'nBASIS

Home » ARTIKEL » S A R U N G

S A R U N G

AKSES

  • 535,471 KALI

ARSIP


sarung

Pagi ini tetangga menyapa saya dengan sebuah pertanyaan, saat saya memeriksa olie mesin mobil dan air baterei. Ini bukan kebiasaan sehari-hari. Kebetulan ada famili yang ingin meminjam mobil untuk ber 17-an. Saya periksa dulu agar mereka nyaman. Inilah dialog dengan tetangga yang menyapa itu:

Tetangga: Tak biasanya Anda pakai sarung. Ada apa gerangan?

Saya: Ini 17 Agustus. Saya ingin betul-betul mengenang sejarah perjuangan bangsa, tidak dengan cara militer.

Tetangga: Maksud Anda?

Saya: Sarung ini simbol perlawanan atas semua kebathilan.

Tetangga: Maksud Anda?

Saya: Sudah terbukti untuk setiap era

Tetangga: Maksud Anda?

Saya: Sarung adalah simbol perlawanan terhadap kolonial. Dengan sarung diusir mereka dari sini. Soekarno dan Hatta beserta yang lain boleh memakai jas dan dasi saat atas nama seluruh bangsa Indonesia memproklamirkan Indonesia 17 Agustus 1945. Sebetulnya itu menafikan kebudayaan nasional mereka. Tetapi itu tak bisa membantah bahwa di belakang mereka, kekuatan dahsyat yang selalu ada di garda terdepan membela Indonesia, adalah kekuatan bersimbol sarung ini.

Tetangga: Oh, begitu?

Saya: Setiap era, kawan. Setiap era. Pada pemberontakan PKI sarung ini jugalah yang lebih dahulu ingin mereka hancurkan. Pada zaman Orde Baru, fitnah terhadap sarung inilah yang lebih dahulu diintensifkan. Zaman siapa lagi?

Tetangga: Oh, begitunya?

Saya: Kini pun, kekuatan bersimbol sarung ini jugalah yang lebih dahulu harus dilumpuhkan. Kekuatan bersimbol sarung ini kelihatannya harus disingkirkan, dibuat malu terhadap identitas sendiri, agar mudah digulung.

Tetangga; Oh, begitunya?

Saya: Pulang kau ke rumah. Makan kau banyak-banyak. Nonton tv, saksikan gerakan-gerakan robotik berderap-deru yang memukau. Dari tadi kau cuma oh oh oh.

Tetangga: Kita lanjutkan dulu pembahasan ini. Baru kali ini saya mendapat cerita penting seperti ini.

Saya: Gak, pulang kau. Saya harus bergegas. Saya akan pergi bersarung ke Lapangan Merdeka. Setelah itu akan menjadi pembicara dalam sebuah dialog penting tentang Kemerdekaan. Kecuali kau mau jadi supir saya satu hari ini, ayo siap-siap kau.

Tetangga: Kalau begitu saya pulanglah. Terimakasih.

Dirgahayu Kemerdekaan Indonesia ke #70. Jayalah selalu dan waspada

Shohibul Anshor Siregar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: