'nBASIS

Home » ARTIKEL » BANGSA PISANG OR REPUBLIK PISANG

BANGSA PISANG OR REPUBLIK PISANG

AKSES

  • 512,201 KALI

ARSIP


http://tse4.mm.bing.net/th?id=OIP.M183355a0f5ca3905254ab9f029153ff3H0&pid=15.1&P=0&w=300&h=300 http://tse4.mm.bing.net/th?id=OIP.M183355a0f5ca3905254ab9f029153ff3H0&pid=15.1&P=0&w=300&h=300

Sofjan Wanandi, Ketua Tim Ahli Wakil Presiden RI JK, belum lama ini mengeluarkan pernyataan yang menyengat. Ia menyebut Indonesia Bangsa Pisang. Banyak yang protes. Salah satunya ialah mantan Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, La Ode Ida. Dengan keras ia menuntut Sofjan Wanandi meminta maaf.

Baginya, pernyataan itu tidak etis. Bangsa Indonesia disebut bangsa pisang. Serendah itukah? Kemudian La Ode Ida pun bertanya: “bukankah Sofjan Wanandi jadi salah satu penikmat dan pengeksploitasi kekayaan alam bangsa ini melalui jalur bisnis pribadi dan kelompoknya dan sebagian uangnya diinvestasikan di luar negeri?” La Ode Ida melihat sudah begitu jauh Sofjan Wanandi melecehkan pribumi di nusantara ini.

La Ode Ida melihat Sofjan merasa terganggu ketika Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli mengoreksi kebijakan power plan 35 ribu MW sambil menuduh kemungkinan Sofjan Wanandi mempunyai kepentingan atau bahkan jadi bagian dari bisnis pribadi dan kelompoknya. Menurut La Ode Ida, Rizal Ramli tentu tidak asal omong dan punya visi uang negara bukan sembarang dihamburkan untuk bisnis sekelompok orang seperti 35 ribu MW.

Republik pisang. Mengapa La Ode Ida begitu tersinggung? Saya kira ia pasti tahu istilah lain yang kerap dipertukarkan (bangsa pisang atau republik pisang) yang konon diciptakan awal abad 20 oleh seorang penulis berkebangsaan Amerika Serikat bernama O.Henry. Meski pun dikenal dalam penggunaan lain, sejatinya istilah republik pisang itu adalah istilah dalam ilmu politik yang sebetulnya dimaksudkan untuk menunjuk suatu negara yang kondisi politiknya tidak stabil dan ekonominya sangat bergantung pada ekspor sumber daya yang begitu terbatas, misalnya komoditas pisang.

Dalam berbagai sumber dijelaskan bahwa negara seperti ini biasanya memiliki kelas sosial bertingkat yang meliputi kelas pekerja miskin yang besar dan plutokrasi elit bisnis, politik, dan militer yang berkuasa. Ini menjadi mirip sekali dengan keadaan Indonesia kontemporer. Negara yang meski sudah 70 tahun merdeka dari negara kolonial Belanda tetapi masih kental dengan ciri khas republik pisang karena politiknya dipengaruhi kuat oleh perusahaan swasta besar dan boleh jadi tak mungkin dibantah bahwa setiap keterorbitan penguasanya tidak mungkin tanpa restu pengendali kekayaan paling berpengaruh. Kekuasaan bahkan menjadi alat untuk pengabadian status istimewa para penguasa ekonomi. Bagaimana membantah fakta adanya oligarki politik-ekonomi yang menjadi pengendali produksi primer agar bisa mengeksploitasi ekonomi negara? Semakin dapatlah difahami kemarahan La Ode Ida.

Diketahui bahwa sejak zaman dahulu kala ukuran kekayaan (materi atau kebendaan) memang adalah salah satu faktor terkuat yang lazimnya digunakan untuk penentuan strata sosial. Tentu semua orang di Indonesia tahu siapa yang berada dalam kelas ini dan bagaimana mereka dapat merebut, menguasai dan terus-menerus bertahan dalam kelas paling istimewa itu. Mereka tinggal tersendiri di pemukiman mewah dengan kebudayaan tersendiri serta perasaan superior dibanding warga negara yang lain. Jarang orang memikirkannya secara serius bahwa mereka memiliki pengaruh luar biasa dan selalu menjadi rujukan untuk setiap penentuan kebijakan negara untuk tak mengatakan bahwa negara dengan segenap sumberdayanya sebetulnya adalah milik mereka sepihak. Selain ukuran kekayaan, ukuran kekuasaan dan wewenang adalah faktor penentuan seseorang dalam strata di tengah masyarakat.

Meskipun selamanya tak selalu masuk akal, seseorang yang mempunyai kekuasaan atau wewenang paling besar dianggap akan sangat pantas menempati lapisan teratas dalam sistem pelapisan sosial dalam masyarakat karena selain menjadi penguasa ia juga selalu menjadi pengusaha dan menjadi kaya pula. Para tokoh politik dan tokoh lainnya (militer dan kepolisian) di indonesia hingga kini masih menampilkan gambaran seperti itu. Lembaga-lembaga pengawasan dan penegak hukum tidak pernah memaksudkan penyelesaian kasus bahkan tuduhan pun dianggap tak pantas terhadap mereka, karena kedudukan mereka itu sangat istimewa. Kekayaan mereka tak perlu dipertanyakan asalnya dari mana, meski sangat tak masuk akal.

Ada faktor lain, yakni ukuran kehormatan, yang umumnya ikut menentukan posisi seseorang dalam strata sosial yang ada di tengah masyarakat. Tetapi, untuk kondisi ekstrim Indonesia dengan segenap catatan sejarah dan fragmentasinya, kehormatan yang didasarkan kepada rujukan nilai tidaklah begitu bermakna di hadapan ukuran-ukuran kekayaan atau kekuasaan.

Kini pergeseran sudah begitu jauh, bahwa orang yang disegani atau dihormati tidak akan beroleh tempat dalam sistem strata sosial masyarakat karena faktanya kekuasaan uang pun bisa dan sudah terbukti menjungkir-balikkkan negara dan ideologinya. Ukuran kehormatan kini tinggal menjadi catatan tersisa di tengah masyarakat tradisional yang tak memiliki pengaruh terhadap negara-bangsa, termasuk ukuran ilmu pengetahuan. Penguasaan ilmu pengetahuan dan perolehan gelar-gelar akademik semakin hari semakin dihadapkan kepada krisis. Ini disebabkan kebijakan negara yang politiknya selalu menginginkan legitimasi para akademisi untuk siatuasinya paling buruk sekalipun dan itu tak menjadi hal yang begitu aneh bagi sejumlah ilmuan terutama dari kawasan ilmu sosial. Pantaslah La Ode Ida begitu geram kepada Sofjan Wanandi yang menuduh Indonesia bangsa pisang.

Sebagai perbandingan kasus, bahwa pada tanggal 14 Mei 1986 tercatat Menteri Keuangan Australia Paul Keating menyatakan bahwa Australia berpotensi menjadi republik pisang. Indonesia kerap disebut negara gagal (failed country) dengan menunjukkan berbagai kriteria umum yang berlaku. Tetapi pemerintah pun tahu bagaimana cara membantah itu, antara lain dengan merubah asumsi dan ukuran miskin dan mendayagunakan kekuatan media mainstream untuk memanipulasi opini rakyat.

Penutup. Di lapangan bolakaki perasaan rasialis penonton kerap diekspresikan dengan melemparkan pisang kepada pemain dari bangsa tertentu yang melakukan kesalahan. Ada yang tak sanggup menerima perlakuan itu dan lantas memberi reaksi keras. Tetapi ada pula yang langsung memakan pisang yang dilemparkan, pertanda ia tak begitu peduli (lagi) diejek dan direndahkan setara monyet.

Memang belahan dunia dengan masyarakat yang mengklaim dirinya paling beradab di dunia ini pun hingga kini masih kerap terbentur dengan masalah kesetaraan dan HAM. Jejak dan sejarah hitam tindas-menindas pada masa lalu tidak mudah dilupakan, apalagi kepentingan hegemoni memang selalu terbukti tetap memerlukan resep rasilistik untuk kelanggengannya. Indonesia memang tak mau berubah meski sudah 70 tahun merdeka dan secara berkala melakukan suksesi kepemimpinannya tanpa hasil yang menggembirakan bagi kesejhateraan.

Satu hal yang kini semakin memanas dalam politik Indonesia kontemporer ialah pergulatan saling mengalahkan di antara kekuatan-kekuatan yang memperebutkan kewenangan mengelola kekayaan negara. Kelompok-kelompok itu kini saling cakar, di eksekutif, di legislatif maupun di dunia usaha. Reshuffle kabinet yang digembar-gemborkan tak menjanjikan apa pun. Orang hanya sekadar ingin mencari pentas, tak ubahnya seorang gadis belia yang kemana-mana membawa tongkat camera untuk mengabadikan event-event narsistiknya.

Saya kira ini penjelasan yang memadai untuk pertanyaan mengapa tiada harapan perubahan, dari rezim yang sekarang, untuk Indonesia. Rakyat miskin akan terus bertambah dan bagi stabilitas politik di sebuah negara yang kenyang dengan gertakan dan intimidasi, tak ada yang mesti dikhawatirkan oleh rezim berkuasa sama sekali. Karena ditakut-takuti dengan istilah revolusi mental saja rakyat sudah lebih bersedia menahankan penderitaan ketimbang berfikir mengunjuk-rasai pemerintah.

Shohibul Anshor Siregar. Naskah ini pertamakali diterbitkan oleh harian WASPADA, Medan, Senin, 14 September 2015, hlm B7


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: