'nBASIS

Home » ARTIKEL » PELAJARAN

PELAJARAN

AKSES

  • 535,235 KALI

ARSIP


kaleidoskope

  • Inilah Indonesia, yang mestinya pastilah mencerminkan keseluruhan. Akan ditemukan fakta yang sama parahnya dengan Sumut, atau beda tipis, jika diberi perlakuan (penegakan hukum) yang sama. Lalu mengapa Sumut menjadi lain?
  • Sekarang saya sangat ingin menyebut sebuah kosa kata yang sudah lama hilang dari Sumatera Utara, yakni: “ksatria”.
    Anda berpendapat apa?

Tengku Erry Nuradi hadir dan berbicara pada Halal bi Halal Masyarakat Melayu Sumatera Utara yang dilaksanakan di sebuah kampus di Medan, Jumat pekan lalu (14/8/2015). Usai menerima tepungtawar dan penyematan tekuluk (topi khas Melayu) bersama Pangkostrad Edy Rahmayadi dan Dzulmi Eldin, ia pun menegaskan kepada seluruh masyarakat untuk mengikuti aturan yang berlaku dan menghindari praktik Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN).

Mengingat Syamsul Arifin dan Gatot Pujonugroho adalah dua Gubernur Sumut yang memiliki cacatan buruk, maka dalam sambutannya Tengku Erry Nuradi pun mengingatkan “Jangan sampai masuk 3 kali pada lubang yang sama. Karena itu, tolong, jangan paksa kami melakukan KKN. Ini saatnya kita menegakkan aturan”. Acara ini juga dihadiri Pertubuhan Peribumi Perkasa Malaysia H Marzuky, Sultan Kualu Johar Arifin HuseIn, serta sejumlah tokoh Melayu lainnya.

Gantian Tenggelam. Kalimat Tengku Erry Nuradi sangat jelas: “Jangan sampai masuk 3 kali pada lubang yang sama”. Gatot Pujo Nugroho sudah berada pada posisi tersangka dan ditahan (oleh KPK). Mendagri pun menunjuk Tengku Erry Nuradi sebagai Pelaksana Tugas (Plt) Gubsu agar tidak terjadi kekosongan penyelenggaraan pemerintahan. Sebagaimana diketahui, sebelumnya, Gubsu Syamsul Arifin dipermasalahkan dan mengalami nasib buruk bukan oleh kinerja sebagai Gubsu, melainkan sebagai Bupati di Langkat selama dua periode (sebelum menjabat gubsu). Ia pun sudah selesai menjalani hukuman dan kini mulai aktif dalam kegiatan sosial di tengah masyarakat.

Kalimat Tengku Erry Nuradi “Jangan sampai masuk 3 kali pada lubang yang sama”, benar-benar memiliki makna khusus dan mendalam. Suka atau tidak suka, sebagian masyarakat juga cenderung melihatnya sebagai sebuah ketidak-pastian nasib Sumut ke depan. Dugaan-dugaan buruk itu cukup beralasan, karena selain karena kasus beruntun di Sumut, dalam kasus kota Medan misalnya kejadian yang sebelumnya tak terbayangkan pun pernah terjadi (Walikota dan Wakil sama-sama mendapat hukuman).

Kalimat Tengku Erry Nuradi “Jangan sampai masuk 3 kali pada lubang yang sama” memang berusaha melihat ke depan, bukan ke masa lalu, apa lagi dengan menambahkan: “Kalau sayang kepada kami…., tolong juga jaga kami jangan sampai kami melakukan KKN. Ingatkan kami jika melakukan kekeliruan dalam memimpin. Jangan mendorong kami melakukan aturan yang tidak dibenarkan”. Tentulah itu sebuah harapan yang sangat baik.

Magic words pasangan Gatot Pujonugroho dan Tengku Erry Nuradi saat kampanye pilgubsu 2013 cukup menarik: “Ganteng”. Erotis memang. Simple dan mudah diingat. Juga sedikit memaksa untuk membandingkan postur dan perwajahan semua pasangan yang berkompetisi merebut kemenangan pada waktu itu. Tetapi belakangan di tengah masyarakat, ganteng itu kini sudah berubah menjadi “gantian tenggelam”.

Makin lama makin banyak pula orang yang menyukai plesetan ini. Hal ini terutama jika dikaitkan dengan permintaan Gatot Pujo Nugroho yang mengundang tanya besar di tengah masyarakat. Ia menginginkan kasusnya ditarik ke KPK (dari Kejaksaan). Terutama jika dikaitkan dengan pengelolaan negara berbasis solidaritas kepartaian yang merebak saat ini, semua orang pun tahu arah dan maksud permintaan Gatot Pujo Nugroho. Intensitas KPK melakukan penggeledahan di sejumlah tempat di kota Medan, harus dibayangkan juga dilakukan dengan teknik dan pendekatan yang berbeda oleh KPK dan Kejaksaan di seluruh Kabupaten/Kota se-Sumatera Utara. Semua itu semakin menunjukkan sasaran dan target besar dan menyeluruh. Mudah-mudahan saja Tengku Erry Nuradi tidak ada dalam peta sasaran dan target besar dan menyeluruh itu agar plesetan magic words “gantian tenggelam” itu tak mereplikasi kejadian di kota Medan periode lalu.

Melihat Ke Depan. Sesungguhnya saya tak suka plesetan Gantian Tenggelam. Ganteng ya ganteng. Sempurna (walau hanya) secara fisik. Titik. Tetapi tak dapat dibantah bahwa dalam dua kejadian terakhir di Sumut, selalu diawali oleh disharmoni antara Gubsu dan Wagubsu. Ketika yang satu menggantikan yang lain selalu pula tak terhindari adanya semangat “ketiban durian runtuh” atau “semangat makan pisang bakubak”. Apa boleh buat. Itulah faktanya. Syamsul Arifin bermasalah, lalu Gatot Pujo Nugroho menjadi Plt dan pada gilirannya ditetapkan menjadi Gubsu. Dapat dibayangkan bahwa dalam era politik transaksi sekarang ini betapa besar pengorbanan seseorang untuk mencapai kedudukan menjadi gubernur. Itu berlaku di seluruh Indonesia. Posisi petahana setelah menjadi Plt yang berakhir dengan penetapan sebagai gubernur adalah sangat menguntungkan untuk seluruh pengalaman suksesi di Indonesia. Tak salah disebut semangat “ketiban durian runtuh” atau “makan pisang bakubak”.

Tetapi di luar itu, marilah kita melihat ke depan saja. Sebaiknya Tengku Erry Nuradi diundang untuk menelaah ulang dokumen resmi visi dan misi pemerintahan Sumut 2013-2018 agar sadar betul arah yang akan ditempuh. Visi pembangunan Sumut Tahun 2013–2018 adalah “menjadi provinsi yang berdaya saing menuju Sumut Sejahtera”. Dalam penjelasan resmi disebutkan bahwa “Berdaya Saing” adalah kondisi perekonomian dan sosial kemasyarakatan berada di atas capaian nasional yang memiliki nilai tambah ekonomi dan mampu berkompetisi dengan memanfaatkan sumber daya, ilmu pengetahuan dan teknologi secara optimal. “Sejahtera” dimaknai sebagai kondisi yang menunjukkan masyarakat Sumatera Utara dengan pendapatan perkapita riil yang lebih baik dari nasional dengan penurunan kesenjangan tingkat pendapatan.

Berdasarkan visi tersebut di atas, misi pemerintahan Sumut 2013-3018 adalah: pertama, membangun reformasi birokrasi secara berkelanjutan guna mewujudkan tatakelola pemerintahan yang baik dan bersih (good governance and clean government). Kedua, membangun sumber daya manusia yang memiliki integritas dalam berbangsa dan bernegara, religius dan berkompetensi tinggi. Ketiga, membangun dan meningkatkan kualitas infrastruktur daerah untuk menunjang kegiatan ekonomi melalui kerjasama antar daerah, swasta, regional dan internasional. Keempat, meningkatkan kualitas standar hidup layak, kesetaraan dan keadilan serta mengurangi ketimpangan antar wilayah. Kelima, membangun dan mengembangkan ekonomi daerah melalui pengelolaan sumberdaya alam lestari berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Sebaiknya Tengku Erry Nuradi segera mengmpulkan seluruh SKPD, Kepala Badan dan seluruh unit kerja. Bincangkan dengan serius visi dan misi ini. Evaluasi keberhasilan dan kegagalan, lalu tentukan langkah konkrit untuk keluar dari permasalahan. Biarkan lembaga penegak hukum bekerja memenuhi panggilan tugasnya.

Selain itu, sebagai pemacu, ada baiknya Tengku Erry Nuradi mencermati catatan tentang para pemimpin masa lalu di Sumut dan membutiri prestasi mereka yang sukar tertandingi. Saat perang kemerdekaan berkecamuk, SM Amin diangkat sebagai Gubernur Muda Sumatera Utara pada 14 April 1947 oleh Gubernur Sumatera Utara Mr Teuku Muhamad Hasan. Inilah yang kelak dipandang sebagai cikal-bakal pemerintahan provinsi Sumatera Utara. Berhasil memertahankan kemerdekaan Indonesia di Pematangsiantar, Presiden RI Ir Soekarno lalu mengangkat SM Amin menjadi Gubernur Sumatera Utara secara penuh pada 19 Juni 1948. SM Amin Nasution memimpin Sumut 3 kali dalam pertikaian politik dan bersenjata yang luar biasa sulitnya pada awal republik dikonstruksikan. Berbeda dengan tokoh pemerintahan masa kini, SM Amin adalah seorang yang menilai penting menebar pemikiran kepada masyarakat luas melalui sejumlah bukunya.

Abdul Hakim Harahap membawa PON III untuk diselenggarakan di Medan. Untuk itu dibangunlah Stadion Teladan. Siapa di antara kita kini yang mampu merawat, misalnya mengecet dengan bagus dan menatanya selayak mungkin? Abdul Hakim membangun wilayah eksklusif Medan Baru sebelum kita kenal pemukiman-pemukiman elit yang sekarang. Abdul Hakim mensponsori pendirian USU yang menjadi kebanggaan dan sekaligus penggemblengan kader-kader bangsa.

Marah Halim Harahap kini masih hidup dan tinggal di Jalan STM Medan. Ia merintis upaya pembangunan olahraga sepakbola modern Indonesia dan memasarkannya melalui Marah Halim Cup. Event itu selalu dihadiri oleh kesebelasan-kesebelasan luar negeri. Ia membangun jalan dengan jaminan hanya boleh mulai rusak setelah 25 tahun. Bayangkan. EWP Tambunan itu orang yang beroleh ejekan sinis karena mengembalikan (ke pusat) setiap anggaran yang tidak habis digunakan. Sekarang pola penghabisan anggaran dengan berbagai kegiatan yang tak masuk akal direstui bersama oleh eksekutif, legislatif dan judikatif berikut seluruh komponen penegakan hukum yang ada, baik di pusat maupun di daerah. Semua tahu kegiatan menghabiskan anggaran menjelang akhir tahun anggaran itu hanya modus pencurian uang Negara, tetapi malah tetap saja disenangi.

Raja Inal Siregar, seorang penggebrak. Dulu ada pejabat yang menyebut bahwa Martabe itu adalah akronim (singkatan) dari Markisa Terong Belanda. Baginya Martabe adalah sejenis minuman khas berupa juice. Martabe (marsipature Huta Na Be) yang juga diadopsi dalam berbagai bahasa lokal di Sumut (Karo misalnya menyebut Pesikap Kuta Kemulihenta) dicanangkan di Tanjung Ibus (Langkat, 1981) kurang lebih sebagai sebuah reaksi politik dan bentuk ketak-sabaran atas pergiliran jatah berdasarkan sistem politik pembangunan nasional yang tak adil. Martabe adalah sebuah perlawanan untuk kepentingan pembangunan ekonomi kerakyatan, sebagaimana pada waktu sebelumnya ada juga program yang mirip diberinama Maduma (bhs Tapanuli, makin sejahtera).

Kelima gubernur Sumut itu rasanya sukar tergantikan. Jejak mereka yang penuh catatan prestasi yang melekat pada sejarah, berguna untuk orang kemudian, apalagi penguasanya. Itu jika mereka ingin belajar. Sekarang saya sangat ingin menyebut sebuah kosa kata yang sudah lama hilang dari Sumatera Utara, yakni: “ksatria”. Anda berpendapat apa? Terimakasih.

Penutup. Pelajaran dari Sumut sangat berharga untuk daerah ini dan untuk Indonesia. Saya berpendapat bahwa kasus Sumut adalah cerminan kerusakan sistemik yang sama sekali tidak khas daerah ini. Jika ada kesediaan nasional, intensitas perhatian dalam penegakan hukum yang sama diperkirakan akan menghasilkan hal yang sama untuk hampir seluruh daerah, karena memang temuan kasus Sumut adalah penyakit kronis Indonesia sejak lama. Struktur kekuasaan politik dan hukum serta ketajaman pengawasan yang wajib direvitalisasi untuk meretas kerusakan sistemik yang sangat parah ini tak selalu hadir dalam implementasi yang baik dan benar.

Sebagaimana luas terdengar, kini orang lebih ringan mengatakan bahwa semua kebobrokan ini adalah kinerja khas Gatot Pujo Nugroho an sich. Tetapi harus pula diingat bahwa dalam UU APBD bukanlah buatan sepihak aksekutif, APBD pun tidak boleh dijalankan sebelum mendapat persetujuan Kemendagri, lembaga pengawasan internal dan eksternal sudah melekat pada struktur pemerintahan dan seyogyanya selalu cermat dan siaga. Semua lembaga penegak hukum termasuk yang memiliki posisi dan tugas pokok memberi pengawasan, tak terkecuali BPK sebagai akuntan resmi negara, juga mestinya tak berdiam diri dan tak merasa berkesempatan untuk melepas tanggungjawab.

Inilah Indonesia, yang mestinya pastilah mencerminkan keseluruhan. Akan ditemukan fakta yang sama parahnya dengan Sumut, atau beda tipis, jika diberi perlakuan (penegakan hukum) yang sama. Lalu mengapa Sumut menjadi lain?

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh Harian Waspada, Medan, Kamis, 20 Agustus 2015, hlm B 6.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: