang besar untuk rakyat kebanyakan, yang sejatinya hanya recehan bagi pemilik kendaraan seharga milyaran rupiah itu.

Andai terjadi salah paham, misalnya rakyat marah dan bertindak anarkis terhadap mereka karena dianggap berlaku norak dan semaunya di jalan raya, yakinilah itu sebagai amal jariyah orang-orang kaya untuk menciptakan perubahan di Indonesia. Percayalah, hukum tak bisa ditegakkan jika tak ada peristiwa yang menggugah kesadaran bersama seluruh bangsa Indonesia. Syukur jika di antara pengendara Harley Davidson itu ada yang mau melakukan tugas-tugas kenabian, menggugah kesadaran hukum rakyat Indonesia, misalnya secara sengaja menabrak penyeberang jalan, atau menendang pengguna jalan yang dianggap menghalangi laju sepeda motor bermesin besar yang ditungganggi warga negara nan terhormat itu.

Anggap saja, rakyat yang marah dan mungkin bertindak anarkis itu, karena mereka tidak sadar hukum. Anggap saja mereka tidak tahu tugas polisi lalulintas yang mengawal orang-orang terhormat pengendara Harley Davidson itu sama mulianya dengan mengawal rombongan presiden atau tamu resmi kenegaraan.

Pak Kapolri yang terhormat…

Andai yang demikian kelak benar-benar terjadi, jangan takut dan jangan merasa bersalah. Revolusi rakyat terhadap hukum justru muncul karena pperan orang-orang hebat dan mulia pemilik mtor gede itu. Revolusi demikian, jelas lebih konkret dibanding ajakan revolusi mental dari Pak Jokowi dulu, saat kampanye pemilihan presiden.

Demikian, Pak Kapolri dan para warga negara pemilik Harley Davidson yang terhormat. Tolong sesering mungkin Anda mendukung gelaran jambore, kumpulan atau konvoi dalam jumlah besar, atau apapun namanya. Percayalah kemuliaan sikap dan tindakan Anda semua. Seperti dikatakan Komjen (Purn.) Nanan Sukarna, bahwa “kehadiran para bikers ini untuk mengangkat pariwisata Yogya. Soal ada miskomunikasi kecil pasti terjadi,” itu benar adanya. Abaikan saja kebodohan rakyat yang memang tidak mengerti makna pengibaran 70 bendera merah-putih di Candi Prambanan oleh para bikers, para pengendara Harley Davidson itu.

Demikian surat saya untuk Pak Kapolri, Pak Nanan dan para warga terhormat Negara Kesatuan Republik Indonesia pemilik Harley Davidson, yang sudah mengangkat citra pariwisata Yogyakarta dan membagikan sebagian rejeki mereka kepada warga miskin di Yogyakarta dan seluruh penjuru Nusantara. Semoga tidur Anda nyenyak, dan semua amal ibadahnya diterima oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: